Dilema Keterjebakkan Manusia dalam Modernisasi

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Pengembaraan manusia di dunia ini memang begitu pelik dalam memperjuangkan kesejahteraan hidup. Bagaimana tidak, dalam menempuh sebuah tujuan hidup ini, setiap derap langkahnya manusia selalu berbenturan dengan realitas hidup yang begitu rumit. Realitas hidup dapat menjelaskan satu kesatuan yang utuh tentang bagaimana relasi manusia dengan Tuhan, relasi manusia dengan alam dan relasi manusia dengan manusia. Dari relasi ini, realitas hidup akan mengantar manusia memasuki babak baru di mana terdapat sebuah ruang yang sudah diisi oleh apa saja yang baik dan yang jahat, keduanya saling berperang merebut eksistensinya masing-masing.

Di sinilah timbul keambiguan manusia yang pada suatu titik, tumbuh dengan subur sebuah kesenjangan antara reflektifitas kritis dengan anti reflektifitas kritis. Dalam  reflektifitas kritis ini manusia akan menemukan sebuah pemahaman tentang apa itu realitas hidup begitu pun sebaliknya. Anti reflektifitas kritis hadir di sisi lain justru menggambarkan bagaimana ketidakmampuan manusia merekontruksi pemahaman tentang realitas hidup, yang biasa disebut anti realitas. Anti realitas inilah yang menjadi salah satu kepincangan ketika modernisasi muncul.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), modernisasi merupakan proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan kondisi masa kini. Dalam proses pergeseran sikap dan mentalitas, manusia seakan jatuh pada pengalaman keretakkan dan keterpecahan realitas hidup. Emanuel Wora dalam bukunya berjudul Perenialisme: Kritik atas Modernisme dan Postmodernisme menjelaskan bahwa modernisasi hadir sebagai “pemisah”, diskontinuitas, dan diferensiasi, serta pemindahan/pencabutan posisi sentral realitas ilahi (displacement of God) dalam kehidupan dunia.

Menurutnya, karakteristik modernisasi ini muncul karena disebabkan oleh beberapa hal, pertama, dalam modernisasi terdapat suatu pemahaman dunia yang lain. Dunia tidak lagi dipandang sebagai satu kesatuan materialistik, yang cenderung diperlakukan sebagai objek, melainkan sebagai suatu kesatuan organis. Dalam dunia organik ini setiap elemen dunia, entah itu makhluk hidup maupun mati adalah subjek yang berhak atas dirinya sendiri. Tidak ada jastifikasi bagi salah satu elemen dunia (manusia misalnya) untuk menindas dan memanipulasi elemen lain semata-mata demi kepentingannya sendiri. Hal ini terbukti dengan bagaimana realitas hidup hari ini, munculnya sikap dari manusia  yang  secara sadis mengeksploitasi habis-habisan bumi yang merupakan habitatnya sendiri seperti penebangan pohon secara liar dan pembukaan lahan baru dengan cara pembakaran hutan yang tidak terkontrol.

Kedua, dunia parsialistik yang menandakan dalam kemodernan, ada kecenderungan besar untuk memahami realitas secara parsial. Kecenderungan ini bermula dari proses kerja ilmu-ilmu pengetahuan modern yang sekular, yang secara sengaja membagi realitas supaya mudah diselidiki dan dipahami (spesialisasi bidang studi). Realitas hidup manusia hari ini sudah menggambarkan bahwa hal itu benar terjadi, contohnya biologi dan astronomi. Dalam pandangan kemodernan, jelas bahwa ahli biologi hanya mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan makhluk hidup, sementara ahli astronomi mempelajari hal yang berbeda sekali tentang benda-benda yang ada diluar angkasa.

Ketiga, antara pluralitas dan penyeragaman. Keragaman yang menandakan dalam kemodernan, keanekaragaman cenderung dianggap sebagai kelemahan atau kemunduran bahkan boleh jadi sebagai penyimpangan yang harus selalu diluruskan. Hal ini bertolak belakang dengan konsepsi pluralitas yang mengutamakan adanya keterkaitan masing-masing elemen yang membentuk sebuah realitas yang plural. Namun, ketika berkaca dengan realitas hidup sekarang, konsep ini seakan hanya sebagai simbol aksesoris yang membuat manusia selalu bersembunyi dibalik kemunafikan hidup. Buktinya, intoleransi dan isu SARA masih sering menghiasi relitas hidup manusia.

Keempat, dalam kemodernan, kebenaran selalu dalam proses menjadi (becoming). Sebenarnya dalam sejarah kemodern ini belum pernah hadir suatu kepastian akhir dan ini yang sering kali membingungkan manusia-manusia modern. Mereka selalu merasa berada dalam proses pertumbuhan, dan tidak pernah sampai pada suatu kematangan. Akibatnya, orang modern sering kali jatuh pada disorientasi yang gawat.

Kelima, dalam kemodernan kemajuan mengisyaratkan adanya diskontinitas antara ketiga tahap waktu beserta segala unsur yang “terbingkai” oleh mereka, yakni antara masa lampau, masa sekarang, dan masa depan. Kemodernan melihat bahwa apa yang dicapai oleh manusia pada masa sekarang berbeda dengan apa yang dicapai pada masa lampau, serta berbeda pula dengan apa yang akan tercapai pada masa depan. Hal ini dapat dijelaskan dengan kelupaan manusia akan sebuah tradisi (masa lampau) yang mampu menjawab entitas seorang manusia. Realitas hidup manusia sekarang merupakan sebuah pantulan dari realitas masa lalu, untuk itu tetap ada “benang merah” yang menghubungkan hidup manusia di masa sekarang dengan hidupnya di masa lampau. Artinya, dalam tradisi ini akan ada nilai dan kebenaran yang selalu lestari sehingga tidak tertelan oleh zaman.

Keenam, manusia modern lupa akan Allah. Allah tidak lagi dipakai sebagai jawaban atas pertanyaan tentang koherensi dan arti dunia. Dengan kata lain, Allah dianggap tidak eksis. Sekarang yang menjadi sumber jawaban atas segala pertanyaan eksistensial yang muncul dalam kehidupan manusia adalah akal (ratio) manusia sendiri. Corak relitas hidup manusia sekarang adalah dengan begitu mudahnya manusia terpengaruh dengan akal yang “liar” bahkan tidak terkontrol. Dalam realitas ini manusia menyadari akal selalu mempunyai kebenaran absolut untuk menjawab segala persoalan hidupnya.

Ketujuh, secara umum kemodernan dikenal sangat antimetafisika. Sains modern yang menjadi tulang punggung kultur modern menciptakan anggapan bahwa metafisika sebagai sebagai disiplin ilmu, semata-mata adalah ilmu yang subjektif yang sering kali tidak berakar dalam realitas. Metafisika yang “katanya” mencoba mengorek esensi terdasar realitas dianggap omong kosong belaka. Sebaliknya, yang berperan dalam modernisasi adalah ilmu-ilmu empiris yang dianggap mampu menjawab kebutuhan manusia yang nyata.

Penjelasan-penjelasan ini menandakan bahwa realitas manusia memang masih terjebak dalam dilema modernisasi. Dalam kondisi keterjebakan, anehnya manusia belum mempunyai reflektifitas kritis untuk berani keluar dari lingkaran modernisasi ini. Sadar maupun tidak sadar, rutinitas manusia  di dunia nantinya akan selalu bergulat dengan relitas modernisasi ini. Pertanyaannya adalah mampukah kita untuk bisa keluar dari lingkaran modernisasi ini? [P]

Satu tanggapan untuk “Dilema Keterjebakkan Manusia dalam Modernisasi

  • 20 Februari 2017 pada 17:20
    Permalink

    Hanya satu kata “wawan”

    modernisasi adalah sebuah jebakan batman . Padahal robin dan cat women mempunyai peranan yang krusial dalam konstruksi makna pembuatan jebakan tersebut.

    Jebakan dibuat oleh Robin dan Catwomen secara terorganisir, halus dan sangan terstruktur.

    Pernah mendengar “flat earth” atau menonton di “tubekamu” bahwasannya dunia ini datar karena prespektif manusia melihat dunia dari kumpulan chip dan ic menggunakan perkawinan paksa antara proton dan elektron.

    Ya kita memandang bumi hanya dari layar kaca menggunakan tikus atau jempol untuk menjelajahnya.

    Bagaimana dengan unsur murni?
    Keterjebakan manusia pada dasarnya diinginkan oleh manusia itu sendiri.

    Coba lari ke pantai atau berenang ke hutan..

    Wawan … Itulah yang harus dimulai. Mengenyahkan hujaman informasi dan trend.

    Karena menurut mas jun salah seorang pakar linguistik yang saat ini tengah dalam kondisi kesurupan jin dari situa boogle mengatakan bahwa modernisasi dibangun dari kata
    1. Mode
    2. Rn
    3. Isasi
    T
    Mode adalah trend
    Rn adalah (ra nengok)
    Isasi (tengah dimusnahkan)
    Jadi saya bingung sedang membicarakan masalah apa.
    Yang pasti suatu saat cat woman akan berdampingan dengan robin hood (aaamin)
    Sekian dan terimakasih.

    Hanya satu kata Wawan

    -magicFarm-

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *