<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PENDAPA Cyber Media &#124; Situs Berita Kampus UST Yogyakarta &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://lpmpendapa.com/category/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lpmpendapa.com</link>
	<description>Inilah Situs berita Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) PENDAPA Tamansiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 08:59:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Bagaimana-kah Seharusnya Ospek Itu?</title>
		<link>http://lpmpendapa.com/2011/10/12/bagaimana-kah-seharusnya-ospek-itu/</link>
		<comments>http://lpmpendapa.com/2011/10/12/bagaimana-kah-seharusnya-ospek-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 07:12:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tikha Novita Sari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmpendapa.com/?p=562</guid>
		<description><![CDATA[Ospek, orientasi study dan pengenalan lingkungan kampus adalah suatu acara yang diadakan oleh pihak kampus... <a class="meta-more" href="http://lpmpendapa.com/2011/10/12/bagaimana-kah-seharusnya-ospek-itu/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ospek, orientasi <em>study</em> dan pengenalan lingkungan kampus adalah suatu acara yang diadakan oleh pihak kampus untuk menyambut mahasiswa baru. Mahasiswa baru masuk  sebagai anggota baru dari keluarga besar akademika. Maka dari itu, ospek dapat dikatakan sebagai suatu momen untuk menyambut sekaligus memperkenalkan lingkungan baru kepada mahasiswa baru. Namun, kebanyakan orang menilai ospek selalu berkaitan dengan hal negatif. Contoh, terkadang orang termasuk mahasiswa baru berfikir, ospek sebagai ajang balas dendam senior kepada juniornya sehingga dipenuhi oleh tindakan-tindakan kasar. Begitu juga pemberitaan media massa. Setiap tahunnya menceritakan bentuk-bentuk kekerasan selama ospek.</p>
<p>Dengan adanya suatu anggapan bahwa kegiatan ospek selalu dipenuhi oleh kekerasan baik fisik maupun mental, maka hal tersebut dapat melahirkan suatu pandangan bahwa ospek tidak lebih dari ajang balas dendam. Jika dulu para senior merasakan penderitaan, maka kini mereka membalaskan rasa sakit hatinya kepada junior yang baru masuk.<br />
Sesuai namanya, ospek haruslah merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengenalkan dan mengorientasikan mahasiswa baru kepada lingkungan dan kehidupan kampus. Menambah wawasan maba dalam menggunakan sarana akademik yang tersedia di kampus. Mempersiapkan maba agar mampu belajar di perguruan tinggi serta mematuhi peraturan dan norma yang berlaku. Selain itu juga menumbuhkan rasa persaudaraan di kalangan civitas akademika. Maka segala kegiatan yang akan dilakukan saat ospek bertujuan dan memberikan manfaat positif kepada mahasiswa baru</p>
<p>Segala tugas dan perintah dari senior wajib dilakukan maba selama ospek, dengan catatan bahwa tugas dan perintah tersebut dapat memberikan manfaat positif, pengetahuan baru kepada maba. Jangan sampai maba melakukan sesuatu hal yang bersifat sia-sia, bahkan menjatuhkan diri mereka dihadapan seniornya.<br />
Dalam pemberian tugas dan perintah kepada maba perlu dipikirkan dengan baik. Contohnya dalam penugasan pembuatan barang-barang tertentu. Menurut saya hal tersebut  bagus untuk melatih kreativitas maba, namun jangan mensyaratkan bahan yang harus dibeli, susah dicari dan mahal harganya. Karena hal tersebut dapat menciptakan budaya konsumtif yang tidak ada manfaatnya. Apabila maba disuruh mencari bahan-bahan yang alami dan ramah lingkungan. Dari bahan yang alami tersebut maba ditugaskan membuat suatu barang yang kreatif dan bermanfaat.</p>
<p>Dengan demikian Maba tidak perlu kewalahan mencari bahan ospek yang susah didapat. Justru dengan mencari bahan-bahan yang ada di lingkunagn sekitar diharapkan akan menumbuhkan kesadaran para maba terhadap lingkungan dan menumbuhkan jiwa sosial mereka.  Kita dapat memberikan tugas setiap maba untuk membawa sedikit barang sembako yang kemudian dapat digunakan untuk kepentingan sosial seperti baksos. Sehingga jelas nilai manfaat yang terkandung dalam kegiatan OSPEK.<br />
Jadi, ospek yang baik adalah kegiatan, yang sesuai tujuan dan fungsinya. Dengan begitu mereka paham seperti apa kondisi kampus tempat mereka akan kuliah nanti. Mereka perlu dibekali dengan pengetahuan dan kedekatan terhadap almamater untuk menumbuhkan jiwa kemahasiswaan yang baik dan rasa sebagai bagian dari keluarga besar akademika.</p>
<p>Kedepannya, semoga ospek dapat dimaksimalkan sebagai kesempatan untuk saling belajar menjadi diri yang lebih baik. Baik bagi pesertanya maupun bagi panitianya. Agar apa yang sudah diluangkan untuk kegiatan ospek ini dapat membawa manfaat. Selamat dan sukses bagi adik-adik mahasiswa baru. Selamat datang didunia penuh tantangan. Semoga perguruan tinggi dapat menjadi perantara untuk menjadi generasi penerus bangsa yang lebih berkualitas dan bermartabat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lpmpendapa.com/2011/10/12/bagaimana-kah-seharusnya-ospek-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PTS Perlu Diperhitungkan</title>
		<link>http://lpmpendapa.com/2011/07/12/pts-perlu-diperhitungkan/</link>
		<comments>http://lpmpendapa.com/2011/07/12/pts-perlu-diperhitungkan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jul 2011 03:12:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Resti Hardini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmpendapa.com/?p=309</guid>
		<description><![CDATA[Setiap tahunnya perguruan tinggi di seluruh Indonesia mencetak sarjana, tak terkecuali Perguruan Tinggi Swasta (PTS).... <a class="meta-more" href="http://lpmpendapa.com/2011/07/12/pts-perlu-diperhitungkan/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap tahunnya perguruan tinggi di seluruh Indonesia mencetak sarjana, tak terkecuali Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Selalu ada rumor yang beredar bahwa lulusan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) lebih berkualitas daripada lulusan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Prespektif semacam itu perlu dibenahi, karena memang perlu disadari bahwa tidak semua PTN memproduksi lulusan berkualitas unggulan. Namun PTN sudah mendapat label ‘berkualitas’ dari masyarakat.</p>
<p>Akar dari label tersebut berasal dari sistem penyaringan untuk masuk PTN yang lebih berprosedur seperti SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jalur undangan, SNMPTN jalur tulis, dan seleksi mandiri. Tak dapat dipungkiri bahwa untuk bisa lolos seleksi masuk PTN baik secara nasional maupun regional tidaklah mudah. Hanya sedikit yang bisa lolos seleksi tersebut terutama seleksi secara nasional, hal itu disebabkan kuota yang terbatas.</p>
<p>Minimnya alokasi dana dari pemerintah mengakibatkan universitas negeri nekat mengadakan seleksi mandiri dengan mengusung persyaratan uang pangkal melangit. Sedangkan PTS lebih longgar dalam menyaring calon mahsiswa baru. Tentu hal tersebut menjadi pertimbangan sendiri bagi sebagian masyarakat bahwa kualitas mahasiswa yang tersaring masuk PTS di bawah standar PTN. Pada kenyataannya mahasiswa yang berhasil masuk PTS belum tentu memiliki kualitas di bawah mahasiswa PTN.</p>
<p>Faktor akademis bukanlah satu-satunya tolak ukur seleksi PTN, tapi juga tahun lulusan dari SMA (Sekolah Menengah Atas) dibatasi hanya sampai dua tahun untuk jalur SNMPTN, dan tiga tahun untuk seleksi mandiri. Untuk beberapa mahasiswa yang tidak masuk kriteria tahun lulusan sesuai ketentuan tersebut, tentu lebih memilih PTS.</p>
<p>Obsesi akan label ‘Perguruan Tinggi Negeri’ tak membuat calon mahasiswa mengurungkan niatnya sekalipun penetapan uang pangkal yang tak jauh mahalnya dengan PTS. Perasaan bangga merupakan indikator untuk meneruskan langkahnya hingga berpredikat mahasiswa PTN. Lantas bagaimana dengan peminat PTS? Secara tidak langsung PTS merupakan kampus yang menampung para calon mahasiswa tak lolos seleksi nasional maupun mandiri. Singkatnya, peminat PTS tidaklah sebanyak PTN, ironis memang.</p>
<p>Padahal proses pembelajaran di PTS tak jauh beda dengan PTN. Dosen pengajarnya pun merupakan hasil impor dari PTN, sarana yang dimiliki PTS pun sudah sewajarnya dimiliki pula oleh PTN. Lalu mengapa PTN diistimewakan? Dapat kita sadari bahwa pemeritah telah mendikotominasikan lulusan PTN dengan PTS. Hal tersebut terbukti pada persyaratan tes CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) yang menetapkan bahwa lulusan PTS terakreditasi B atau A minimal IPK diatas 3,0 sedangkan untuk lulusan PTN terakreditasi A atau B cukuplah dengan IPK minimal 2,75.</p>
<p>Dengan ketetapan pemerintah semacam itu maka akan memperkuat dugaan masyarakat akan tidak sebandingnya kualitas PTS dengan PTN. Akan tetapi, dengan label ‘berkualitas’ lulusan PTN tentu tidak dapat mengeneralisasikan kualitas personal yang sebanding dengan mutu universitas itu sendiri.</p>
<p>Kebangkitan Universitas Swasta</p>
<p>Sesungguhnya kualitas personal lebih utama dibandingkan dengan label yang menaungi universitas. Label tidak bisa menjadi tolak ukur pasti akan kualiatas mahasiswa itu sendiri. Setiap individu memiliki proses pembelajaran yang berbeda sehingga mencetak output berdeda pula. Masa keterpurukan PTS telah berlalu, dengan mengusung nama besar pendiri PTS seperti Ki Hajar Dewantara, Ahmad Dahlan, dan sebagainya; PTS mulai menunjukan sinarnya.</p>
<p>Rasa percaya diri sejumlah PTS semakin tergenjot mengingat nama besar yang menaungi universitas tersebut telah bersinar sebelum universitas tersebut dikenal masyarakat luas. Sekalipun PTS tetap dipandang sebelah mata, tapi kualitas personal mahasiswanya beserta alumni tidak boleh dipandang sejumlah mata. Faktanya, masih ada saja lulusan PTS yang berhasil menduduki jabatan penting suatu instansi. Sebut saja Idham Samawi pernah menjabat sebagai Bupati Bantul periode  1999- 2004 dan menjabat kembali pada periode 2004-2009 merupakan alumni PTS UST (Universitas Sarjanawiyat Tamansiswa).</p>
<p>Terlepas dari predikat swasta atau negeri, sebuah universitas hanyalah media bagi mahasiswa untuk berproses menjadi manusia intelektual yang bermoral. Sesungguhnya kualitas personal akan lebih menentukan nasib individu dibanding dengan naungan nama universitas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lpmpendapa.com/2011/07/12/pts-perlu-diperhitungkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kepasifan Mahasiswa</title>
		<link>http://lpmpendapa.com/2011/07/09/kepasifan-mahasiswa/</link>
		<comments>http://lpmpendapa.com/2011/07/09/kepasifan-mahasiswa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jul 2011 06:04:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yutin Mulyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmpendapa.com/?p=288</guid>
		<description><![CDATA[“Kuliah sudah usai, pulang ahhh…?” Ungkapan seperti itu sudah tidak asing lagi terdengar di telinga... <a class="meta-more" href="http://lpmpendapa.com/2011/07/09/kepasifan-mahasiswa/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Kuliah sudah usai, pulang ahhh…?” Ungkapan seperti itu sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Dimanakah peran mahasiswa yang sesungguhnya?</em></p>
<p>Pada umumya mahasiswa tidak peduli dengan keadaan kampus, mereka begitu enggan ikut campur akan organisasi-organisasi yang ada didalamnya. Teringat obrolan kecil tiga orang mahasiswa yang duduk di hall kampus UST. Ketika salah satu dari mereka bertanya. “Ehh,,,,,kenapa kalian nggak pernah mau ikut organisasi?”. Kemudian mereka menjawab “ahh,,,,di sini aku kuliah, yang penting cepet selesai dan terus wisuda, buat apa pusing-pusing mikirin organisasi dan kampus, mikirin diri sendiri juga susah!”.</p>
<p>Sungguh ironis. Kampus yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara yang bertujuan untuk meningkatkan harkat hidup manusia, khususnya manusia Indonesia agar berkehidupan yang layak, hidup merdeka, hidup bahagia sejahtera dan bebas dari penindasan. Tetapi ternyata penerus generasi muda sekarang begitu enggan untuk meneruskan tujuan yang dicita-citakan beliau. Salah satu tujuan Ki Hadjar Dewantara yaitu manusia merdeka lahir batin yang berarti bebas dari fisik dan rohani serta tidak terkekang atau tertindas.</p>
<p>Mereka berkeinginan agar status ijin dikti dicabut dan diganti menjadi terakreditasi. Ketika akreditasi turun dari B ke C, mereka langsung kecewa dan menyalahkan kampus. Apakah kampus pantas untuk dipersalahkan?<br />
Tentu saja tidak, semua itu karena ketidakaktifan para mahasiswa dan ketidakpedulian mereka terhadap kampus serta kurangnya partisipasi mereka dalam suatu acara kampus dan ketidaktertarikan mereka terhadap lembaga atau organisasi yang ada dikampus.</p>
<p><strong>Pentingnya organisasi?</strong></p>
<p>Sebelum lebih jauh, mari kita pahami terlebih dahulu apa pengertian organisasi. Organisasi merupakan perkumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan yang sama dan bersama-sama berusaha untuk mencapai tujuan tersebut. Bentuk organisasi menurut Tamansiswa yaitu bersendikan hidup kekeluargaan, yang merupakan paduan antara dasar demokrasi dan pimpinan kebijaksanaan. Tiap kehidupan tak bisa lepas dari organisasi, misalnya dari tingkat RT sampai ketingkat negara. Dari berorganisasi kita dapat melatih mental dan rasa percaya diri dalam bersosialisasi, melatih rasa tanggung jawab dan melatih kerjasama, selain itu kita dapat menambah teman dan menambah pengetahuan serta pengalaman. Akan tetapi para mahasiswa tidak menyadari akan pentingnya berorganisasi dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Sebagai seorang pelajar seharusnya mengikuti kegiatan kemahasiswaan, lembaga kampus dan ikut serta memajukan kampus demi kebaikan diri sendiri, orang lain dan meningkatkan derajat kampus. Organisasi kampus sudah mengadakan kegiatan seminar, bakti sosial, sarasehan, LKAT (Lingkar Kajian Tamansiswa) dan sebagainya. Alangkah baiknya mahasiswa berpartisipasi mengikuti kegiatan tersebut. Kampus menyediakan berbagai lembaga yang bertujuan agar mahasiswa dapat mengembangkan bakatnya. Sehingga mahasiswa mempunyai daya kreatifitas yang tinggi dan intelektual yang berkompeten serta pendidikan yang berkualitas.<br />
Dengan turut memajukan dan mengembangkan pendidikan terutama di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, berarti kita turut melanjutkan perjuangan dari Ki Hadjar Dewantara yaitu dalam bidang pendidikan.[p]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lpmpendapa.com/2011/07/09/kepasifan-mahasiswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berkedok Di Balik Demokrasi</title>
		<link>http://lpmpendapa.com/2011/05/16/berkedok-di-balik-demokrasi/</link>
		<comments>http://lpmpendapa.com/2011/05/16/berkedok-di-balik-demokrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 May 2011 10:23:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudith Ofirisa Utami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmpendapa.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia selalu mengagungkan namanya sebagai negara demokrasi, bahkan agar demokrasi berjalan lebih baik Indonesia melakukan... <a class="meta-more" href="http://lpmpendapa.com/2011/05/16/berkedok-di-balik-demokrasi/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia selalu mengagungkan namanya sebagai negara demokrasi, bahkan agar demokrasi berjalan lebih baik Indonesia melakukan amandemen Undang &#8211; Undang Dasar (UUD) sebanyak empat kali. Tapi apakah iklim demokrasi itu telah dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia terutama mahasiswa, yang sering disebut kaum terpelajar bahkan agen of change karena sejarah yang telah terukir dan tidak bisa dilupakan ketika menggulingkan rezim Soeharto. Sementara di kampus sendiri sebagai tempat mahasiswa berpikir kritis dan mencari tahu suatu kebenaran apakah iklim demokrasi itu telah dirasakan oleh mahasiswa?</p>
<p>Pemimpin yang terhubung dengan bawahannya otomatis setiap program dan kegiatan yang dilaksanakan akan mendapatkan bukan hanya partisipasi dari bawahan tetapi juga emansipasi. Participation with emansipation adalah bentuk konkret hubungan kejiwaan antara pemimpin dengan bawahannya. Hubungan kejiwaan tersebut akan terbentuk mulai dari saat proses<br />
penentuan dan pemilihan pemimpin. Siapa yang paling mengetahui karakteristik calon pemimpin tidak lain adalah konstituen yang akan dipimpinnya.</p>
<p>Demikian juga dalam hal pemilihan rektor, siapa yang paling mengetahui kapasitas, kapabilitas dan kualitas rektor,<br />
tidak lain adalah civitas akademika universitas yang bersangkutan. Melalui senat universitas saja, sering tidak mampu mengakomodasi kecenderungan civitas akademika, apalagi sebagian besar suara diberikan oleh Mendiknas. Kondisi ini sepertinya ingin tetap menunjukkan dominasi pusat terhadap daerah, dominasi atasan bawahan dalam gempuran otonomi yang tidak jelas kemana arahnya.</p>
<p>Oleh karena itu dinamika pemilihan rektor semestinya dikelola oleh civitas akademika secara mandiri. Universitas<br />
sebagai menara api dengan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademiknya ternyata tidak mampu mendapatkan kebebasannya di dalam pemilihan rektor dengan adanya Permendiknas No. 24 Tahun 2010.</p>
<p>Kebebasan berpendapat dan berpikir kritis pun terkadang harus dipikir dua kali oleh mahasiswa karena ketika dia berani mengeluarkan suaranya, cacian dan intimidasi tak jarang didapat dari kaum elite kampus. Kritikan menjadi hal yang menakutkan bagi mereka, ketakutan akan kehilangan kekuasaan.</p>
<p>Bukankah para elite kampus selalu mengumbar kepada mahasiswa bahwa kritikan itu akan membangun kita agar lebih baik lagi. Tapi kenyataannya para elite kampus takut akan adanya sebuah kritikan. Mereka hanya ingin dilihat baik dan benar sehingga mahasiswa menerima apapun yang telah menjadi kebijakan para elite kampus.</p>
<p>Di kampus merupakan tempat belajar berdemokrasi. Buruknya demokrasi di kampus akan berdampak pada buruknya demokrasi Nasional. Karena jika kaum intelektual saja belum mampu menerapkan demokrasi secara benar apa lagi masyarakat awam<br />
dan rakyat jelata.</p>
<p>Para penerus bangsa akan lahir dari dunia pendidikan. Dunia pendidikan yang bersih dan syarat akan demokrasi akan melahirkan para pencetak bangsa yang mampu berpikir kritis dan bersaing dengan dunia internasional.</p>
<p>Namun apa jadinya jika dunia pendidikan dibumbui dengan ketidakbebasan, keterbatasan menjalankan demokrasi dan pasti akan berdampak besar pada keberlangsungan Indonesia kedepan, karena tak ada yang tak mungkin jika para penerus bangsa mengikuti jejak para elite kampus atau pendidiknya yang takut akan kritik dan takmembiarkan demokrasi masuk di dunia<br />
kampus.</p>
<p>Maka jangan menyalahkan para pejabat begitu saja yang korupsi dan para menteri yang bekerja lambat, karena bisa saja itu yang mereka dapat ketika mereka belajar, lingkunganpendidikan tanpa kebebasan lingkungan pendidikan yang penuh akan korupsi. Seperti yang pernah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) katakan, ternyata dunia pendidikanlah yang berpeluang akan adanya korupsi.</p>
<p>Jadi untuk para elite kampus, kenapa harus takut akan kritik, bukankah kritik itu membangun agar diri sendiri khususnya dan kampus yang kita cintai ini bisa terus berjaya, bersaing dengan kampus-kampus lain. Maka kampus merupakan tempat belajar bagaimana memformat demokrasi yang baik jika dikampus saja masih timbul kecurangan. Entah apa yang terjadi dengan Indonesia? Tidak akan ada yang tahu.[p]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lpmpendapa.com/2011/05/16/berkedok-di-balik-demokrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

