TRI PUSAT PENDIDIKAN DALAM BALUTAN FILM KELUARGA CEMARA

Sumber: mesin pencarian

Judul Film : Keluarga Cemara
Sutradara : Yandy Laurens
Naskah : Arswendo Atmowiloto
Pemeran : Abah (Ringgo Agus Rahman), Emak (Nirina Zubir), Euis (Adhisty Zara), Cemara/Ara (Widuri Sasono)

Kisah keluarga kecil nan sederhana di balik rumah kayu yang dihuni empat manusia yakni Abah, Emak, dan dua orang anak. Film yang bertajuk sinema keluarga ini dirilis pada 13 November 2018 di Jakarta, Indonesia. Terinspirasi dengan serial televisi legendaris era 90’an, “Keluarga Cemara” lahir dari buah karya Arswendo Atmowiloto dengan kolaborasi visual bersama sutrdara Yandy Laurens.
Singkat cerita, tokoh Abah yang terpaksa membawa istri (dalam film ini di panggil dengan sebutan Emak) serta kedua anaknya Euis dan Cemara/Ara. Mereka pindah ke rumah sederhana di pedesaan akibat bangkrut karena ditipu. Kehidupan yang sederhana dan serba pas-pasan mengharuskan mereka untuk bisa menyesuaikan diri di tempat baru. Ketidakmungkinan menang di sengketa perjanjian hutang membuat mereka harus tinggal untuk waktu yang lama.
Dalam menjalani kehidupan barunya, abah mengalami kesulitan untuk mencari pekerjaan, hingga pada akhirnya Abah memilih menjadi kuli bangunan. Di tengah krisis ekonomi keluarga, kebahagiaan yang sekaligus menjadi masalah baru adalah dengan adanya berita kehamilan Emak. Namun, kebahagian tetap hadir dalam keluarga tersebut dengan energi ceria yang ditularkan sang anak kedua, Ara menyambut kehadiran adiknya. Tentu saja keadaan yang ada menuntut Abah untuk bekerja lebih giat agar kebutuahn ekonomi dan persiapan persalinan dapat terpenuhi. Hingga pada suatu ketika, Abah terjatuh saat bekerja.
Meski penyajian konflik film “Keluarga Cemara” cukup sederhana, jalan cerita yang dibangun sangat menguras emosi dan air mata penonton. Alur emosional yang disajikan sangat unik, beberapa kali penonton disuguhkan adegan yang membuat tertawa terpingkal-pingkal kemudian dibuat menangis secara bersamaan. Konflik-konflik sederhana dalam lingkup keluarga kerap ditampilkan di film ini, seperti anak yang melanggar aturan dan keusilan naluri anak yang juga ditampilkan. Namun karena arus emosi yang terbangun dari awal sudah memuncak, seolah-olah adegan seperti itu sudah melebur dan tetap menarik di mata penonton.
Tema keluarga dalam film “Keluarga Cemara” dengan alur cerita yang sangat menyentuh, merefleksikan pendidikan di keluarga. Sosok Abah dan Emak yang harus senantiasa menghadapi permasalahan dengan berkepala dingin di depan anak-anaknnya. Sebagai orang tua, mereka harus tahu posisi diri dalam menyelesaikan masalah. Usia dan karakter anak yang berbeda juga memiliki pengaruh terhadap tata cara orang tua mendidik dan membimbing. Bagaimana di dalam keluarga harus mampu meluruskan kesalahpahaman dengan memberi kesempatan dan pengertian satu sama lain, meski beberapa kali Abah–dalam film– lepas kontrol.
Sinema “Keluarga Cemara” juga mengajarkan sikap percaya diri dan kemauan untuk anak-anak keluar dari zona nyaman. Euis harus masuk di sekolah baru dengan segala kekurangannya serta keharusan membantu Emak menjual opak. Sedangkan Ara dengan kesedihanya mendapat peran pohon Cemara dalam pagelaran di sekolah. Kisah yang digambarkan dari sosok Euis dan Ara mengajarkan untuk bisa menerima dan lapang dada dalam mendapatkan sesuatu yang belum tentu diinginkan. Ara yang bisa sekamar dengan Euis, serta Abah yang bisa lebih lama menghabiskan waktu di rumah setelah bekerja, memberi gambaran bahwa kesederhanaan membuat hubungan dalam keluarga lebih hangat karena intensitas untuk berkupul lebih banyak.
Istilah Tri Pusat Pendidikan yang dicanangkan bapak Pendidikan Indonesia yakni Ki Hadjar Dewantara sangat relevan dengan film “Keluarga Cemara”. Banyak nilai pendidikan keluarga yang dimunculkan dalam film ini yang diimbangi dengan pendidikan formal seperti sekolah dan pendidikan di lingkungan masayarakat Keluarga Cemara. Gambaran pendidikan sekolah Euis dan Ara tetap menjadi bagian yang diutamakan meski terbatasi dengan konsisi perekonomian keluarga. Lagi-lagi peran guru sangat penting dalam mengayomi anak didik baru agar mampu bersosialisasi dan mengeksplor kemampuan.
Seimbang dengan kondisi pendidikan yang di dapat di lingkungan masyarakat, dalam film “Keluarga Cemara” sangat cermat menyeimbangkan Tri Pusat Pendidikan. Terbukti dengan scene Euis dan Ara dalam pergaulannya di masyarakat yang terbantu akibat tangan terbukanya warga setempat. Emak yang sangat tertolong oleh keceriaan yang diperankan tokoh Ceu Salma (Asri Welas) dan kondisi ekonomi berangsur membaik dengan omset penjualan opaknya. Euis yang bersahabat dengan teman-teman barunya, keterlibatan Ara dalam kegiatan sekolah, dan tak lupa ketulusan warga yang dengan senang hati membantu Abah dikala susah. [P]