Puisi-Puisi Daffa Randai

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Dari Tiongkok ke Musi

 

/1/
dari Tiongkok, aku berlayar menuju hatimu yang lengang.
menuju Musi menuju Ogan menuju Lematang
atau henti di dada Ampera, boleh sedia untuk berdagang ─
menjual kesendirian, atas tabiat cinta yang mungkin saja terlarang.

 

/2/
kau akan kujumpai, sedang restu dari rajamu ─
jadi hal paling kunanti.
sebab bukan lagi dustaan, kau sungguh kudamba
sejak di jumpa pertama, Fatimah.
betapa arus matamu, memperdayakan hatiku
betapa agung hasratku untuk dapat meminangmu.

 

/3/
seperti pintamu, sudah kujumpakan kaisar ─
dan sejenak, kita boleh akan berlayar.
menuju China menuju cinta menuju raja dari segala restu dan doa.
maka andai telah sampai, baik kupinta pada pengawal
agar kiranya diperkenankan, kita pulang berbekal sembahan.
untukmu, Putri sanggup kusimpan permata di tujuh guci.

 

/4/
seusai berlayar, di rusuk Musi cemasku bertalun mendaki.
sempat bertaruh curiga, aku berhasrat memungkas tanya ─
sepanjang berlayar, kita dibekalkan apa?
maka kutanya pada matamu, dapatkah kau turut padaku:
menyaksi isi dari ke-tujuh guci
iakah sawi atau permata seperti yang aku ingin.

 

/5/
kau turut cemas, sedang pandangmu menuntun hatiku teremas.
sebab di dalam bekal tak seperti terduga ─
maka kupilah berselam, kendati tak pandai berenang.
terkaku tiada permata, sedang kusalah sangka.
khilafku seutuhnya, semata demi kau, Fatimah!
bilapun sampai di tubuh Musi, perkisahan kita berakhir
maka pintaku sebadan hati, hendak kau jangan menangis ─
kendati cinta beralih takdir, kuharap kau haram berpaling.

 

2018

 


Perantara Doa

 

/1/
kau akan kusentuh melalui doa yang tangannya senantiasa
mengelus rambut juga pipimu di tiap kali kau jelang tidur
yang jari-jemarinya acapkali merayapi sekujur tubuhmu
dan baru akan berhenti tatkala bunyi desahmu meninggi

 

/2/
sementara tak kau jumpai siapa-siapa
doaku berhasil menjumpaimu dengan penuh rasa hikmat
yang kemudian doa-doa itu, menatapmu penuh rindu
merengkuhmu dengan kadar kerekatan paling rekat
di sepanjang gulir tasbihku

 

/3/
sementara tak sempat kau cecap apa-apa
doaku sepenuhnya merasai segala yang ada pada tubuhmu semalam
yang kemudian doa-doa itu, kembali menenangkanmu
tatkala kau berhasrat untuk diam-diam melanjutkan tidur

 

/4/
kau akan kucium melalui bibir doa-doa
yang lumatannya tak kunjung reda ─ yang masih saja bersitahan
semata-mata agar kau tetap terjaga dalam kehangatan
yang lumatannya melampaui hangat selimut
yang sapuannya menyerupai lembut debur ombak di laut

 

/5/
sementara tak kau kehendaki reda
bibir doa-doa itu menyengajakan jeda
agar kau berkesempatan merapikan napasmu yang riang
agar kau berkesempatan memantik ulang hasratmu yang padam

 

/6/
sementara kau pilin ulang daun cuaca
di luar jendela, langit menitahkan hujan
yang kemudian doa-doa itu, kembali menjelma selimut
agar tubuhmu tak gigil dan ibadah tidurmu yang hening dapat berlanjut

 

2017

 


Di Laut Matamu

 

di laut matamu, raut rinduku menjelma debur
yang tiada henti-hentinya bersitahan menjaga pasang
menjelma karang yang senantiasa tabah
kendati harus berkali terhantam gelombang

di laut matamu, rindu-rinduku berlayar
menuju pulau paling purba, tempat di mana
setiap indah mewujud kau semata

tempat di mana setiap jumpa
dapat tertunaikan dengan atau tanpa rencana

di laut matamu, tak ada yang lebih perlu untuk dirisaukan
selain harapan yang mungkin
akan karam di tengah karang kenangan

tak ada yang lebih perlu untuk dicemaskan
selain kecemasan yang terjadi tatkala
laut matamu tak lagi menandakan tanda-tanda ketenangan

 

2018

 


Kendati Rindu Sudah Tiada Bagimu

 

Kendati rindu sudah tiada bagimu,
ataupun kita yang ditiadakan waktu
apa masih tersisa hasrat untuk kita balik mengingat?
mengenang sebuah kala, sebelum saling meluka
netapi rumpun janji, yang terlancap kita ingkari.
berkenankah, kekasih: meski sedetik
lamunkan hal-hal manis, biarpun silih kita insafi ─
belaka memuarakan tangis?

Kendati rindu sudah tiada bagimu,
ataupun kita yang dibinasakan waktu
apa masih tersisa mau untuk kita impikan temu?
damba rerampai jumpa, bagi pasang kelopak mata
memisal siripan dekap, biarpun tak terlampau dekat.
berkenankah, kekasih: meski sekali
lamunkan hal-hal permai, sungguhpun kita mafhumi ─
belaka muskil terjadi?

 

2018

 


Menelan Tanda Tanya II

 

melintas di bukit, jalan terjal berliku, sayangku.
hati berdesir, mata membayang jurang-jurang ─
membiaskan kau dari lamunan.
sepanjang lajuan, cemasku tak kunjung berkirai
tampak seperti ada yang mungkin tak akan sampai ─
baik wajah atau kabarku di bukit matamu yang landai.
sekarang kutanya, mendoa atau menduakah kiranya kau,
andai kelak kabarku datang bersama ajal?

 

2018


Daffa Randai, lahir di Srimulyo, Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan pada 22 November 1996; umur 21 tahun. Detik ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tercatat sebagai siswa di Sekolah Jurnalistik SK Trimurti 2017 yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta.

Salah seorang inisiator terbentuknya Komunitas Pura-Pura Penyair dan pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pendapa Tamansiswa. Puisi-puisinya tergabung dalam antologi bersama seperti, Tasbih-Tasbih Rindu (Wahid Media, 2017) dan Tematik Rindu (Sudut Sastra, 2017). Karya-karyanya yang lain dapat dijumpai di media daring seperti: jejakpublisher.com, kibul.in, lpmpendapa.com, darahmimpi.com, binisbelta.id, medium.com, tulis.me, inspirasi.co, sastraindonesia.org, tembi.net, penakota.id, sukusastra.com, dan lain-lain. E-mail: randaidaffa22@gmail.com, Instagram: randaidaffa96, Facebook: Daffa Randai, Twitter: @randai_daffa, No. HP/ WA: 0822-8245-2892

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *