<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PENDAPA Cyber Media &#124; Situs Berita Kampus UST Yogyakarta &#187; Kolom Sastra</title>
	<atom:link href="http://lpmpendapa.com/category/kolom-sastra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lpmpendapa.com</link>
	<description>Inilah Situs berita Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) PENDAPA Tamansiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 08:59:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Gemerlap Bintang (2-Habis)</title>
		<link>http://lpmpendapa.com/2011/10/12/gemerlap-bintang-2-habis/</link>
		<comments>http://lpmpendapa.com/2011/10/12/gemerlap-bintang-2-habis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 06:53:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tikha Novita Sari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmpendapa.com/?p=565</guid>
		<description><![CDATA[Sambungan. Aku tak pernah berminat menjadi bintang. Tak pernah terbayangkan oleh ku akan masuk TV,... <a class="meta-more" href="http://lpmpendapa.com/2011/10/12/gemerlap-bintang-2-habis/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lpmpendapa.com/2011/07/20/gemerlap-bintang-1/"><strong>Sambungan.</strong></a> Aku tak pernah berminat menjadi bintang. Tak pernah terbayangkan oleh ku akan masuk TV, apalagi jadi terkenal… Tapi setiap melihat wajah ceria keluarga yang kucintai, aku tak bisa menolak untuk ikut audisi itu.</p>
<p>Hari-hari telah berganti. Sepertinya semuanya berusaha keras agar lolos audisi ajang pencarian bakat itu. Mulai dari Ayah yang semakin rajin berolahraga dan Ibu yang jadi sering mencoba resep-resep baru, meskipun terkadang rasanya justru jadi aneh. Mas Anton setiap hari membuat suara berisik dengan gitar kesayangannya. Semua semakin tambah ramai ketika suara Mbk Mala yang lumayan enak didengar memenuhi ruang keluarga, mengalunkan lagu-lagu pop.</p>
<p>Akhirnya aku menyerah. Aku pun setuju untuk ikut audisi BKI di salah satu mal terkenal di kotaku. Aku berangkat ke sekolah dengan mendekap tas yang berat karena penuh dengan baju dan sepatu ganti. Saat berangkat ke sekolah aku teringat pesan Mbak Mala, kalau penampilanku nanti harus meyakinkan. Menurut Ibu dan Ayah, menguasai kesenian tradisional adalah nilai plus untuk dapat lolos audisi.</p>
<p>Akhirnya pelajaran terakhir selesai, waktunya pulang dan aku akan menyusul Ayah, Ibu, Mas Anton, dan Mbak Mala untuk audisi BKI. Macet. Saat aku berusaha menyelip mobil yang ada didepanku dari arah kiri, tiba-tiba dari belakang ada sepeda motor yang menyelipku. Aku terjatuh. Suara sepeda motor ku begitu keras terdengar. Seketika itu aku tersungkur ke aspal. Kepalaku terbentur jalan beraspal. Tetapi untunglah helm ini mampu melindungi kepalaku dari benturan itu.</p>
<p>Orang-orang mulai mengerumuniku. Sedetik kemudian semuanya terlihat gelap. Aku tak sadarkan diri. Beruntung orang yang menyerempetku mau bertanggung jawab dan membawaku ke Rumah Sakit terdekat. Setelah aku tersadar. Aku mendengar suara Ibu.<br />
“Nak, kamu sudah siuman.” tanya Ibu pelan, berbisik di telingaku.<br />
“Ibu? Ibu kok bisa disini?” aku justru balik bertanya.<br />
“Iya tadi ada yang menelfon Ibu. Memberitahu kalau kamu terserempet sepeda motor. Mendengar kabar itu Ibu langsung cepat-cepat ke sini nak, syukurlah luka kamu tidak parah,” ucap Ibu.<br />
“Bu, maafkan Bintang. Gara-gara Bintang kita sekeluarga jadi gak bisa ikut audisi…” ucapku sedih sekaligus menyesal.<br />
“Gak apa-apa nak, ini bukan salahmu. Tapi memang sudah jalannya, lain kali hati-hati kalau berkendara di jalan besar. Melihat kamu sehat saja Ibu sudah sangat senang dan bersyukur nak,” ungkap Ibu kepada ku sembari tersenyum lega.<br />
“Iya bu, makasih banyak Ibuku yang paling cantik dan baik hati, hehe…” pujiku pada Ibu.<br />
“Kamu tahu kenapa Ibu dan Ayah memberi nama Bintang?” tanya Ibu padaku.<br />
“Gak tahu, Bu … memang apa bu artinya?” tanyaku penasaran.<br />
“Supaya kelak kamu jadi bintang, paling terang, paling gemerlap.” jelas Ibu padaku.<br />
“Hehe… sudah terlalu banyak bintang, Bu. Kalau bertambah satu lagi, nanti jadi silau,” candaku pada Ibu.</p>
<p>Saat itu aku tersadar, ibu dan ayah sangat sayang pada ku. Melalui kecelakaan ini dan gagalnya kami sekeluarga untuk mengikuti audisi itu, aku semakin tahu bahwa mereka menyayangiku melebihi apapun. Terima kasih Tuhan engkau telah menunjukkan ini semua. Menunjukkan betapa indahnya Bintang itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lpmpendapa.com/2011/10/12/gemerlap-bintang-2-habis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penantian Tak Berujung (2-Habis)</title>
		<link>http://lpmpendapa.com/2011/08/03/penantian-tak-berujung-2-habis/</link>
		<comments>http://lpmpendapa.com/2011/08/03/penantian-tak-berujung-2-habis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2011 07:19:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ernawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmpendapa.com/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Sambungan. Malam itu Risma kembali terisak didalam kamarnya. Sejak kejadian yang menyakitkan itu aku sering... <a class="meta-more" href="http://lpmpendapa.com/2011/08/03/penantian-tak-berujung-2-habis/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lpmpendapa.com/2011/07/12/penantian-tak-berujung-1/"><strong>Sambungan.</strong></a> Malam itu Risma kembali terisak didalam kamarnya. Sejak kejadian yang menyakitkan itu aku sering berkunjung ke kontrakan kecilnya. Hanya sekedar untuk mengantarkan makan malam atau apalah. Yang jelas aku ingin terus berada di sisinya.<br />
“Aku sudah tak kuat lagi. Tujuh bulan sudah aku menanggung malu. Orang tuaku pun mencampakkanku.” Isaknya.<br />
“Ssh…. Kau harus kuat. Kau harus terus berjuang demi anak yang ada didalam perutmu itu.” Aku mencoba menenangkannya,<br />
“Tak usah lah kau pedulikan laki-laki biadab itu.”<br />
<em>Masih ada aku disini, tidakkah kau perhatikan aku? Batinku.</em><br />
Malam itu dia terlelap dalam isakannya. Aku tertidur dikursi disamping tempat tidurnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Saat Subuh menyapa, aku terbangun. Ku tengok kasur tempat Risma tertidur semalam. Tak ada. Kemana dia? Aku kalang kabut mencarinya. Tak biasanya dia pergi diam-diam. Apalagi di pagi buta seperti ini. Aku mencarinya disekeliling rumah. Nihil. Ku tengok rumah tetangga, tak ada juga. Ah, laki-laki itu. Jangan-jangan dia kembali lagi ke sana saat aku sudah terlelap semalam. Bodoh, pikirku.</p>
<p>Segera ku keluarkan motorku. Tanpa pikir panjang aku menuju rumah lelaki itu.<br />
<em>Semoga kamu tak disana. Aku percaya kalau kamu tak akan melakukan tindakan bodoh itu.</em><br />
“Risma…!!” panggilku saat aku tiba di rumah itu.<br />
Namun tak ada siapa-siapa disana. Hanya keheningan yang menyapaku. Kalang kabut aku mencarinya. Namun tak ada hasilnya. Matahari pagi mulai menyunggingkan senyumnya. Karena sudah lelah aku kembali ke kontrakan Risma. Tapi Risma masih tak ada. Aku terpekur di teras kontrakan mungil itu. Menanti. Kalau-kalau Risma kembali. Namun semakin lama kumenanti, hanya sakit yang kurasa. Sampai mentari kembali ke peraduannya, tak jua ku temukan dimana Risma.<br />
<em>Kemanakah kau pergi, Risma…. Pulanglah. Aku masih menantimu di sini. Bagaimanapun keadaanmu. Aku akan terima. Pulanglah.</em></p>
<p style="text-align: center;">****</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lpmpendapa.com/2011/08/03/penantian-tak-berujung-2-habis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gemerlap Bintang (1)</title>
		<link>http://lpmpendapa.com/2011/07/20/gemerlap-bintang-1/</link>
		<comments>http://lpmpendapa.com/2011/07/20/gemerlap-bintang-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jul 2011 06:50:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tikha Novita Sari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmpendapa.com/?p=408</guid>
		<description><![CDATA[“Sinta, kamu sms Wina cepet, dia gimana sih? Gak bisa masuk sekolah setidaknya dititipin dong... <a class="meta-more" href="http://lpmpendapa.com/2011/07/20/gemerlap-bintang-1/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Sinta, kamu sms Wina cepet, dia gimana sih? Gak bisa masuk sekolah setidaknya dititipin dong makalahnya.”<br />
“Yah,pulsa ku hahis, Bin.”<br />
“Hah? Kan baru seminggu yang lalu kamu beli pulsa!”<br />
“Habis gimana, Bin… kalau aku gak ngirim sms, bisa-bisa minggu depan aku gak akan lihat Dirly lagi. Apalagi kemarin dia ada di urutan terbawah.” ungkap Sinta.<br />
“Kenapa harus bela-belain ngabisin uang buat Dirly? Seseorang yang tidak dikenal.”<br />
“Dirly itu paling oke Bin. Dia cakep, keren dan cocok buat jadi juara Indonesia idol.” ucap Sinta dengan penuh keyakinan.<br />
“Tapi, pulsa seratus ribu habis dalam seminggu? Lagian suaranya juga gak bagus-bagus amat, Ta.” kataku pada Sinta.<br />
“Suara Dirly juga lumayan kok menurutku.” Elak Sinta.<br />
“Aduh, susah deh kalau berdebat soal Dirly sama Sinta!” gumamku dalam hati.</p>
<p>Saat malam tiba, Kerlap-kerlip bintang yang genit menambah semarak langit. Aku sering tergoda untuk bertanya pada bintang-bintang di langit. Apakah mereka tidak merasa tersaingi oleh manusia? Mungkin manusia ingin berbuat hal yang sama untuk bumi, sehingga bumi dan langit sama gemerlapnya. Mungkin oleh sebab itulah, banyak manusia yang ingin menjelma menjadi bintang.<br />
“Bintang, ke sini cepat! Kita lagi rapat penting. Belajarnya ditunda dulu bisa, kan?” panggil mas Anton mengejutkanku.<br />
“Rapat apa si mas?” tanyaku penasaran.<br />
Ayah, Ibu, Mbak Mala dan mas Anton malah senyum-senyum misterius.<br />
“Kok malah pada senyum-senyum kayak gitu?” tanyaku tambah penasaran.<br />
“Kita akan membahas&#8230;,” jawab Ayah.<br />
“BKI…!” lanjut Ibu, Mbak Mala, Mas Anton hampir bersamaan.<br />
“BKI? Maksudnya, Bubur Kacang Ijo?”<br />
“Ya ampun Bintang, kok bubur kacang ijo? Ya bukanlah, tapi Bintang Keluarga Indonesia.” kata Mbk Mala menjelaskan.<br />
“Owh, acara itu.” Ucapku sambil mangut-mangut tanda mengerti.<br />
<em>Hem, lagi-lagi ajang pencari bakat.</em> gumamku dalam hati.<br />
“Iya Bin, ini ajang pencarian bakat tapi, bukan cuma satu orang yang mendapat kesempatan untuk menjadi bintang, melainkan seluruh anggota keluarga. Syaratnya, setiap anggota keluarga harus memiliki bakat tertentu dan tentu saja harus kompak.” jelas Mas Anton dengan semangat.<br />
“Ayah ini dulunya bintang olahraga lho. Renang, sepak bola, voli. Wah pokoknya Ayah kalian ini jagonya!” tukas Ayah dengan semangat.<br />
“ Kamu tahu sendiri kan Bin, Mas Anton jagonya main gitar. Anak band gitu lho!” kata Mas Anton memuji kemampuannya sendiri.<br />
Aku hanya tersenyum melihat Ayah dan Mas Anton membanggakan bakatnya masing-masing.<br />
“Kamu setuju kan kalo Ibu jago masak, Bin?” tanya Ibu dengan yakin pada ku.<br />
“Iya bu, masakan ibu paling enak sedunia, hehe…” jawabku sambil mengangkat kedua ibu jariku tanda membenarkan pernyataan Ibu.<br />
“Kalau Mbak Mala bakatnya apa ya? Hehe&#8230; kayaknya kalau Mbk Mala sih, paling jago habisin masakan Ibu, hahaa…” godaku pada Mbak Mala sembari tertawa.<br />
“Hah, kamu kali dek yang jagonya ngabisin masakannya Ibu.” elak Mbak Mala.<br />
“Sudah-sudah, kalian berdua dari dulu selalu saja tidak pernah akur,” tegur Ayah kepadaku dan Mbak Mala.<br />
“Mala kamu kan bisa bernyanyi. Lagi pula akhir-akhir ini ikut ekskul nyanyi di kampus kan?” tanya Ayah pada Mbak Mala.<br />
“Nah, sekarang tinggal Bintang. Kamu lebih serius ke tari tradisional ya Bin?” pinta Mas Anton.<br />
“Iya, Ibu setuju.” Sahut Ibu.<br />
“Pokoknya kita sekeluarga berusaha untuk jadi bintang!”<br />
“Ketik: BKI spasi keluarga Prayoga!” canda Mas Anton.<br />
Kami sekeluarga pun tertawa mendengarnya.<br />
“Ya sudah lanjutin belajarnya lagi Bin,” ucap Ibu.<br />
“Jangan lupa belajar nari juga,” kata Mbak Mala mengingatkan.<br />
“Apa Mbak? Masa malem-malem belajar nari, kurang kerjaan banget si…” ucapku pada Mbak Mala.<br />
“Iya dek, Mbak kan cuma bercanda,” sahut Mbk Mala. <a href="http://lpmpendapa.com/2011/10/12/gemerlap-bintang-2-habis/"><strong>Bersambung.</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lpmpendapa.com/2011/07/20/gemerlap-bintang-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penantian Tak Berujung (1)</title>
		<link>http://lpmpendapa.com/2011/07/12/penantian-tak-berujung-1/</link>
		<comments>http://lpmpendapa.com/2011/07/12/penantian-tak-berujung-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jul 2011 04:18:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ernawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmpendapa.com/?p=319</guid>
		<description><![CDATA[Kau ketuk lagi pintu itu. Pintu yang telah mencampakkanmu. Namun kau tak peduli. Kau buang... <a class="meta-more" href="http://lpmpendapa.com/2011/07/12/penantian-tak-berujung-1/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kau ketuk lagi pintu itu. Pintu yang telah mencampakkanmu. Namun kau tak peduli. Kau buang rasa malu dan harga dirimu. Demi melihat perutmu yang kian membesar. Tujuh bulan. Tanpa lelah, di tiap malam kau datangi lagi rumah itu. Biar caci yang dia tamparkan ke wajah mu. Kau tak peduli. Demi melihat janin yang tumbuh dalam rahim mu.</p>
<p>“Sudahlah, Ris.” Kataku,<br />
“Mau sampai kapan kau akan mengetuk pintu itu? Kau harusnya malu. Mana harga dirimu.”</p>
<p>Dia hanya diam. Tak hiraukan kataku. Dia ketuk lagi pintu itu. Pintu yang didalamnya tinggal laki-laki yang sangat dicintainya, yang kini mencampakkannya.<br />
“Ayo, Ris. Pulanglah….” Bujukku sekali lagi.</p>
<p>Belum selesai aku bicara, terbukalah pintu itu. Keluarlah laki-laki gagah yang sejak tadi dinantinya.<br />
“Mas… .”<br />
“Mau apa kamu ke sini?!” bentak laki-laki itu,<br />
“Kenapa kau selalu mengganggu hidupku. Pergi kau dari sini.”<br />
Didorongnya Risma dan dibantinglah pintu itu. Pintu itu tertutup. Lagi.</p>
<p>Risma terisak. Sambil di gedornya pintu itu.<br />
“Mas, kandunganku sudah tujuh bulan. Ini anak kita, Mas.”<br />
“Ris, ayo pergi dari sini. Tidak kah kau malu mengemis pada laki-laki bajingan macam dia itu’” bujukku.<br />
Risma masih terisak. Terus berusaha memanggil laki-laki itu. Namun, sekeras apapun ia berusaha, tak ada yang mengindahkannya. Malam semakin larut, tanpa kata dia beranjak dari depan pintu itu. Aku mengikutinya.<br />
***<br />
Risma adalah gadis yang penuh semangat. Seakan dia punya cadangan semangat didalam sakunya. Yang siap mengisi, bahkan sebelum semangatnya sempat redup. Dia adalah seorang gadis penjaga kios buku tempat aku berlangganan. Dia seumuran denganku. Namun dia kurang beruntung. Selepas SMA dia tak bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Menjaga kios buku merupakan pilihannya. Dengan ini, dia bisa melampiaskan semangat belajarnya yang masih sangat kuat. Dia bisa dengan leluasa membaca buku di sana. Aku kagum dengan semangatnya.</p>
<p>Kami berteman baik. Setiap aku ke kios bukunya, dia selalu bertanya apa saja yang aku alami di kampus. Ada berita apa. Bahkan kabar dosen pun ia tanyakan. Terkadang aku sedikit kualahan menjawab pertanyaannya.<br />
“Gimana kuliahmu tadi?”<br />
“Eh, Bu ini tadi masuk nggak?”<br />
“Kemarin aku baca di Koran, kampusmu menang olimpiade, ya ? Wah…keren.”<br />
Dan sederet pertanyaan lain.</p>
<p>Suatu ketika datanglah seorang laki-laki membeli buku di kiosnya. Sesosok lelaki yang konon menjadi lelaki idaman Risma. Yang kadang membuatku iri kalau dia menceritakan lelaki itu kepadaku. Cemburukah aku ? Hem… mungkin.<br />
Sejak pertemuan pertama mereka itu, laki-laki itu sering berkunjung ke kios Risma. Tak jarang mereka pergi jalan berdua. Hanya sekedar untuk menghirup udara malam kota Jogja.<br />
Hubungan mereka semakin dekat. Sampai suatu saat dimana Risma mendapati dirinya tengah hamil. Aku pun syok ketika Risma menceritakan hal itu. Kecewa. Tak kukira akan sejauh itu hubungan mereka.</p>
<p>Tanpa sepengetahuanku, didatanginya laki-laki itu.<br />
“Kau hamil?!” laki-laki itu terkejut,<br />
“Jangan ngomong macam-macam kau ini.”<br />
“Itu tidak mungkin. Kau pasti sudah tidur dengan laki-laki lain. Pergi kau dari sini. Jangan pernah datang lagi kemari.”</p>
<p>Itulah hari pertama pintu itu tertutup untuk Risma. Hari pertama pula senyum berkhianat padanya. Dan entah kemana larinya semangat yang selalu ia jaga. Dan hari dimana aku sadar, bahwa sesungguhnya aku mencintaimu, Risma. <a href="http://lpmpendapa.com/2011/08/03/penantian-tak-berujung-2-habis/">Bersambung.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lpmpendapa.com/2011/07/12/penantian-tak-berujung-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

