Kearifan Lokal dalam Puncak Pesta Pendidikan

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), komunitas Pesta Pendidikan (Pekan) mengadakan Festival Publik yang bertempat di Pendopo Agung Tamansiswa. “Acara ini merupakan gabungan dari komunitas peduli pendidikan se-Yogyakarta.” ungkap Listyo H. Kris selaku Ketua Panitia pada Rabu, 2 Mei 2018.

Kegiatan yang sudah dilaksanakan mulai  21-27 April ini dinaungan langsung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta. Kegiatan yang mengusung tema Semua Murid Semua Guru ini, diakhiri dengan acara Puncak Pesta Pendidikan. “Puncaknya hari ini.” kata Listyo atau biasa disapa Cak Lis.

Pada puncak acara ini mengundang langsung Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Permaisuri dari Sri Sultan Hamengkubuwono X. “G.K.R. Hemas mendeklarasikan bahwa anak sekarang masih butuh dolanan (permainan) anak tradisional.” tambahnya. Kegiatan yang memang bertujuan untuk mengenalkan dolanan anak tradisional ini menampilkan beberapa dolanan anak yang diiringi dengan tembangan (lagu) Jawa yang khas.

Cak Lis mengatakan bahwa dolanan anak bukan suatu hal yang ketinggalan oelah kemajuan zaman. Justru menjadi salah satu media atau syarat untuk pendidikan bagi anak-anak Indonesia. “Kita ingin kembalikan lagi di ruang-ruang keluarga, ruang-ruang kelas.” jelas Cak Lis

Cak Lis menambahkan bahwa penampil dolanan anak ini perwakilan dari siswa-siswa sekolah dasar se-DIY. Salah seorang penampil yakni Kinar Yusi Maeda Laksono mengungkapkan keseruannya dalam menampilkan dolanan anak tersebut. “Seneng, tadi nari Jamuran sama Kacang Goreng.” ungkap siswa kelas satu SD Tamansiswa Yogyakarta.

Kemudian acara dilanjut dengan pemutaran film di pelataran Pendopo Agung Tamansiswa yang bekerjasama dengan bioskop keliling. “Kita ditawari oleh Dinas Kebudayaan, Film Basiyo Mbarang Kahanan. Teman-teman yang membuat film adalah dari Sagri Citra yang kebanyakan alumni Tamansiswa.” Ujar Cak Lis.

Cak Lis menjelaskan Film Basiyo ini menceritakan sosok Basiyo yang merupakan pelawak Yogyakarta pada tahun 50an. “Kita ingin mengangkat kearifan lokal, maka saya kira judulnya sangat pas. Basiyo Marang Kahanan (Basiyo – nama pelawak, Mbarang – ngamen, Kahanan – Keadaan).” jelasnya.

Cak Lis kembali mengungkapkan pesan tentang kesederhanaan dalam film tersebut, “Orang hidup itu cukup gampang kok, jangan dibuat susah. Kita hanya bermodalkan tikar dari anyaman bambu, kita pun bisa hidup. Kalau pagi cukup kita arahkan ke arah timur, kalau siang kita lempit (lipat). Kalau menjelang malam kita gulung yang berarti kita siapkan untuk tidur di dalamnya. Adanya filosofi kesederhanaan, yang penting bersyukur dalam hidup.” pungkasnya.[P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *