Surat untuk Ibu Sukmawati Soekarnoputri

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Beberapa hari belakangan ini, negeri yang kita cintai dihebohkan dengan beberapa kejadian. Dimulai dari pernyataan Prabowo Subianto sampai pada puisi dari anak presiden pertama Republik Indonesia yaitu, Ibu Sukmawati Seokarnoputri tentang “Ibu Indonesia” ̶ yang dibacakan dalam acara 29 tahun Anne Avantie berkarya di Indonesia Fashion Week 2018. Negara yang kita cintai ini sedang dirundung masalah, masalah yang satu tak kunjung selesai ̶ masalah baru lekas kembali berembus. Pernyataan dari Ibu Sukmawati Soekarnoputri amat menyakitkan, sampai-sampai hal tersebut mengundang polemik di kalangan masyarakat Indonesia; terkhusus masyarakat yang beragama Islam.

Puisi Ibu Sukmawati Soekarnoputri sudah menyakiti hati saya ̶ salah seorang mahasiswa yang beragama Islam. Saya meminta, agar Ibu Sukmawati Soekarnoputri dapat sesegera mungkin melayangkan permohonan maaf secara terbuka melalui media; baik cetak, daring, maupun siar (baca: televisi). Selain itu, saya juga berharap agar pihak penegak hukum dapat segera mengambil langkah ̶ memeriksa anak dari presiden pertama Republik Indonesia tersebut. Sebab, menurut hemat saya, puisi yang dibacakan oleh Ibu Sukmawati merupakan upaya pengerdilan terhadap umat Islam.

Ibu Sukmawati yang kami cintai, Ibu adalah sejarawan, panutan bagi kami, tetapi apa yang Ibu lakukan secara tak langsung telah menyakiti hati banyak orang. Tak sedikit orang bangga pernah memiliki salah seorang presiden seperti ayahmu (baca: Ir. Soekarno), tak sedikit orang pula yang mengelu-idolakan ayahmu, tapi perlakuanmu sudah mematah-coreng nama besar ayahandamu sendiri, Bu.

Bagi saya, kalangan masyarakat Islam: tak ada yang lebih indah dari syariat Islam, tak ada yang lebih menarik dari hijab dan tak ada yang lebih istimewa dari lantunan Azan. Ibu Sukmawati yang saya sayangi, kau adalah salah seorang tokoh pemerhati sejarah bangsa ini, kau adalah putri dari sang proklamator; namun tingkahmu, kali ini ̶  terbilang kurang mencerminkan jejak luhur Ayahmu.

Ibu Sukmawati yang saya sayangi, Ibu mengaku tahu sejarah, tapi, maaf ̶ saya musti berkata bahwa ibu telah memandang sejarah dengan kekaburan. Saya berkata demikian, bukan semata tanpa landasan ̶ sebab saya tahu, Islam memiliki peranan besar dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Akhir kata, saya berharap dengan segenap kerendahan hati agar Ibu (baca: Sukmawati Soekarnoputri) bersedia meminta maaf kepada masyarakat Indonesia; terkhusus yang beragama Islam. Maaf dan Terima kasih. [P]


 

Penulis: Kamarudin Souwakil

Penyunting: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *