Seminar Bulan Bahasa: Menulis, Menjaga Kearifan Lokal

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

“Kemajuan Kebudayaan Masyarakat dan Kearifan Lokal” menjadi tema utama di selenggarakannya kegiatan seminar di ruang Ki Hadjar pada Rabu, 17 Oktober 2018. Uforia peringatan Bulan Bahasa yang jatuh pada bulan Oktober, memantik mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) untuk ikut andil di dalamnya. Terlebih PBSI merupakan sallah satu penggiat bidang bahasa di Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST).

Seminar yang berlangsung formal tersebut di hadiri oleh 150 Peserta, mulai dari mahasiswa serta dosen internal PBSI, dan beberapa dari universitas lain seperti Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Sanata Darma (USD), dan Universitas Gajah Mada (UGM). Mengingat ketiga pembicara memiliki latar belakang yang berbeda-beda seperti Joko Pinurbo seorang praktisi sastra, Umi Kulsum seorang pendidik sekaligus budayawati, dan Basuki selaku ahli bahasa menjadikan suasana lebih komunikatif.

Munculnya kearifan lokal di bidang bahasa dalam seminar ini, sebagai pengingat bahwa masyarakat Indonesia berasal dari daerah yang berbeda-beda dan memiliki kekayaan akan budaya. Melihat banyaknya bahasa dan bhasa yang terkikis, menjadi problematika tersendiri bagi bangsa Indonesia menjada kekhasannya. Sehaluan dengan Andris selaku ketua panitia, momentum semacam ini menjadi wadah mahasiswa untuk berinovasi, berapresiasi, dan melestarikan kebudayaan lokal salah satunya melalui peringatan Bulan Bahasa.

Andris berharap PBSI kedepannya dapat meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam melestarikan budaya lokal melalui dunia kepenulisan. “Tanggung jawab kita dalam menggunakan bahasa Indonesia di kehidupan sehari-hari harus diperjuangkan”, pungkasnya.[P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *