KPU Kampus Sepi Peminat

Hmmmmmm 10 jam

Dokumentasi: Laeli Choerun N


“Saya merasa sangat terbantu, kan ini pemilihan pertama, itu sangat mempermudah orang yang di luar daerahnya untuk melakukan pemilu (pemilihan umum) di tahun 2019 ini,” ungkap Erni Astiani.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta membuka tempat pindah memilih calon Presiden (capres) dan calon wakil Presiden (cawapres) bagi mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST). Pelayanan pengurusan dokumen dilakukan di lantai 1 Hall Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UST mulai Selasa – Rabu (12 – 13 Maret 2019).

Disediakannya tempat pindah memilih, sebagai upaya mengurangi jumlah golongan putih (golput) oleh mahasiswa. “Kita menjaring mahasiswa yang tinggal di luar daerah (Yogyakarta) agar bisa mengurus pindah memilih langsung di kampus,” ungkap Yeti selaku Panitia Pemungutan Suara Divisi Data Kelurahan Semaki.

Layanan yang dibuka pukul 08.00 – 15.00 WIB dan pertama kalinya diadakan di UST tercatat sekitar 200-an mahasiswa yang mendaftar. Layanan yang juga disediakan di beberapa kampus di Yogyakarta tersebut mendapat respon positif. Salah satunya mahasiswa UST asal Sumatera Selatan. “Saya merasa sangat terbantu, kan ini pemilihan pertama, itu sangat mempermudah orang yang di luar daerahnya untuk melakukan pemilu (pemilihan umum) di tahun 2019 ini,” ungkap Erni Astiani.

Adanya antusias yang dirasakan Erni, tidak disambut baik oleh teman-teman seperantauan yang kemungkinan tidak kembali ke kampung halaman pada April mendatang. “Saya sudah mengajak semua temen-temen yang anak rantau, tetapi hanya beberapa yang mau ikut berpartisipasi.” tambah mahasiswa Fakultas Ekonomi ini.

Karena satu suara sangat berpengaruh untuk Indonesia 5 tahun mendatang, Yeti menegaskan ketidakpedualian mahasiswa yang golput, sama halnya dengan tidak peduli terhadap negara. “Kalau golput berarti kita tidak peduli dengan negara. Setidaknya kalau memilih, kita ikut serta dalam membangun negara kita, gitu,” jelasnya.

Selaras dengan yang disampaikan perempuan berusia 40 tahun ini, Erni menganggap kesadaran mahasiswa mengenai golput terhadap Indonesia masih kurang. “Karena kan ini menyangkut negara, kalo bukan kita yang memiliki kesadaran sebagai mahasiswa, mau siapa lagi yang membantu negara ini supaya maju,” ungkapnya. [P]