Futsal FE UST (Kaya Prestasi, Miskin Apresiasi ?)

Foto: Tim Futsal FE UST/Pendapa

Yogyakarta, Futsal FE UST yang dianggap sebagai tim kuda hitam dalam kejuaraan nasional ArtefacUNS 17-22 Maret 2019 di Solo, ternyata mampu lolos ke semifinal dan menyabet juara 4. Sebagai tim debutan, meraih empat besar dari 16 tim futsal tingkat universitas se-Indonesia merupakan hasil positif yang patut diapresiasi.

Persiapan tim Futsal FE UST untuk mengikuti turnamen ArtefacUNS terbilang cukup singkat. Mulai memilih pemain, persiapan fisik para pemain, sampai perizinan mengikuti turnamen. Semuanya hanya dilakukan selama satu bulan. Akan tetapi, dengan waktu yang sesingkat itu mereka mampu menunjukkan kemampuannya untuk mengimbangi bahkan mengalahkan tim-tim lain.

Tentu bukan sesuatu yang mudah menjadi tim debutan dan meraih juara 4. Ada banyak cerita yang mengiringi perjalanan tim Futsal FE UST kali ini. Mulai dari persiapan yang mepet sampai minimnya apresiasi. “Target awal kami itu bisa lolos delapan besar. Ya minimalnya tidak gugur dalam fase grup,” ungkap Damar. Kali ini LPM Pendapa mendapat kesempatan berbincang-bincang dengan pelatih tim Futsal FE UST, Damar Norman Asmara.

Bagaimana persiapan tim sebelum berangkat ke Solo (Latihan, izin, biaya) ?

Saya mulai melatih tim Futsal FE UST pada bulan November 2018. Sebelum mengikuti kejuaraan nasional (kejurnas) di Solo (17-22/3/2019),  juga sudah mengikuti beberapa turnamen lain. Alhamdulillah dapat membawa piala dari turnamen-turnamen itu. Lalu di bulan Januari saya mendapat kabar bahwa anak-anak mau ikut kejurnas ArtefacUNS di Solo Maret ini. Mendapat kabar itu dan melihat anak-anak bersemangat, bulan Februari mulai memporsir latihan mereka. Latihan saya buat di Kaliurang juga di Imogiri. Itu untuk memperkuat fisik mereka dan sekaligus pemilihan pemain. Alhamdulillah ternyata fisik mereka kuat, dari situ juga saya mengambil 12 pemain untuk dibawa ke Solo. Kalau mengenai biaya jujur Mas. Biaya yang diberikan Universitas sangat kurang. Uang jersey, makan, transportasi, pendaftaran, penginapan, kami bayar sendiri (patungan). Biaya dari Universitas hanya dapat 500 ribu. Ini kan jelas sangat kurang. Padahal kami ke Solo membawa nama Universitas. Soal perizinan saya juga merasa sedih. Ada beberapa anak didik saya walaupun sudah mendapat izin tetapi tidak mendapat dispensasi atas tugas kuliah, padahal mereka ini pergi bukan untuk main-main. Saya merasa sedihnya di situ Mas.

Apa target awal mengikuti turnamen ini sebagai tim debutan?

Target awal kami itu bisa lolos delapan besar. Ya minimalnya tidak gugur dalam fase grup. Kami latihan dan evaluasi untuk mencapai target lolos fase grup. Akan tetapi hasilnya malah melebihi target awal kami dan menembus empat besar. Walaupun juara empat, sungguh itu prestasi bagus untuk tim debutan. Saya akui motivasi anak-anak saya tinggi, selama fase grup sampai lolos semifinal itu kemauan menang mereka sangat tinggi. Kami hanya kalah dari juara bertahan dan tim yang memang sudah matang persiapannya. Tim ini hanya di siapkan satu bulan dan saya bangga kepada mereka. Merekalah juaranya, menurut saya.

Bagaimana coach membangun mental tim hingga menembus semifinal?

Usaha mencapai sini saja sudah banyak pengorbanan yang dibuat mereka, terutama soal biaya. Sebelumnya mereka itu pinginnya pulang-pergi Jogja-Solo untuk menghemat biaya. Tetapi saya katakan “jangan”, karena itu akan memengaruhi kebugaran mereka. Akhirnya mereka patungan untuk penginapan. Selain itu juga saya benar-benar membagi waktu mereka. Kapan makan, istirahat, evaluasi, pegang hp saya batasi, saya perbanyak waktu mereka untuk mengobrol satu sama lain agar terjalin hubungan kekeluargaan. Hal itu akan sangat berefek di lapangan, karena mereka akan mengerti satu sama lain. Selain itu semangat juang anak-anak memang sudah tinggi, motivasi menang tinggi, datang ke sini bukan untuk gugur lebih awal.

Terjadi penurunan performa saat bertanding di semifinal, penyebabnya apa?

Saat lolos ke semifinal itu jelas kami merasa senang dan terbawa suasana. Awalnya kami mantap untuk bertanding, namun setelah ada perubahan regulasi yang membuat kami bertemu  tim Tax Trisakti di semifinal itu langsung membuat mental mereka memang sudah turun. Saya akui kami beda kelas dengan mereka. Komposisi pemain mereka sangat baik, juara bertahan. Mereka tim yang sudah di atas, dan kami baru ingin naik di kejurnas ini.

Pada perebutan juara tiga, apa yang membuat tim kalah? Padahal melawan tim yang sebelumnya mampu di kalahkan di fase grup.

Perbedaan kondisi yang membuat kami kalah. Di fase grup kami menang karena kondisi pemain 100% fit, tetapi dalam perebutan juara ketiga 50% pemain inti cedera, dan sudah kehabisan tenaga. Berbeda dengan mereka yang kondisi pemain lebih fit. Kami sudah kalah sebelum bertanding.

Hal yang ingin disampaikan kepada tim?

Saya berulang kali mengatakan ini kepada mereka “Kalau ada yang merendahkan kalian bilang saya, saya yang harus disalahkan, saya yang harus di evaluasi bukan kalian, karena saya seorang pelatih”. Bagi saya pribadi, mereka adalah juaranya. Berangkat hanya dengan motivasi. Berangkat bisa saya katakan dengan modal sendiri walaupun membawa nama universitas. Kurang apresiasi dalam banyak hal, dengan semangat juang mereka mampu menjadi empat besar nasional. Saya berharap, kedepannya ada apresiasi bagi mereka yang berprestasi di luar bidang akademik.

Hal yang ingin disampaikan kepada pihak kampus?

Lebih memperhatikan UKM Futsal ini, baik dari segi finansial, pendampingan, apresiasi, ya setidaknya dilepas dengan rasa bangga lah untuk mereka yang ingin bertanding, dan menyambut mereka yang berprestasi. UKM ini juga butuh secretariat. Saat ingin berlatih, tidak lagi memikirkan patungan bayar lapangan, bayar pelatih, dan lain-lain. Mereka ini adalah duta kampus pada saat kegiatan-kegiatan nasional seperti ini. Ketika berprestasi ya diapresiasi, karena juga bisa menjadi market universitas untuk memperkenalkan universitasnya di luar bidang akademik. Universitas lain sudah melakukan itu, lalu kita kapan? Masa harus mereka anak-anak didik saya berkorban lagi untuk segala sesuatunya? Begitu harapan saya kedepannya.

Target selanjutnya untuk mengikuti turnamen kedepannya?

Dekat-dekat ini saya melarang mereka ikut turnamen, karena harus istirahat mengembalikan stamina. Akan tetapi, untuk target kami ingin ikut LIMA (Liga Mahasiswa) dan kejurnas di Malang. Ya semoga saat itu tiba, pihak universitas sudah lebih mengapresiasi segala halnya. [P].

Reporter : Rendy Novrianto

Editor : Arif Eko