Pemuda Bukan Pemandu Sorak Pilpres

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

IMG-20181105-WA0012Memasuki tahun politik, pemuda Indonesia telah diperlakukan sebagai objek marketing untuk pemenangan kedua kandidat presiden. Hal ini disampaikan oleh Dewa Putu Adi Wibawa, pemerhati demokrasi sekaligus pembicara dalam diskusi publik peringatan Sumpah Pemuda yang diselenggarakan oleh Aliansi Cipayung Plus Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Omah PMII Minggu, 4 November 2018 lalu. “Pemuda di tahun politik diperlakukan sebagai objek marketing kedua capres. Semua berdandan menarik perhatian dan dukungan pemuda,” ungkap Dewa.

Objektifikasi terhadap mahasiswa oleh kedua calon dianggap tidak sesuai dengan esensi Sumpah Pemuda. Pemuda saat ini hanya dijadikan sebagai objek-objek yang meramaikan jalannya pemilihan presiden. “Itu tidak sesuai dengan esensi Sumpah Pemuda. Padahal dalam sejarah republik, pemuda adalah subjek utama perubahan. Sekarang oleh para calon hendak dimandulkan menjadi sekadar pemandu sorak pemilihan presiden,” jelasnya.

Pria yang biasa disapa beli Dewa ini juga berpendapat bahwa potensi pemuda sebetulnya mampu untuk membawa bangsa Indonesia lepas dari persoalan-persoalan yang dihadapinya sekarang. Kemajuan teknologi informasi dan banyaknya populasi kaum muda menjadi tiang penyangga potensi itu.

Dominasi Negari-negeri imperium dan haluan ekonomi neoliberal menjadi catatan persoalan bangsa yang sedang dihadapi pemuda. “Potensi kekuatan pemuda cukup untuk membawa bangsa ini keluar dari permasalahan-permasalahannya,” tambah pria yang juga menjadi pengurus Bidang Kepemudaan Posko Menangkan Pancasila cabang DIY ini.

Ia menawarkan jalan keluar yang mestinya diambil oleh bangsa Indonesia yaitu dengan memenangkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila serta mengganti haluan ekonomi neoliberal menjadi ekonomi kerakyatan. “Jalan keluarnya, ya dengan memenangkan nilai-nilai Pancasila dan mengganti haluan ekonomi neoliberal menjadi ekonomi kerakyatan sesuai pasal 33 UUD 1945,” pungkasnya.

Agil yang juga pembicara lain dalam diskusi ini turut mengatakan bahwa organisasi kepemudaan harus bisa menjadi organisasi yang modern dan melek teknologi, sehingga merubah bangsa bisa dilakukan dengan pemanfaatan kecanggihan teknologi. “Organisasi pemuda harus bertransformasi menjadi organisasi yang modern, sehingga tidak ketinggalan dan terasing dalam masyarakat,” tegas Agil anggota DPD KNPI DIY ini.

Diskusi ditutup dengan membacakan pernyataan sikap Aliansi Cipayung Plus DIY yang diwakilkan kepada pimpinan organisasi. Bima salah satu mahasiswa yang mewakili aliansi menyampaikan agar pemerintah tidak bergantung terhadap International Monetary Fund (IMF) dan World Trade Organization (WTO), sekaligus ajakan untuk memperkuat industri nasional sebagai perwujudan perekonomian bangsa.[P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *