Sebuah Dongeng: Thamadhaya

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Masa silam, berdirilah sebuah kerajaan besar dan sangat berjaya. Kerajaan itu bernama Thamadhaya dan dipimpin oleh seorang raja dari keturunan Dewa Apatisa. Raja tersebut bernama Rapua Dewandara. Memiliki satu permaisuri dan satu anak perempuan yang sering ia panggil dengan sebutan Puteri Kahya. Raja Rapua Dewandara adalah seorang raja yang sangat berkuasa dan terkenal dengan kepandaian yang dimilikinya. Sebab itulah ia menyandang status sebagai seorang raja dalam tempo waktu yang lebih lama jika dibandingkan dengan masa kepemimpinan raja-raja sebelumnya.

            Di samping memiliki kekuasaan dan terkenal dengan kepandaiannya, ternyata sang raja merupakan seorang pemimpin kerajaan yang egois, tak mau menerima kritikan dari siapapun, tak terkecuali dari permaisuri dan puterinya. Selain itu, banyak dari keputusan dan kebijakan dari sang raja yang membuat rakyatnya merasa tersiksa. Raja Rapua Dewandara menganggap semua kuasa ada pada dirinya, dan tak ada satu pun orang yang boleh dan berhak untuk ikut campur pada setiap keputusannya.

Sang raja cenderung terlalu mendewakan kedudukannya sebagai seorang raja, sehingga ia menjadi tinggi hati dan hampir lupa dengan sifat bijak yang pernah ia miliki. Tak jarang juga sang raja mengutus para prajuritnya untuk menyelidiki sekaligus menghabisi nyawa bagi siapa saja yang tak sepakat dan tak patuh dengan keputusan dan perintahnya.

            Lama kelamaan berita tentang keburukan sang raja pun mulai menyebar hampir ke seluruh penjuru negeri, dimulai dari prajurit sampai kepada penduduk desa yang tinggal di wilayah sekitar kerajaan Thamadhaya. Prajurit dan penduduk desa pun mulai sering membincangkan tentang keburukan yang dimiliki oleh pemimpinnya itu. Semakin hari, perbincangan itu semakin ramai dan terdengar seperti gemuruh lebah yang marah karena tempat persinggahannya diusik oleh tangan-tangan manusia yang kehilangan sifat kemanusiaannya. Waktu tak pernah lupa kemana ia harus melangkahkan masing-masing jarum jamnya untuk menunjukkan kepastian dan ketepatannya. Begitu juga dengan para prajurit dan penduduk desa yang ingin tahu lebih dalam tentang kabar keburukan tersebut,  mereka ingin memastikan apakah sang raja memang benar begitu.

Meski pun sang raja memimpin kerajaan Thamadhaya sudah cukup lama, namun para prajurit dan penduduk desa itu baru menyadari bahwa Raja Rapua Dewandara memang benar memiliki keburukan dan jauh berbeda jika dibandingkan dengan raja-raja yang sempat memimpin kerajaan Thamadhaya sebelumnya. Mereka seperti terhipnotis dengan keadaan, terbius dalam kekosongan yang membuat mereka hanya bisa patuh dan tak mampu berpikir sedikit pun tentang pemberontakkan.

Dulunya, kerajaan Thamadhaya itu sangat identik dengan rasa kekeluargaan, kemanusiaan, dan setiap raja bersedia dengan lapang dada menerima masukan-masukan dari siapa pun. Karena raja-raja sebelumnya menyadari bahwa seorang pemimpin yang baik, itu adalah pemimpin yang bersedia menerima kritikan. Dari kritikan tersebut, raja akan menyisihkan sedikit waktu untuk intropeksi diri agar dalam memimpin ia dapat menjadi lebih baik. Namun hal itu tak lagi dilanggengkan oleh Raja Rapua Dewandara, ia tak mau disamakan dengan raja-raja sebelumnya.

Suatu ketika, secara diam-diam dan tanpa sepengetahuan sang raja, pemimpin prajurit kerajaan yang bernama Madjelwa mengumpulkan semua prajurit untuk mengadakan perbincangan khusus. Perbincangan tersebut tak lain adalah menyangkut tentang berita keburukan sang raja yang belakangan ini membuat madjelwa dan para prajurit  tersadar dan berniat untuk mengadakan pemberontakkan. Madjelwa menjadi kepala dari niatan pemberontakkan itu. Ia yang mempengaruhi para prajurit agar terbangun dari lelap hipnotis dari sang raja, dan Madjelwa pula yang membakar semangat para prajurit untuk menjunjung tinggi nilai kebenaran dengan keberanian.

Tak kunjung habis niatan baik, darah mendidih dan pikir bersalju pun menyelimuti diri Madjelwa. Dia jelas tak menerima dengan sikap buruk rajanya yang terlalu egois, apatis, dan anti terhadap kritik meski pun pada nyatanya sang raja juga belum tentu benar dalam setiap kebijakan yang ia keluarkan dan pada setiap keputusan yang ia lontarkan. Bahkan sang raja sebenarnya memiliki banyak kesalahan. Namun, dari dulu Madjelwa yang telah tahu tentang semua keburukan sang raja beusaha untuk menutupinya dari para prajurit dan penduduk desa, hingga pada akhirnya waktu yang membuka kebenaran itu. Di sisi lain, ia juga menyadari bahwa ia hanyalah seorang pemimpin prajurit yang tak selayaknya berontak kepada raja yang pada hakikatnya memiliki status dan kuasa yang lebih tinggi darinya.

Madjelwa merasa dilema dengan teramat sangat, hatinya seperti gaduh, dalam dirinya seperti sedang terjadi peperangan yang berlangsung dengan begitu sengit. Ia seperti tak mampu meleraikan rasa yang membelenggu batinnya. Dalam beberapa saat, ia gunakan waktunya untuk merenungkan hal itu, dalam pikirnya ia harus mampu menentukan keputusan dengan sebijak-bijaknya agar nantinya ia tak terbunuh oleh siasat yang mengguncang-guncang sukmanya. Lalu, dengan keberaniannya itu ia memutuskan untuk memberi tahu semua prajurit untuk sesegera mungkin mempersiapkan diri.

Tepat saat sang fajar menampakkan diri dan sang raja keluar dari depan pintu kamar menuju pintu utama kerajaan, hampir semua prajurit yang berjumlah sekitar seribu orang sudah siap siaga berderet layaknya akan mengadakan perang besar-besaran. Hal itu tentu sontak membuat sang raja terkejut.

“Hei, ada apa kalian semua berkumpul di sini?” tanya raja.

“Tak ada apa-apa raja, kami semua hanya ingin memiliki seorang raja yang bisa menciptakan kedamaian, kemakmuran, dan ketentraman dalam kerajaan ini”. Jawab Madjelwa.

“Apa maksud dari semua ini, jangan macam-macam kamu Madjelwa. Apa kamu tidak takut dengan kuasaku, aku bisa saja mengeluarkanmu dari kerajaan ini atau membunuhmu detik ini juga”. Sang raja mulai menunjukkan kemarahannya.

“Aku tak takut dengan kuasamu, aku juga tak akan takut jika memang harus mati di tanganmu raja”

“Di sini kami hanya menyuarakan kebenaran. Kau sepertinya sudah tak layak memimpin Thamadhaya ini. Kau memang pandai, tapi kepandaianmu tak seimbang dengan tindak lakumu terhadap rakyatmu”.

“Kau terlalu egois, terlalu apatis dan sepertinya kau memang sudah tak punya lagi hati nurani. Banyak kehancuran yang kau ciptakan, banyak rakyatmu yang menderita akibat kebijakan busuk yang kau keluarkan.”.

 “Berani sekali kau berkata seperti itu Madjelwa, kau semakin membuatku marah”.

“Silakan marah saja sesukamu raja, dengan begitu akan semakin terlihat keburukanmu. Seorang raja yang hanya mendewakan jabatan dan kekuasaan. Tanpa mau mendengarkan masukan dari rakyatnya yang sebenarnya menunjukkan kebenaran”.

“Lancang sekali kata-katamu Madjelwa”. Balas raja dengan sangat marah.

            Sang raja lalu memerintahkan para prajurit untuk menangkap Madjelwa dan langsung memberikan hukuman mati pada Madjelwa, karena ia sudah berlaku lancang terhadap rajanya. Para prajurit pun merasa bingung, apa mereka harus menuruti perintah dari rajanya yang sudah jelas salah atau melindungi Madjelwa yang memang memperjuangkan kebenaran. Akhirnya, para prajurit tidak mengabulkan permintaan sang raja tetapi malah sebaliknya. Semua prajurit menyerang sang raja sampai tewas. Madjelwa sontak terkejut dan tak habis pikir melihat kejadian yang terjadi di depan matanya itu. Itu bahkan jauh dari apa yang pernah terlintas dalam benaknya.

            Semenjak itu, para prajurit menyatukan suaranya agar Madjelwa bersedia menjadi pemimpin untuk Thamadhaya menggantikan Raja Rapua Dewandara. Dan dengan perasaan yang entah kemana kiblatnya itu Madjelwa tak langsung menyatakan kesediaannya untuk menjadi seorang raja. Namun petunjuk dari sang Dewa seketika mencerahkan pikirannya, dan ia menyanggupi untuk menjadi pemimpin di kerajaan Thamadhaya. Sejak saat itu pula nilai-nilai Kethamadhayaan mulai dijunjung tinggi. Mengutamakan rasa kekeluargaan, menciptakan kedamaian, ketentraman serta kesejahteraan. Nilai-nilai itulah yang sebenarnya menjadi pembeda antara Kerajaan Thamadhaya dengan kerajaan-kerajaan yang lainnya. Akhirnya, kerajaan Thamadhaya bisa mengembalikan nilai-nilai Kethamadhayaannya dan bisa mencapai masa kejayaan saat dipimpin oleh Madjelwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *