May Day: Ratusan Buruh Gelar Aksi Massa

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Aksi turun ke jalan yang diikuti kurang lebih 500 buruh pekerja rumahan ini di dampingi oleh beberapa yayasan dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Seperti Serikat Perempuan Pekerja Rumahan dan Aliansi Rakyat Pekerja Yogyakarta. Aksi massa ini berpusat di titik nol Malioboro dengan aksi longmarch  dimulai dari parkiran Abu Bakar Ali, Selasa (1/5/2018)

“Proses gerakan ini dilakukan setiap tahun untuk mengampanyekan dan meminta dukungan dari publik, mendesak pemerintah agar memberikan pengakuan dan perlindungan tertulis atas hak pekerja rumahan dan buruh gendong.” ujar Madiniah selaku pendamping buruh dari LSM Yayasan Anisa Swanti.

Warisah (40th) mengaku bahwa menjadi pekerja rumahan, upah yang didapatnya sangat minim sekali, sekitar 20 ribu sampai 25 ribu perhari. Selain upah yang tidak pasti dan rendah, juga tidak ada jaminan kesehatan maupun asuransi dan fasilitas kerja yang harus ditanggung sendiri.

“Saya bekerja dengan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah -red) yang memproduksi tas yang ada di sepanjang Malioboro. Satu pieces saya diberi upah 2 ribu, saya biasanya mengerjakan sekitar 20 tas perhari, itupun jika ada order.  Jika  tidak ada,  saya tidak punya penghasilan.” tegas  Warisah.

Dengan adanya aksi massa ini, pemerintah diharapkan lebih tegas dengan hukum yang sudah. Lebih memperhatikan nasib pekerja rumahan serta buruh gendong mengenai Hak atas Kerja Layak bagi Pekerja Rumahan & Ratifikasi Konvensi ILO No. 177 dan rekomendasinya No. 189 Tahun 1996 serta mengesahkan UU Perlindungan PRT & Ratifikasi Konvensi ILO No. 189 Kerja Layak PRT. [P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *