Kelanjutan Pemanggilan Jurnalis BPPM Balairung

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Kamis (17/01/2019), terjadi pemanggilan kali ke dua dari pihak kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kepada anggota BPPM Balairung, yaitu Thovan Sugandi selaku editor sebagai saksi kasus dugaan pemerkosaan mahasiswi UGM bernama Agni (bukan nama sebenarnya). Sebelumnya, Citra Maudy selaku penulis artikel “Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan” sudah dipanggil terlebih dahulu pada Senin (7/1/2019) lalu.

Ditemui selepas penyelidikan, Direktur LBH Yogyakarta yang juga menjadi Kuasa Hukum dari anggota BPPM Balairung, Yogi Zul Fadhli menyatakan pihaknya dari awal sudah memposisikan diri sebagai jurnalis.
“Sejak awal kami –Balairung- sudah memposisikan diri sebagai jurnalis, yang mana kemudian pada penyidik, kami sudah memberikan warning bahwa ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab secara terbuka terutama berkaitan dengan identitas narasumber.”

Hal ini selaras dengan, Kode Etik Jurnalistik Pasal 7 & UU Pers Nomor 40 tahun 1999, Pasal 4 ayat (4) yang berbunyi, “Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan mempunyai Hak Tolak.” Untuk diketahui, Hak Tolak adalah hak wartawan karena profesinya, untuk menolak mengungkapkan nama dan atau identitas lainnya dari sumber berita yang harus dirahasiakannya.

Pemanggilan ini adalah buntut polemik dari laporan pada 9 Desember 2018. Dalam laporan polisi nomor LP/764/XII/2018/SPKT, pelapor atas nama Arif Nurcahyo, yang merupakan Kepala Pusat Keamanan, Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (PKKKL) UGM. Sebelumnya, pelaporan ini dinilai janggal karena pertanyaan penyelidik terhadap Citra pada tanggal (7/1/2019) justru lebih banyak berfokus pada pemberitaan Balairung atas kasus Agni bukan pada kasus dugaan pemerkosaan. Selain itu, ke depan akan diakan konsolidasi lagi bersama Aliansi untuk BPPM Balairung guna menentukan rencana konkret berupa somasi ke pihak UGM.

Menanggapi pertanyaan mengenai langkah selanjutnya, Yogi berprinsip untuk mengikuti jalannya proses hukum. “Harapannya sih kemudian ini pemanggilan terakhir dan ke depan tidak ada lagi pemanggilan-pemanggilan lagi terhadap kawan-kawan jurnalis Balairung, terutama juga kawan-kawan yang lain yang memberitakan soal peristiwa pemerkosaan, atau apapun yang berkaitan dengan berita Persma.” Tutur Yogi.[P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *