Lupa Akan Jati Diri Bangsa

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Berbicara konsepsi bangsa yang pasti berbeda untuk setiap Negara. Hal ini tidak melenceng jauh dari catatan sejarah yang tentu berbeda untuk setiap Negara. Begitupun Indonesia, konsepsi bangsa yang ditawarkan tidak lepas dari catatan sejarah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Daoed Joesoef melalui opininya yang dimuat Kompas (26/09/2016) menerangkan bahwa negara adalah bangsa yang terorganisasi. Sedangkan bangsa, by its very nature, bukanlah pengertian deskriptif. Ia bukan suatu fakta mapan. Ia berupa status nascendi yang permanen yang dari bawaan alaminya selalu in pontentia, tidak pernah in actu. Dengan kata lain istilah “bangsa” ini bukan menyatakan keadaan, tetapi suatu gerakan, suatu kemauan, suatu usaha bersama. Gerakan, kemauan dan usaha bersama inilah yang tersirat dalam cerita sejarah yang mengangkat eksistensi bangsa sebagai harga mati yang harus diperjuangkan dengan menjadikannya gelar prestisius. Supaya nantinya, gerakan, kemauan, dan usaha bersama itu akan tetap tumbuh dengan subur di Negara Kesatuan Republi Indonesia (NKRI).

Lantas terjawab ketika masyarakat Indonesia berani menggunakan gelar prestisius ini karena apa yang dimiliki masyarakat Indonesia sampai pada detik ini adalah hasil suatu gerakan, bahu membahu berani berkomitmen untuk hidup dalam kesejahteraan. Terbentuknya Pancasila sebagai dasar falsafah negara, pandangan hidup, ideologi nasional, dan ligatur dalam kehidupan bangsa dan negara menjadi salah satu bukti nyata hasil usaha bersama untuk berjuang mempertahankan NKRI ini. Akan tetapi, ketika bercermin kepada realitas kehidupan yang dipertontonkan setiap harinya, justru semua seakan semakin rumit. Kerumitan ini setidaknya tersimpan dalam album rekam jejak yang begitu parah, yakni hidup dalam masa penjajahan selama 350 tahun. Di satu sisi, keterpurukan ini yang nyaris mengantar masyarakat Indonesia pada ketakberdayaan hidup yang tragis. Akan tetapi, di sisi lain rekam jejak inilah bukti sejarah untuk mendukung dan mengarahkan pada terbentuknya sebuah konsepsi bangsa. Sehingga, pada akhirnya terbungkus dalam sebuah sejarah bangsa yang mampu melukiskan sederet cerita nonfiksi berisikan pahit-manis perjuangan masyarakat Indonesia merebut kemerdekaan. Sederet cerita ini mempunyai kekuatan untuk selalu menyadarkan masyarakat Indonesia bahwa bangsa Indonesia ini tidak terbentuk dari sebuah realitas hidup yang mudah pula. Akan tetapi, dialektika realitas historislah yang membentuk bangsa itu sendiri. Dalam kerangka konsepsi bangsa, kemauan, serta usaha bersama mempertegas bahwa itulah jati diri masyarakat Indonesia yang sesungguhnya. Tetapi pertanyaannya adalah apakah jati diri itu maih tumbuh subur di NKRI ini?

Memasuki abad ke 21, begitu banyak persoalan yang menghiasi atmotfer kehidupan masyarakat Indonesia. Contohnya adalah KKN dan intoleransi yang masih saja sering terjadi. Dua persoalan ini hanya mewakili dari begitu banyaknya persoalan yang menjerat realitas kehidupan masyarakat Indonesia yang semakin hari kehidupannya seakan lepas dari lingkaran bangsa yang mempunyai kekuatan menyatuhkan. Bagaimanapun persoalan ini adalah persoslan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. Kongkritnya, munculnya persoalan-persoalan ini mengantar kita pada suatu titik pemahaman bahwa kita harus mempertanyakan kembali jati diri kita sebagai bangsa.

Pada suatu reflektifitas, sebenarnya realitas kehidupan masyarakat Indonesia hari ini sedang di selimuti oleh suatu kelupaan tentang jati diri. Intinya adalah kita lupa kalau bangsa ini dibangun atas dasar perjuangan, bahu membahu dalam merebut kemerdekaan (cita-diri). Kita lupa bahwa dalam realitas hidup sehari-hari bukan saja diri kita yang dipikirkan tetapi berani berpikir tentang apa saja yang ada diluar diri kita (diri-sebagai-proses).  Begitu banyak sikap kita yang tidak mencerminkan jati diri kita sebagai bangsa selama ini. Untuk saat ini memang harus dibutuhkan sebuah ruang introspeksi diri untuk menemukan apa yang harus diperbuat dan apa yang tidak harus diperbuat. Akhirnya, kita harus berani keluar dari lingkaran ini untuk bangkit kembali hidup pada konsepsi bangsa yang seharusnya. [P]

Satu tanggapan untuk “Lupa Akan Jati Diri Bangsa

  • 14 April 2017 pada 16:51
    Permalink

    sangat menginspirasi

    lupa lyric lagu cinta laura , lebih baik nyanyi Indonesia raya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *