POJOK PERJUANGAN ASPIRASI MAHASISWA EKONOMI

Majelis Mahasiswa Fakultas Ekonomi (MMFE) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, menggelar diskusi terbuka pada Senin (11/04/2019). Diskusi dengan tema “Peran Mahasiswa dalam Merestorasi Demokrasi Ekonomi” yang merupakan salah satu program unggulan MMFE dengan nama Pojok Perjuangan.

Diskusi Pojok Perjuangan perdana tersebut dihadiri oleh lembaga mahasiswa UST dan beberapa mahasiswa, khususnya Fakultas Ekonomi. Irfan Dayu sebagai pemantik diskusi menyebutkan tiga poin penting dalam diskusi tersebut. Pertama mengenai peran mahasiswa, kedua melakukan restorasi, dan yang ketiga adalah demokrasi ekonomi.

Ahmad Yani, salah satu peserta diskusi mengungkapkan adanya Pojok Perjuangan merupakan pergerakan baru bagi mahasiswa khususnya di Fakultas Ekonomi untuk mengembangkan intelektual dan silaturahmi. “Pojok Pejuangan hadir sebagai wadah untuk menghidupkan dialektika dan intelektual mahasiswa yang akhir-akhir ini sudah hampir mati dan jarang kita temukan di lingkungan kampus,” tambah Ahmad Yani.

Bagi Ahmad Yani mengikuti diskusi yang telah berlangsung dari awal hinggal selesai, sebagai bentuk keresahan akan demokrasi ekonomi dan demokrasi politik saat ini. Peran mahasiswa adalah mengontrol kebijakan-kebijakan politik, menyesuaikan cita-cita demokrasi ekonomi, dan demokrasi politik. Mahasiswa sejatinya memiliki peran aktif dalam mengangkat isu-isu yang sedang hangat, terkhusus ekonomi dan politik. “Ini menandakan  bahwasannya sistem demokrasi sedang tidak baik sehingga tidak memiliki kedaulatan dalam hal demokrasi. Saya berharap agar forum-forum seperti Pojok Perjuangan agar tetap hidup dan lebih bergairah lagi kedepannya,” tegasnya.

Mario Firmansyah selaku ketua MMFE mengungkapkan, Pojok Perjuangan lahir karena melihat semangat diskusi yang kurang khususnya di lingkungan kampus. Mario menyebutkan fokus utama dari Pojok Pejuangan ialah isu-isu ilmu ekonomi. Namun Mario juga menyebutkan tidak tertutup terhadap isu-isu dan ilmu lainnya. “Diskusi Pojok  Pejuangan kondisional artinya kalau waktu-waktu memungkinkan tiga kali sebulan dilaksanakan, kita akan melaksanakan tiga kali sebulan,” pungkasnya.[P]