Mahasiswa Tolak Pembangunan NYIA

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

 “Tanggung jawab Negara adalah melindungi Negara dan hak-hak rakyatnya. Jika Negara abai terhadap hal itu, maka Negara tidak pantas diakui keberadaannya,” ujar Irwan salah satu mahasiswa yang berorasi.

Rabu, (6/12/2017) puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Tolak Bandara menggelar aksi penolakan pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang akan dibangun di Kecamatan Temon, Kulon Progo. Aksi penolakan tersebut dilakukan dengan berorasi secara bergantian di depan kantor PT Angkasa Pura Yogyakarta yang beralamatkan di Jalan Raya Solo Km. 9, Yogyakarta.

Dalam pers rilis yang massa aksi bagikan, mereka berpendapat bahwa pembangunan megaproyek NYIA telah menyisakan luka yang dalam bagi warga Temon. Hal ini disebabkan penggusuran yang dilakukan oleh PT Angkasa Pura telah meratakan ratusan rumah warga. Faisal selaku koordinator aksi menyampaikan tentang tindakan yang dilakukan PT Angkasa Pura terhadap warga yang terkena dampak pembangunan NYIA sama halnya dengan tindakan kekerasan kemanusiaan. “Bandara tidak akan menjawab persoalan kesejahteraan hidup rakyat di sana. Yang ada petani jadi kehilangan sumber mata pencahariannya,” terang Faisal.

Selain itu, massa aksi juga mengatakan bahwa negara abai terhadap hak-hak rakyatnya. “Tanggung jawab Negara adalah melindungi Negara dan hak-hak rakyatnya. Jika Negara abai terhadap hal itu, maka Negara tidak pantas diakui keberadaannya,” ujar Irwan salah satu mahasiswa yang berorasi.

Irwan juga menyebutkan pemerintahan Jokowi-JK dan pemerintahan DIY sudah mengabaikan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. Menurutnya kemerdekaan hanyalah jembatan emas, bukan menjadi tujuan akhir. Negara Indonesia didirikan untuk menyeberangi jembatan tersebut hingga mencapai tujuan yang sejati, yaitu masyarakat adil dan makmur. “Negara ini didirikan bukan tanpa konsepsi. Negara ini diselenggarakan bukan atas dasar kepentingan pemerintah, apalagi pengusaha. Negara ini didirikan atas dasar Pancasila” tegas Irwan.

Di samping menyikapi persoalan pembangunan NYIA, massa aksi juga menyoroti tindakan represif aparat kepolisian karena sudah melakukan penangkapan dan menuduh belasan aktivis mahasiswa sebagai provokator. Mereka menyampaikan bahwa tugas kepolisian hanya sebatas melakukan pengamanan dan tidak ikut campur dalam urusan warga dengan PT Angkasa Pura.

Adapun beberapa tuntutan yang diajukan oleh massa aksi kepada pemerintah yaitu:

  1. Tolak keterlibatan TNI dan Polisi dalam proses penggusuran,
  2. Hentikan proses pembangunan NYIA di Temon, Kulon Progo,
  3. Tegakkan HAM di Kulon Progo,
  4. Usut pelaku tindak kekerasan terhadap warga Temon dan solidaritas tolak bandara,
  5. Hentikan kriminalisasi dan represifitas terhadap warga temon dan solidaritas tolak bandara,
  6. Hentikan perampasan lahan produktif petani,
  7. Kembalikan hak atas tanah di Temon Kulon Progo,
  8. Wujudkan reforma agraria sejati,
  9. hentikan perampasan dan monopoli tanah di Yogyakarta.

Dukungan untuk menolak pembangunan NYIA tidak hanya berhenti pada aksi ini saja. Aliansi Tolak Bandara akan terus berupaya agar pembangunan dibatalkan. “Akan ada  tindakan selanjutnya yang dilakukan oleh kawan-kawan aliansi,” pungkas Faisal. [P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *