Di Balik Kata Rapi, Pendapa Sepi

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Aku sudah sampai di gubuk ini beberapa jam yang lalu, entah pukul berapa pastinya aku tak bisa memastikan. Sekadar pengingatan dangkal, kalau tak salah pukul 16.00 aku tiba di Sekretariat Pendapa ini. Dari halaman parkir depan Perpustakaan Pusat Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) nampak tak terlalu banyak kendaraan yang memarkirkan diri, dan jarang pula kudapati orang-orang berlalu lalang. Tak seperti hari-hari sebelumnya, yang ramai, yang bising, dan yang gempar. Aku datang kemari membawa sepeda motor, tidak dengan siapa-siapa, Ya, aku hanya seorang diri saja.

Entah ini ada unsur kesengajaan atau tidak, tapi nampaknya aku benar tak sampai berpikir sepanjang ini. Aku mengenakan celana hitam, dan kaos lengan pendek, pun berwarna hitam. Duh, tapi aku benar sedang tak ingin melayat. Sabtu Sore, (24/12/2016) daerah sekitar Perpustakaan Pusat UST dan Kampung Unit Kegiatan Mahasiwa (UKM) terbilang hening, seperti tak miliki banyak penghuni. Tapi ini nyata, mungkin karena masa Ujian Akhir Semester (UAS) UST telah selesai, jadi sebagian mereka pada pulang. Selain itu, masa liburan juga lumayan panjang. Ditambah ini malam Natal, aku tak tahu berapa banyak teman dan sahabat Pendapa yang sedang menyiapkan sesuatu untuk hari Natal esok, Minggu, (25/12/2016).

Aku telah sampai di Lorong Pojok. Dari depan pintu, kuamati setiap sudut demi sudut, bersih sekali. Hanya ada beberapa pasang sepatu yang mejeng di atas rak, dan barang-barang tak tentu jenisnya bersembunyi di dalam kardus besar. Selebihnya, semua nampak rapi. Tak ada sepatu-sepatu yang berserakan, tak ada sandal-sandal yang salah berpasangan. Kubuka pintu dengan perlahan, dan selangkah kumajukan dari tempat awal kaki kupijakkan. Mataku hampir menangkap sesuatu yang sama, semua terlihat rapi. Dua tampah berwarna putih yang bertuliskan “Kami Bukan Boneka, Bung!” dan “Lawan Penguasa Anti Kritik” nampak dengan santainya bergantung di dinding. Juga beberapa Cover Majalah Pendapa yang masih tak kunjung usang di pandang, masih memunculkan aura semangatnya.

Rak buku, sengaja kudekati dan kubuka pintunya. Hampir seisinya berdiri dengan barisan yang sangat teratur, dan lagi-lagi semua nampak rapi sekali. Beberapa penampakan kerapian tersebut menimbulkan tanya dalam batinku. “Tumben sekali, kenapa bisa serapi ini. Lalu ke mana orang-orang yang biasanya membuat kumpulan buku ini jadi berserakan di mana-mana?”. Pertanyaan aneh, ya apapun jawabannya pasti juga paling aku yang menyimpulkan sendiri.

Aku mulai memasuki kamar dalam. Televisi, Komputer, Kipas Angin, Gitar, Buku Tamu, Buku Harian, Koran Kompas, Tempo, Kedaulatan Rakyat, dan beberapa Majalah seperti menunggu untuk di sentuh. Menunggu untuk ditelanjangi baris-demi baris isi informasinya. Aku Cuma tersenyum, hening sekali Lorong Pojok malam ini. Tadi ketika awal aku sampai, masih ada beberapa kepala. Ada Rion, Aziz, Idris, Lucya, dan Hadi, tapi sekarang aku tak paham ke mana mereka pergi dan pukul berapa nanti mereka kan kembali. Aku tak bisa memastikan. Dan, yang jelas detik ini, tepatnya Sabtu, (24/12/2016) hanya ada aku seorang di sekretariat Pendapa ini.

Tak apalah, hitung-hitung belajar berpikir, belajar merenung di kesunyian, persis seperti saat ini. Aku hanya duduk, sambil menekan tuts demi tuts keyboard yang kubayangkan laksana Piano. Seperti orang gila bukan? Haha, entahlah.

Mungkin dari tadi banyak yang bertanya tentang apa maksud dari tulisan ini, sampai-sampai kawan habiskan paragraf demi paragraf  hanya untuk secepatnya menemukan maksud yang berarti. Maaf kawan, ini bukan apa-apa. Hanya sebagai penyampaian kabar bagaimana keadaan di Sekretariat Pendapa saat ini, tepatnya setelah UAS usai berlangsung. Masa liburan baru dimulai, dan tahun baru hanya tinggal menunggu minggu.

Hanya ingin aku sampaikan, selamat Malam Natal untuk sahabat Pendapa khususnya, dan sahabat di luar sana pada umumnya. Selamat menikmati hari libur, selamat menikmati waktu-waktu bersama keluarga tercinta. Jangan jadikan waktu libur sebagai pemberhentian untuk berkarya. Teruslah menulis, terus sampaikan berita-berita kebenaran dan kejujuran. Terkhusus untuk para anggota baru Pendapa, titip salam untuk keluarga di rumah dari Pendapa. Itu saja mungkin, satu saja yang ingin kupertebal “Teruslah menulis, teruslah berkarya, jangan hanya berhenti sampai di sini”. LPMPENDAPA.COM siap sedia untuk menyuarakan dan menyalurkan tulisan-tulisan sahabat semua.

Terima Kasih. Salam dan Bahagia. [P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *