HARDIKNAS: Apa Kabar Sensitivitas Mahasiswa Terhadap Pendidikan Indonesia?


“Tadi kita ada audiensi dengan DPRD Provinsi dan mereka memberikan ruang kepada kita, jika ada rapat DPR kita bisa ikut,” ungkap Urlik. Saat ditemui PENDAPA, Ulrik menyatakan perlu adanya persatuan mahasiswa dan perjuangan dari mahasiswa dalam memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. ”Mahasiswa harus bersatu untuk mewujudkan tujuan yang sama untuk mengawal kebijakan pemerintah dalam hal pendidikan,” Ungkap
Urlik Hufum August selaku koordinator umum dalam aksi tersebut

Kamis, 02 Mei 2019 beberapa gabungan massa melakukan aksi dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Massa terdiri dari Aliansi Cipayung Plus DIY bersama Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (DEMA FITK UIN SUKA) dan Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (KBM UST) melakukan aksi long march dari Parkiran Abu Bakar Ali menuju 0 Km Yogyakarta. Aksi tersebut merupakan bentuk respon dari massa terhadap momemtum Hari Pendidikan Nasional.  

Urlik Hufum August selaku koordinator umum dalam aksi tersebut mengatakan bahwa dalam peringati Hari Pendidikan Nasional, mahasiswa memilik peran penting di dalamnya.

“Tadi kita ada audiensi dengan DPRD Provinsi dan mereka memberikan ruang kepada kita, jika ada rapat DPR kita bisa ikut,” ungkap Urlik. Saat ditemui PENDAPA, Ulrik menyatakan perlu adanya persatuan mahasiswa dan perjuangan dari mahasiswa dalam memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. ”Mahasiswa harus bersatu untuk mewujudkan tujuan yang sama untuk mengawal kebijakan pemerintah dalam hal pendidikan,” tambahnya.

“Kami melakukan konsolidasi selama tiga kali. Pertama bersama dengan GMNI, PMKRI, HMI, KMHDI, kedua bersama DEMA FITK UIN SUKA, dan yang ketiga bersama KBM UST,” jelas Ukrik

Yansen Landomari selaku Ketua MMU UST menjelaskan alasan bergabung dengan Aliansi Cipayung. Bahwasannya dalam aksi demokrasi tersebut mempunyai tujuan yang sama yakni mengenai kondisi pendidikan hari ini yang dinilai banyak masalah dan tidak sedang baik-baik saja.

“Dari UST sendiri cuma menuntut diterapkannya ajaran Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan Nasional sekarang ini tidak sesuai lagi, jadi kita menuntut itu agar relevansi ajaran Ki Hajdar Dewantara di Pendidikan Nasional diterapkan lagi,” tegas Yansen.

Partisipasi yang kurang dari mahasiswa UST mendapat tanggapan langsung dari ketua MMU; Yansen. “Jadi pergerakan mahasiswa sekarang itu luntur karena banyaknya tugas kuliah yang ada dan kewajiban dating kuliah. Padahal kita tahu sendiri bahwa hari ini 2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional juga hari lahir ki Hadjar Dewantara,” Pungkasnya.

Adapun press Realease yang diedarka memuat pernyaatan sikap dari Cipayung Plus DIY bersama DEMA FITK UIN SUKA dan KBM UST mendesak pemerintah agar:

  1. Pemerintah segera melakukan evaluasi kebijakan full day school.
  2. Menolak kapitalisasi , liberalisasi, komersalisasi pendidikan.
  3. Memberikan akses pendidikan yang layak demi pemerataan pendidikan.
  4. Membuat payung hukum untuk tenaga pendidik dan kesejahteraan tenaga pendidik.
  5. Melakukan pengawasan yang intens terhadap kualitas tenaga, dan anggaran pendidikan. [P]