Tong Kosong Kebebasan Berekspresi

ilustasi: persma.org

Apa yang terjadi pada Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suara USU pada Senin, 25 Maret 2019 ini mengingatkan kami pada sesuatu yang juga kami rasakan pada 2016 lalu. Kalau awak Suara USU dipecat, kami dibekukan. Tentu faktor penyebabnya berbeda, akan tetapi ada satu kesimpulan yang dapat kami tarik dari dua peristiwa di atas. Bahwa pemangku kebijakan di kampus hampir selalu menjadi pihak yang berseberangan dengan pers mahasiswa (persma).

Hubungan keduanya hampir selalu renggang. Bisa dibuktikan dengan maraknya kasus tentang pembredelan, ancaman, juga pemecatan yang menimpa kawan-kawan persma karena dianggap tidak sesuai dengan keinginan dan visi birokrasi kampus.

Persoalan Suara USU pun berkaitan dengan term kebebasan berekspresi. Pangkal ‘masalah’-nya bermula dari cerpen berjudul “Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya”. Dalam cerita itu, menurut rektor USU, Runtung Sitepu, ditemukan unsur-unsur pornografi dan dianggap bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut USU.

Kami cukup menyayangkan prasangka buruk tersebut. Kampus sebagai ruang akademik, seharusnya mengakomodasi ekosistem kebebasan berpikir yang dapat menunjang tumbuhnya pikiran serta gagasan-gagasan kritis, demi menghindari terulangnya kepincangan nalar. Birokrasi kampus pun jangan hanya bersikap sebagai penyedia, tetapi juga harus mampu mengimplementasikan nilai-nilai kritis dan argumentatif dalam kesehariannya.

Menurut Karl Jasper yang kami kutip dari Geotimes, Kampus atau Universitas adalah tempat bertemunya silang gagasan antarberbagai disiplin ilmu. Jasper mengandaikan Universitas sebagai semacam School of Thought¸ yakni suatu problematika dapat ditelaah dari berbagai perspektif yang saling mempengaruhi satu sama lainnya (Jasper: 1959, hlm 69). Untuk itu, universitas/kampus pada dasarnya merupakan kumpulan warga-warga yang hendak mencari kebebasan dan kebenaran secara penuh.

Namun dengan maraknya peristiwa yang tidak menyenangkan terhadap persma, peran kampus sebagai ‘kebun intelektual’ menjadi semakin diragukan. Birokrasi kampus seakan ‘menjelma’ sebagai musuh dalam tiap lakon persma. Dengan biasnya, mereka menghambat dan berusaha mematahkan pikiran-pikiran kritis serta kreatif anak didiknya. Hegemoni itu pula yang kemudian turut menebang potensi dan membakar habis ‘kebun’ itu untuk selanjutnya diganti dengan tanaman-tanaman industri.

Kami ingin bertanya pada pihak yang gemar mengambil jalan pintas dengan beredel dan pecat, kira-kira kehidupan bermasyarakat seperti apa yang hendak kalian bentuk? Kebiasaan berprasangka buruk tanpa analisa dan berpikir instan? Atau apa?

LPM Pendapa turut bersedih atas apa yang terjadi pada awak Suara USU. Kami mengecam betul tindakan pengekangan itu, mencederai akal sehat dalam kehidupan intelektual.

Mereka mungkin bisa mengambil benda dan jabatan, tapi tidak dengan idealisme kalian. Panjang umur perjuangan, panjang umur Suara USU!

Redaksi