Kebarat-baratan yang Lupa Daratan

Salah asuhan adalah sebuah novel karya Abdul Muis, seorang pengarang zaman Balai Pustaka yang berasal dari Minangkabau. Ia merupakan salah satu pejuang kebangsaan Indonesia yang se-zaman dengan H.O.S. (Hoogere Burger School) Cokroaminoto dan Ki Hadjar Dewantara. Novel bergenre romantis klasik ini ditulis pada tahun tahun 1927 dan pertama kali dicetak pada tahun 1928.

Orang Bumiputera tentulah harus berlaku dan bersikap, menurut aturan hidup orang Timur, yakni orang Indonesia. Namun, tokoh Hanafi dalam novel Salah Asuhan tidak menyukai sikap dan perilaku hidup Bumiputera. Kaum Bumiputera dipandangnya rendah sedangkan kaum Eropa memiliki drajat yang tinggi. Jika bukan karena hubungan darah antara ibu dan anak, mungkin ia telah lama memutuskan kehidupanya untuk meninggalkan adat-adat dan budaya orang timur, terkusus pada bangsa melayu.

Ketidakseimbangan hubungan sosial pada masa itu, dalam novel ini diperlihatkan dengan adanya benturan kebudayaan, yaitu nilai-nilai tradisi modern antara nilai-nilai timur dan barat. Dalam pergaulan dunia barat yakni orang Eropa, pergaulan antara laki-laki dan perempuan diberikan kebebasan dan dianggap hal yang biasa. Lain halnya dalam aturan budaya timur, orang Bumiputera akan menganggap budaya yang bebas menjadi suatu hal yang tabu dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan, meskipun itu adalah dengan karibnya sendiri.

Di awali dari kisah perjalanan asmara Corrie dan Hanafi, dua insan yang lahir dari darah budaya dan adat yang berbeda. Corrie adalah anak tunggal dari Tuan De Busse yang berdarah berkebangsaan Prancis. Sedangkan Istri tuan de Busse adalah seorang Bumiputera yang telah lama pergi meninggalkan tuan De Busse dan putrinya; Corri. Lain sisi, Hanafi adalah kelahiran darah asli Bumiputera yang berasal dari keluarga kelas bawah, bagi tataran sosial yang diterapkan pada zaman Hindia-Belanda. Hanafi diasuh oleh sang Ibu karena ayahnya meninggal waktu ia masih kecil, hingga akhirnya Hanafi di sekolahkan dan dibesarkan di lingkungan orang-orang Belanda.

Pendidikan tinggi, paras yang cantik, dan kepiawaian Corrie dalam membawa diri membuat Hanafi jatuh hati. Namun bagi Corrie, Hanafi hanyalah seorang sahabat. Umur Corrie yang jauh lebih muda dari Hanafi, membuat Corrie menganggap hubungan mereka seperti seorang kakak dan adik atau saudara tua. Namun Hanafi tetap menginginkan hubungan mereka lebih dari seorang adik kakak atau sahabat.

Menerima Hanafi sebagai suami bagi Corrie haruslah melalui pertimbangan dari sang ayah; Tuan De Busse. Bagi Tuan De Busee, jika pendamping hidup Corrie adalah seorang Bumiputera maka akan ada perbedaan antara bangsa barat dan bangsa timur. Bagi orang barat jika nyonya (perempuan) barat bersuamikan keturunan Bumiputera, maka akan dipandang sebagai orang yang membuang diri dari bangsanya. Dalam undang-undang wanita akan dikeluarkan dari hak orang Eropa. Terlebih jika nyonya Eropa tersebut sampai memiliki keturunan dengan laki-laki Bumiputera, maka akan mengurangi derajat sebagai orang Eropa. Begitu pula sebaliknya, apabila seorang Bumiputera beristrikan orang Eropa, maka tidak akan dianggap lagi oleh bangsanya sendiri dan keluarga akan memutuskan segala hubungan dengan orang tersebut.

 Tuan De Busse berupaya menjauhkan Corrie dari Hanafi. Pada masa liburan sekolah telah usai, Corrie kembali ke Betawi. Hanafi merasa ditinggalkan dan dikhianati oleh Corrie; seorang nona Eropa yang sangat dicintai dan dirindukannya. Tadir berkata lain, Ibu Hanafi  menginginkan Hanafi menikahi Rapiah anak Sutan Batuah saudara kandungnya. Ibu Hanafi merasa ia telah berhutang uang dan hutang budi kepada saudaranya tersebut. Bagi Ibu Hanafi, Rapiah lah yang cocok untuk Hanafi, terlebih karena perangainya baik dan berpendidikan seperti Hanafi serta sama-sama Bumiputera orang melayu.

Pernikahan pun dilaksanakan, meskipun Hanafi sama sekali tak mencintai Rapiah, mereka dikarunia anak bernama Syafe’ih. Hanafi menganggap Rapiah adalah Istri pemberian ibunya. Bagi Hanafi Rapiah adalah seorang perempuan yang kaku dan takut pada orang-orang Belanda, tidak bisa membawa diri dalam bergaul dengan teman-temannya. Ia dianggap pembantu oleh Hanafi, karena pekerjaannya hanya sibuk di dapur. Sedangkan Hanafi menginginkan istri seperti Corrie yang pandai dalam bergaul. Bukan hanya berperilaku buruk terhadap Rapiah, tetapi juga  pada ibunya ia menjadi durhaka.

Namun di waktu lain, Hanafi bertemu kembali dengan Corrie di Betawai. Tuan De  Busse telah meninggalkan Corrie untuk selamanya, sehingga ia sangat membutuhkan seseorang yang mau menemani dan menghiburnya, dan dia Hanafi. Akhirnya mereka berdua pun menikah, Hanafi mengganti kewarganegaraannya menjadi warga negara Belanda, disamakan kedudukannya dengan orang-orang Belanda. Rumah tangga mereka tidak berlangsung lama, Corrie pergi meninggalkan Hanafi untuk selamanya, setelah perselisihan keduanya terjadi hingga Corrie pindah ke Semarang. Bagi Hanafi hidup setelah berpisah dengan Corrie terasa sangat berat. Hanafi memutuskan untuk kembali ke Solok untuk menemui Rapiah, Syafe’i dan Ibunya. Namun keluarga Rapiah sama sekali tak mengizinkan Hanafi untuk bertemu dengan anaknya.

Melalui tokoh Hanafi penulis mengkritik sikap dan tingkah laku kaum borjuis (kelas masyarakat dari golongan menengah ke atas) yang kebarat-baratan dan lupa daratan. Tokoh Hanafi dianggap menyimpang dari nalai-nilai hidup orang timur. Hanya karena cinta kepada wanita, Hanafi durhaka pada ibunya dan jauh tersesat meninggalkan agama. Seakan dunia barat menjadi pusat peradaban yang mutakhir bagi Hanafi. Mulai dari gaya hidup, pendidikan, cara bersosial, dunia barat dipandang memiliki pengaruh besar dalam peradaban, akan tetapi kemaujaun yang didapat dari dunia barat baiknya tanpa melupakan tradisi dan akar budaya bangsa sendiri.. Dengan kehidupan yang sok kebarat-baratan lalu lupa daratan.

Pesan lain yang ingin disampaikan penulis adalah bahwa tingginya pendidikan seseorang tidak menjamin baik buruknya peringai seseorang. Tokoh Hanafi adalah seorang Bumiputera yang bersekolah tinggi, paham akan Ilmu, dan lain sebagainya. Namun ia hanya sebatas tahu tapi tak mampu untuk menerapkannya dalam kehidupan. Novel ini cocok dibaca dari segala usia, karena sarat akan pesan moral, meskipun bahasa yang digunakan terlalu formal untuk ukuran zaman sekarang sehingga terlihat kaku dan pembaca harus membacanya berulang untuk lebih memahami tiap kalimatnya.

Judul buku : Salah Asuha

Penulis            : Abdoel Muis

ISBN               : 978-979-407-064-2

Hal                  : 273

Penerbit           : PT Balai Pustaka (persero). [P]