Pembangunan Meninggalkan Luka

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Kulon Progo masih memanas pasca penggusuran paksa beberapa rumah penduduk yang dilakukan oleh PT. Angkasa Pura I (04/12/17). Terlihat beberapa sisa puing-puing pondasi rumah yang telah ditinggalkan oleh penghuninya.

Di sisi lain, berbaris aparat keamanan yang beranggotakan Kepolisian, Kejaksaan Tinggi, Brimob, dan Satpol PP, berjaga-jaga di area bangunan rumah yang telah luluh lantah itu. Aparat gabungan tersebut berupaya untuk mengamankan jalannya aksi penolakan pembangunan proyek New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang terus digencarkan oleh beberapa aktivis yang tergabung dalam Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP-KP).

Penentangan proyek NYIA bukan tanpa alasan. Aksi tersebut adalah aksi antipati lantaran semakin represifnya tindakan aparat menggusur paksa beberapa rumah warga. “Kami akan menghadang pihak aparat Angkasa Pura semua pergerakan mereka supaya mereka tidak bergerak menggusur rumah maupun lahan kami.” terang Agus Widodo perwakilan warga penolak penggusuran sesuai yang dilansir oleh CNN Indonesia.

Aksi pada senin pagi itu juga diwarnai dengan sholat dan dzikir bersama. Dipimpin oleh Muhammad Al Fayadl dari Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA). Jamaah melantunkan doa dan harapan agar penggusuran berhenti. Seusai sholat, sejumlah warga larut dalam doa hingga menitikkan air mata.

Sejumlah Laporan Tak Diindahkan

Sebelumnya, Fajar Ahmadi dkk yang tergabung dalam PWPP-KP telah melaporkan tindakan represif aparat kepada Ombudsman Provinsi DIY. Tertanggal 30 November 2017 pihak Ombudsman telah melayangkan surat atas laporan warga tersebut.

Surat tersebut berisi himbauan agar pihak Angkasa Pura menunda proses pengosongan lahan dan pembongkaran bangunan warga dalam area IPL Bandara Kulon Progo. Selain itu, Tim Ombudsman juga sedang melakukan investigasi untuk melihat kemungkinan adanya dugaan maladministrasi atas tindakan tersebut.

Namun kenyataan di lapangan, pengosongan lahan tetap berjalan. Dikonfirmasi terkait himbauan penundaan penggusuran, Kepala Kepolisian Resort AKBP Irfan Rifai mengaku belum membaca surat tersebut. Ia baru mengetahui dari media cetak yang ia baca, “Di satu sisi ada yang dari pihak Ombudsman dan di satu sisi dari pihak AP mempunyai timeline yang harus segera dilaksanakan, nanti akan kita diskusikan.” jelasnya.

Penegasan serupa dilontarkan pula oleh Projek Manager PT Angkasa Pura I Sujiastono. Ia nampak enggan berkomentar, “Saya kira semuanya sehat-sehat saja ya.” kata Sujiastono merespon pertanyaan terkait surat tersebut dari sejumlah jurnalis di lokasi penggusuran.

Selain itu, Sujiastono juga tak ada jawaban saat ditanyakan perihal tudingan keras Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dan 15 kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di Indonesia. Bahwa telah terjadi pelanggaran hukum dan Hak Asasi Manusia dan Konstitusi dalam proses pembangunan bandara tersebut. “Ya tanya LBH sana, jangan tanya saya.” kata Sujiastono sambil berjalan.

Aparat Bersama Bego Excavator Porak-Porandakan Lahan dan Bangunan

Kini wajah Desa Palihan hingga Glagah nampak gersang sekaligus porak-poranda. Hanya tersisa hitungan jari bangunan yang masih berdiri, serta sebuah masjid yang masih kokoh berdiri. Tertata pula beberapa alat berat yang telah meluluh-lantahkan area.

Hari itu, Ponirah, 35 tahun adalah salah seorang warga yang masih bertahan. Meskipun sekitar rumahnya sudah rata dengan tanah. Akses jalan menuju rumahnya pun telah diputus. Berserakan pohon-pohon tumbang, material sisa bangunan yang telah roboh hingga pemutusan arus listrik tak menggoyahkan keputusannya untuk tetap bertahan.

“Apapun itu alasannya saya akan tetap di sini. (Jika rumah dirobohkan) suami saya akan buat tenda.” tegasnya saat dimintai keterangan oleh sejumlah jurnalis.

Namun ia dan suami tak sendirian, sejumlah aktivis turut berdiri bersamanya saat alat berat terus merobohkan rumah di sekitarnya. Juga dari puluhan polisi yang berjaga di sekitar lokasi. Tak jauh dari kediaman Ponirah, sebuah rumah warga yang masih berdiri pun mengalami hal yang serupa.

Halaman rumah tersebut telah dilobangi. Berserakan pula pohon-pohon tumbang dan material bangunan yang telah roboh. Menutup akses jalan masuk. Seberang jalan, berdiri kokoh masjid Al-Hidayah. Deru mesin generator atas bantuan dari aktivis membantu pasokan arus listrik untuk masjid tersebut dan rumah di utara masjid milik Fajar Ahmadi.

Rumah tersebut menjadi posko bagi para aktivis. Meskipun keadaannya tak jauh berbeda pula dari rumah-rumah sebelumnya. Salah satu pintu rumah telah lepas dari engselnya. Kayu jendela pun nampak rusak. Bukan tanpa sebab pintu dan jendelanya rusak, hal tersebut tak lepas dari tindakan represif aparat.

Kini intimidasi lainnya kembali bergulir. Air sumur yang menjadi sumber mata air warga yang masih bertahan telah dikotori oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Untuk konsumsi, warga kini mengandalkan air mineral. Menanggapi hal tersebut, para aktivis pun berusaha mencarikan bantuan air galon.[P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *