<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PENDAPA Cyber Media &#124; Situs Berita Kampus UST Yogyakarta &#187; Kolom</title>
	<atom:link href="http://lpmpendapa.com/category/kolom/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lpmpendapa.com</link>
	<description>Inilah Situs berita Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) PENDAPA Tamansiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 08:59:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>‘Pacu Adrenalin&#8217; Dengan Menulis</title>
		<link>http://lpmpendapa.com/2011/07/25/%e2%80%98pacu-adrenalin-dengan-menulis/</link>
		<comments>http://lpmpendapa.com/2011/07/25/%e2%80%98pacu-adrenalin-dengan-menulis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 07:37:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wakhidatun Aisyah RA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmpendapa.com/?p=421</guid>
		<description><![CDATA[“Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya... <a class="meta-more" href="http://lpmpendapa.com/2011/07/25/%e2%80%98pacu-adrenalin-dengan-menulis/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya.</em>” [Stephen King]</p>
<p>Menulis selalu berkaitan dengan merangkai sebuah huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat. Dari gabungan beberapa kalimat kita peroleh sebuah paragraf. Dan gabungan paragraf-paragraf ini kita ciptakan suatu tulisan, baik berupa puisi, cerpen, dan informasi- informasi yang penting untuk orang lain.</p>
<p>Bagi sebagian orang, menulis dianggap membosankan. Membuang waktu hanya untuk sebuah tulisan yang belum tentu dibaca, disukai atau dinikmati orang lain. Sebenarnya tidak ada larangan berpendapat seperti itu, karena setiap orang mempunyai kepentingan dan keinginan yang berbeda dengan menulis. Ada anggapan menulis itu tidak penting, meski hanya meluangkan sedikit waktu untuk sekadar merenungkan apa arti tulisan dan mengapa orang mau menulis bahkan bisa menulis.</p>
<p>Namun disisi lain, dengan menulis kita bisa memperoleh manfaat baik untuk kepuasan diri sendiri maupun orang lain. Manfaat menulis akan dirasakan ketika kita menikmati kegiatan tersebut. Ada kepuasan batin tersendiri dan tak jarang pula memberikan pengaruh bagi pola hidup sang penulis. Menulis memang mengasyikkan dan membutuhkan waktu yang terkadang  tidak sedikit untuk menghasilkan sebuah karya. Bisa berjam-jam, berhari- hari, bahkan berbulan- bulan. Tak jarang pula bahkan sampai bertahun- tahun untuk menulis sebuah karya ilmiah yang membutuhkan suatu penelitian.</p>
<p>Berawal dari proses itu akan terasa berharga ketika hasilnya diapresiasi dan memberi banyak manfaat. Sebuah kepuasan yang tidak terbeli dengan nilai material. Kepuasan batin ini akan memberikan pengaruh positif terhadap kondisi mental si penulis. Misalnya, bisa memotivasi kreatifitas dan rasa percaya dirinya untuk menghasilkan tulisan yang lebih baik.</p>
<p>Dengan menulis kita bisa menyalurkan aspirasi tentunya untuk hal-hal yang baik, bukan untuk menjelek-jelekkan orang lain.  Meski terkadang susah untuk menemukan ide atau inspirasi untuk ditulis. Selain itu, menulis dapat menjadi tempat menyalurkan perasaan dan pendapat yang apabila disimpan bisa berdampak negatif bagi tubuh dan pikiran secara fisik dan mental. Sebagaimana diungkapkan James Pennebaker, Ph.D dan Janet Seager, Ph.D dalam jurnal <em>Clinical Psychology</em> bahwa orang yang memiliki kebiasaan menulis umumnya memiliki kondisi mental lebih sehat dari mereka yang tidak punya kebiasaan tersebut. Pikiran yang sehat tentunya akan memberi kekuatan positif pada tubuh kita. Dengan memahami ini, maka menulis bisa menjadi kekuatan dan sebuah tulisan bisa menjadi kekuatan bagi penulis bahkan pembacanya.</p>
<p>Banyak lagi tulisan-tulisan yang berkekuatan, seolah-olah memiliki daya <em>magic</em> yang bahkan bisa mengubah pola pikir pembacanya. Menulis juga merupakan media mengajar dan mendidik. Tulisan yang di sampaikan bisa berupa berita atau bacaan lain yang mudah untuk dipahami dan dimengerti dengan baik oleh pembaca. Disamping itu menulis juga merupakan salah satu cara untuk memengaruhi opini orang lain. Pengemasannya pun bisa dalam bentuk media cetak (buku, majalah, surat kabar) maupun elektronik (software, CD, internet, dll). Menulis sama-sama memiliki kakuatan yang dahsyat untuk mengubah pola pikir orang yang membacanya.</p>
<p>Dengan menulis, tak jarang juga bisa membuat penulis menjadi gila. Gila dalam artian bahwa menulis itu memerlukan ide, masalah dan tujuan. Orang bisa menjadi gila baca dan gila pengetahuan untuk mendapatkan inspirasi bagi tulisannya. Gila-gilaan mengasah imajinasi untuk menemukan ide-ide gila dan mengembangkan cerita pada tulisannya. Orang juga bisa segila mungkin menggali pengalaman individual dan sosial untuk menemukan masalah serta data-data pendukung tulisannya.</p>
<p>Memiliki semangat, kemauan dan strategi yang gila untuk menuangkan ide, merumuskan dan mencapai tujuan dari tulisannya. Serta menjadi gila kerja untuk menghasilkan karya yang luar biasa. Berkaitan dengan ini, ada sejumlah orang yang harus menulis terlebih dahulu agar ia bisa tertidur. Ini menunjukkan adanya koneksi antara kepuasan hati dengan ketenangan pikiran dengan mengekspresikan dorongan hasrat dan imajinya.</p>
<p>Manfaat lain dari menulis ialah kita bisa menghargai data dan waktu. Joel Saltzman dalam bukunya <em>If You Can Speak You Can Write</em> mengungkapkan bahwa menulis tidak berhenti pada langkah pertama. Artinya, menulis tidak cukup sekali dan sekali jadi, tetapi diperlukan upaya untuk menulis kembali. Penyuntingan, revisi, dan penulisan kembali merupakan langkah penting untuk menyempurnakan hasil tulisan. Seorang penulis perlu memeriksa kembali tulisannya secara kritis dan objektif mengenai berbagai hal, khususnya dalam ketepatan pemilihan kata, contoh, dan ilustrasi, serta menghindari kesalahan dalan penyusunan kalimat. Ini menunjukkan bahwa waktu sangat berharga untuk dimanfaatkan bagi seorang penulis dan menulis membutuhkan waktu apalagi untuk menghasilkan tulisan yang memiliki kekuatan.</p>
<p>Penghargaan atas waktu berpengaruh positif terhadap kestabilan dan kesehatan mental sang penulis. Orang yang menghargai waktu merupakan orang yang mampu dan mau memanfaatkan waktu sesempit apa pun untuk kebermaknaan hidup, sehingga dengan sendirinya akan membangun mentalitas dan pola pikirnya.</p>
<p>Maka, selain untuk memanfaatkan waktu dengan baik, untuk menuangkan ide dan mengisi kekosongan, menulis merupakan tidakan terbaik yang akan membuat kita bisa menciptakan sebuah tulisan yang bermanfaat untuk orang lain.[p]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lpmpendapa.com/2011/07/25/%e2%80%98pacu-adrenalin-dengan-menulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penggunaan Bahasa Indonesia Masa Kini</title>
		<link>http://lpmpendapa.com/2011/07/22/penggunaan-bahasa-indonesia-masa-kini/</link>
		<comments>http://lpmpendapa.com/2011/07/22/penggunaan-bahasa-indonesia-masa-kini/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jul 2011 03:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Pambudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmpendapa.com/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[Bukan rahasia umum lagi bahwa bahasa Indonesia yang kini banyak digunakan merupakan bahasa persatuan dan... <a class="meta-more" href="http://lpmpendapa.com/2011/07/22/penggunaan-bahasa-indonesia-masa-kini/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan rahasia umum lagi bahwa bahasa Indonesia yang kini banyak digunakan merupakan bahasa persatuan dan bahasa negara. Hal ini dipertegas dengan Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi: “Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia menjujung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Melalui semboyan tersebut, bahasa Indonesia dapat menyatukan berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia dari Sabang sampai Merauke.</p>
<p>Lema bahasa Indonesia banyak didukung oleh bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia sendiri. Selain itu, bahasa Indonesia tak menampik lema-lema bahasa asing yang masuk ke dalam lema bahasa Indonesia. Namun, sebagian besar bahasa Indonesia mendapat penambahan diluar bahasa indonesia itu sendiri. Kini bahasa Indonesia terus berkembang sejak penggunaan ejaan van Ophusen sampai ejaan yang disempurnakan (EYD) saat ini. Di sisi lain Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) juga mengalami perubahan di setiap edisi yang dilakukan oleh Pusat Bahasa.</p>
<p>Di zaman serba berteknologi seperti sekarang ini, penggunaan bahasa yang baik dan benar secara lisan maupun tulisan memang dirasa kurang. Banyak kesalahan yang dilakukan oleh masyarakat pemakai bahasa. Seperti bahasa yang digunakan untuk mengirimkan short message service atau yang lebih dikenal SMS. Padahal dalam forum resmi seperti seminar, diskusi, dan kegiatan belajar mengajar (KBM), bahasa Indonesia merupakam bahasa pengantar paling utama dibanding bahasa daerah yang sering kita gunakan sehari-hari.</p>
<p>Kesalahan bahasa secara lisan dapat terjadi karena masyarakat pemakai bahasa mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa lain, mencampuradukkan pemakaian bahasa dalam situasi formal dan non formal, adanya kontak bahasa Indonesia dengan bahasa asing dan bahasa daerah. Biasanya hal itu terjadi ketika pemakai bahasa mulai belajar bahasa pertama yakni bahasa ibu.</p>
<p>Bahasa ibu merupakan bahasa yang pertama kali diperoleh pemakai bahasa. Menurut para ahli bahasa, dalam belajar bahasa seseorang harus menguasai bahasa ibu terlebih dahulu sebelum menguasai bahasa kedua atau bahasa lain. Hal tersebut dapat berdampak tidak baik jika pemakai bahasa lebih mengutamakan penggunaan bahasa kedua dalam berbahasa. Pemakai bahasa tidak akan menguasai bahasa yang ia gunakan. Misalnya dalam masyarakat Jawa, jelas bahasa ibu mereka adalah bahasa Jawa. Pemakai bahasa harus belajar bahasa Jawa terlebih dahulu, tidak langsung belajar bahasa kedua seperti bahasa Indonesia ataupun bahasa asing.</p>
<p>Bahasa ibu dipelajari anak sampai pada kelas 3 Sekolah Dasar (SD), setelah itu barulah anak belajar bahasa Indonesia ataupun bahasa asing. Jadi, hal demikian dan seterusnya membuat pemakai bahasa akan lebih baik dalam berbahasa.</p>
<p>Kesalahan pemakai bahasa Indonesia secara tulisan juga dapat terjadi karena pemakai bahasa kurang memahami dan mengerti tentang bahasa itu sendiri, seperti EYD, kata baku, dan tata bahasa baku yang kebanyakan diremehkan oleh setiap pemakai bahasa. Norma berbahasa itu penting digunakan dalam berbahasa lisan maupun tulisan. Hal tersebut juga dapat membantu dalam penulisan karya ilmiah, misalnya skripsi, tesis, dan disertasi.</p>
<p>Hal tersebut merupakan realita yang harus kita hadapi di era globalisasi seperti sekarang ini. Sebagai seorang akademisi sudah seharusnya kita mengadakan perubahan dengan jalan menulis skripsi, penelitian, maupun tulisan lain tentang bahasa Indonesia agar nantinya bahasa Indonesia dapat terjaga dan berkembang menjadi lebih baik.[p]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lpmpendapa.com/2011/07/22/penggunaan-bahasa-indonesia-masa-kini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

