Sepatah Dua Patah Kata untuk Pendapa

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Tulisan ini merupakan naskah yang terputus dari halaman berita sebelumnya. Ini bukan tanpa unsur kesengajaan, melainkan sebaliknya. Tulisan ini sengaja dipisahkan dari berita  sebelumnya dan sengaja ditulis dengan genre yang berbeda. Umpama pemisahan waktu antara siang dan malam, tentu di antara keduanya memiliki maksud dan tujuan tersendiri ketika Tuhan hendak menciptakan. Pelatihan Jurnalistik Pendapa yang dilaksanakan pada tahun 2016 ini tentu memberikan kesan tersendiri bagi penulis secara khusus dan seluruh anggota Pendapa secara umum.

http://lpmpendapa.com/2016/12/10/pendapa-pelatihan-jurnalistik-sebagai-bekal-awal/

Keingintahuan penulis tentang apa yang dirasakan oleh para anggota baru Pendapa terkait dengan diselenggarakannya Pelatihan Jurnalistik atau In House Training (IHT) inilah yang melatarbelakangi kenapa tulisan ini dibuat. Kita memang “Sama Kepala” namun tak tentulah tahu apa yang ada di dalam pikirnya. Oleh karena itu, perlulah kita goreskan sepatah dua patah kata ke dalam bentuk catatan pendek. Ya, kita akan pindahkan catatan pena itu ke dalam barisan kalimat di tulisan ini. Mari kita gulir secara perlahan, dan biarkan pandangan kita menelanjangi baris demi baris yang mungkin nantinya bisa menjadi catatan kenangan untuk kita semua.

Sebagai tuan dari tulisan yang tak tentu alur dan jenisnya ini, penulis tak ingin terlalu lama mengicaukan kata demi kata untuk mengisi paragraf ini. Kita mulai dari sini, harapannya, satu pertanyaan yang terlontarkan ini nantinya tak bernasib sama laksana retorik. Itu saja harapannya, ya, cukup itu saja.

Alur ceritanya cukup runtun, Pertama, sengaja penulis sebar selebaran kertas kosong dan menginginkan teman-teman baru yang mulai menghuni Pendapa untuk menuliskan apa yang mereka rasakan terkait dengan diadakannya kegiatan IHT, dan pesan yang ingin disampaikan untuk Pendapa. Kedua, mereka kembalikan kertas itu, namun sudah berisi dengan coretan-coretan. Penasaran betul penulis terkait apa yang mereka tuliskan, oleh karenanya satu persatu tulisan itu kubaca lalu kupindahkan dalam catatan ini. Dan pada akhirnya, semua sungguh menakjubkan. “Terkait dengan yang anda rasakan, kata apa yang akan anda lontarkan untuk acara ini dan untuk Pendapa?”.

Darto, “Yang pertama, ini sangat menyenangkan, membangun, menambah wawasan, dan sangat mengesankan. Untuk Pendapa, sukses”. Vina, “Luar Biasa”.

Surya, “Acaranya menarik, dan untuk Pendapa terima kasih”. Handianus, “Acaranya memberikan tambahan pengetahuan. Untuk Pendapa, terima kasih telah membawa dan menghantar kami untuk mengikuti kegiatan ini”.

Ardian, “Seterang ini tong kosong belum terisi, buanglah sampah yang sudah tak berisi, lemparkan sampah itu ke tong kosong yang tak berisi”. Tarsisius, “Materi sejauh ini mengena pada kebutuhan saya terkait dunia menulis, dan untuk Pendapa tetap dan terus menjadi inspirasi”.

Oky, “Ini kegiatan yang bagus, dan untuk Pendapa terima kasih tambahan ilmunya, semoga kedepannya lebih baik lagi”. Dewi, “Ini kegiatan yang asik, Cuma kontribusi kakak senior kurang, jadi kurang rame. Tapi tetap good, dan untuk Pendapa tetaplah ada”. Astorius, “Kegiatan hari ini sangat cukup sebagai tahap percobaan dan pembekalan bagi peserta”.

Lena, “Acara ini sangat bagus, dengan ini saya bisa lebih akrab dengan teman-teman. Untuk Pendapa terima kasih sudah menyelenggarakan acara ini, semoga selanjutnya lebih bagus lagi”. Wira, “Kegiatannya menyenangkan, asik, ada kekeluargaan dan keakraban. Untuk Pendapa, semoga kedepannya semakin maju, anggotanya semakin kompak, kritis dan kreatif. Untuk Pendapa Ganbate”.

Itulah catatan yang sengaja penulis pindahkan dari coretan tinta yang beralaskan kertas. Penulis benar hanya sebatas memindahkan apa yag tertulis di atas kertas, terdapat pengubahan pun tak banyak nampaknya. Naskah asli berupa sobekan kertas kecil itu biarlah kusimpan dalam saku baju harian, karenanya kusalin tulisan itu ke dalam bentuk lain, dan kusemogakan agar tetap bisa dibaca kapanpun dan di mana pun.

Hanya dengan Sebatas ini mungkin yang dapat penulis goreskan dalam barisan paragraf ini, kurang dan lebihnya tentu sudah jadi kehilafan diri saya sebagai manusia biasa. Tak panjang lebar maksud yang tersurat dari tulisan ini, hanya sebatas tulisan dan sobekan catatan sejarah yang tercipta dari perbincangan sekilas para penghuni Pendapa. Semoga ini bisa menjadi bacaan, meski bobotnya benar sangat-sangatlah ringan. Cukup saja rasanya, lain waktu jika Tuhan mengizinkan, kita akan bertemu lagi dalam tulisan yang akan terbit di waktu mendatang. Terima kasih untuk semuanya, untuk Pendapa dan untuk seluruh para penghuninya. Terus membangun kesadaran kolektif. Salam Pers, Salam dan Bahagia. [P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *