SEXY KILLERS: MEMPERLIHATKAN OLIGARKI POLITIK INDONESIA


“Kegiatan seperti ini menurut saya penting, mahasiswa tetap kristis. Jika ada yang sesuatu yang menarik untuk didiskusikan maka didiskuikan aja, karena mahasiswa itu semua pengetahuan bias diolah bersama. Mulai dari film ini kita bias melihat bahwa ada tugas mahasiswa yang menunggu dari kajian-kajian yang dibuat dalam bentuk karya tulis untuk mahasiswa,” tambah Hieronimus.

Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) Indonesia kemarin, Kita semua digegerkan dengan rilisnya film documenter produksi Watchdoc. Senin, 22 April 2019 Majelis Mahasiswa Fakultas Ekonomi (MMFE) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta menggelar diskusi dan nonton bersama film Sexy Killers yang diselenggarakan di ruang 307 lantai 3 FE UST.

Acara tersebut merupakan program kerja dari divisi Pengembangan Sumber daya Manusia (PSDM). Tri Iswanto Iswan selaku koordinator PSDM mengaku bahwa mereka sering mengadakan diskusi, tetapi belum pernah mengadakan bedah buku ataupun film, dan ini kali pertama di MMFE.  “Makanya kami membedah film dokumenter yang berjudul Sexy Killers, sehingga kita tahu bagaimana menanggapi isu-isu atau permasalahan yang ditanggung masyarakat sekarang,” tambahnya.

Pemutaran film dan diskusi yang digelar selepas Pemilu pada 17 April 2019, membawa antusias bebrapa mahasiswa. Kegiatan tersebut dihadiri oleh pengurus MMFE, Mahasiswa Akuntansi, mahasiswa Manajemen dan beberapa mahasiswa dari luar FE seperti Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik.

“Kalau timeing, bagusnya sebelum pemilu kemarin. Dan sebenarnya film itu tidak mengajak untuk golput, tetapi dari film itu kamu akan bisa melihat bahwa yang kamu dukung di tanggal 17 kemarin, mereka adalah penjahat lingkungan,” ungkap Hieronimus Heron selaku Fasilitator dalam acara ini. 

Saat ditemui Tim dari PENDAPAnarasumber mengatakan bahwa mahasiswa perlu menonton ini karena film ini memperlihatkan bagaimana oligarki itu bekerja, bagaimana elitpolitik dan ekonomi saling mendukung, bahkan pemilik partai politik menjadi pengusaha tambang. Di film Sexy Killers, kita bisa melihat itu dengan sangat jelas.

“Kegiatan seperti ini menurut saya penting, mahasiswa tetap kristis. Jika ada yang sesuatu yang menarik untuk didiskusikan maka didiskuikan aja, karena mahasiswa itu semua pengetahuan bias diolah bersama. Mulai dari film ini kita bias melihat bahwa ada tugas mahasiswa yang menunggu dari kajian-kajian yang dibuat dalam bentuk karya tulis untuk mahasiswa,” tambah Hieronimus.

Bagas Ponco sebagai peserta diskusi turut memberikan pandangan mengenai film Sexy Killers yang menyeret perpolitikan Indonesia. “Sangat menarik bagi saya, sebagai seorang mahsiswa yang mana ada pengetahuan yang disematkan dalam sebuah film berdurasi panjang. Ada sedikit perdebatan disana yang mana diperdebatan itu juga dapat ditarik kesimpulan bahwa mahasiswa UST khusunya Fakultas Ekonomi harus sadar akan lingkungan dan sadar akan energy terbarukan. Mahasiswa juga harus memandang dalam dari sisi politik yakni keterlibatan dua calon presiden yang memiliki andil dalam perusahaan tambang yang ada di video tersebut,” jelas Bagas.

Peluncuran film Sexy Killers menjadi bahan untuk mengkritisi kondisi Indoneisa saat ini. “Poin konkret film Sexy Killers ini sebenarnya terkait energi terbarukan. Cuma yang menjadi pertanyaan saya apakah ada tindaklanjut dari produser dari film ini?“ Pungkas Anam Selaku Wakil Ketua MMFE.

Iswanto kembali menyampaikan mewakili divisi PSDM,bahwa agenda diskusi semacam ini diadakansebulandua kali.Bagimahasiswayang belum ikut berpartisipasi diharap berinisiatif membuka diri dan ikut serta dalam kegiatan yang memiliki muatan postif.[P]