Bahasa Indonesia dan Kekuatannya

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

“Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”. Pernyataan ini merupakan butir ketiga yang termuat dalam Sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Butir ini merupakan sebuah pencapaian atas kerja keras dari para pemuda untuk memperkuat kebinekaan Indonesia setelah hidup dalam keraguan atau kecemasan tentang jati dirinya. Berangkat dari suatu komitmen di antara para pemuda yang merasa cemas akan kemajuan bangsa Indonesia yang semakin tersudutkan identitas jati dirinya, maka terciptalah pemikiran-pemikiran diantara para pemuda untuk membangun suatu konsepsi tentang pemersatu. Konsepsi tersebut lahir melalui pemikiran panjang dan diskusi untuk memberikan pencapaian suatu bentuk perwujudan. Oleh sebab itu, perwujudan berbentuk kesatuan bahasa perlu direalisasikan. Salah satunya adalah melalui Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu merupakan wujud dari realisasi adanya kemajemukan. Kemajemukan tersebut kita pahami sebagai wadah pemersatu yang mana Indonesia memegang erat prinsip pluralisme dan multikulturalisme sehingga mengembangkan perbedaan dalam keberagaman perlu direalisasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Melihat situasi dan kondisi kehidupan masyarakat sekarang, mulai dari interaksi interpersonal dan intrapersonal timbul pertanyaan kritis, apakah Bahasa indonesia sudah nyata hadir sebagai bahasa pemersatu?

Penulis tidak akan membahas tentang Bahasa Indonesia dilihat dari hal-hal yang berkaitan dengan masalah kebahasaan. Penulis akan membahas tentang kekuatan dari Bahasa Indonesia yang mampu merefleksi karakter seseorang dengan akal budi sehingga dapat diekspresikan melalui sikap dan tingkah laku seperti religius, jujur, toleransi, demokratis, cinta damai serta tanggungjawab. Tajuk Rencana Kompas (8/7/2016) berjudul ”Prioritaskan Membangun Etika Berbangsa” yang menilai persentase perilaku masyarakat Indonesia. Ada 27,6 persen responden yang memberi “nilai merah” terhadap sikap jujur dan amanah dalam kehidupan masyarakat. Bahkan, kondisi ini dianggap lebih buruk dari pada kondisi sebelumnya. Sebanyak 21,6 persen lainnya menilai penerapan sikap jujur dan amanah di masyarakat sama buruk dengan kondisi sebelumnya. Penilaian lain terhadap hal yang masih kurang dalam diri masyarakat saat ini, kurang adanya kepedulian terhadap sesama (16,7 persen), kesadaran untuk berbuat baik (14,6 persen), sikap toleransi (12,7 persen), rendahnya semangat persatuan (5,6 persen), dan minimnya akhlak dan moral (4,9 persen). Data ini merupakan corak dari kondisi kehidupan masyarakat Indonesia saat ini, tentunya membuat kita semua prihatin, karena lambat laun akan menimbulkan masalah serius bagi keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Tak jarang kita sering melihat berbagai solusi yang datang dari berbagai bidang kehidupan yang merasa prihatin akan situasi dan kondisi ini, salah satunya adalah pendidikan.

 

Bahasa Indonesia, Keluarga dan Sekolah

Keluarga adalah lembaga sosialisasi pertama. Dalam keluarga kita bisa belajar bagaimana bertingkah laku yang baik seperti menghormati orang tua, disiplin serta sopan santun. Sikap dan tingkah laku itu kita dapatkan mungkin melalui nasehat dari orang tua. Melalui nasehat inilah hadirnya kekuatan dari bahasa Indonesia bahwasannya mampu membina sikap dan tingkah laku kita. Seorang anak yang mempunyai kebiasaan menyontek pekerjaan temannya, setelah mendengar nasehat dari orang tuanya akan berhenti menyontek lagi. Nasehat orang tua kepada anaknya memberi pengaruh terhadap perkembangan sikap dan tingkah laku. Begitupun dalam lingkup sekolah, Tajuk rencana Kompas (13/9/2016) berjudul “Kepala Sekolah Dipukul” menceritakan seorang kakek memukul kepala sekolah karena tidak puas dengan cara sekolah menyelesaikan masalah yang melibatkan cucunya. Kita mungkin berpikir, apa penyebab munculnya permasalahan ini. Pasti kita mempunyai jawabannya masing-masing? Tanpa kita sadari bahwa, ini merupakan bagian dari prematurnya representasi Bahasa Indonesia dalam kehidupan kita. Sikap sekolah yang pasif, kurang menyadari bahwa keluarga memiliki ikatan yang tidak terputuskan dengan sekolah. Mengapa sekolah tidak memanggil Si Kakek untuk berkomunikasi secara baik. Melalui komunikasi ini nantinya akan merubah cara berpikir  Si Kakek dalam mengambil keputusan. Gambaran munculnya masalah-masalah ini menegaskan, kita kurang menyadari bahwa melalui komunikasi yang baik mampu merubah cara berpikir dan bertindak kita.

Seorang sarjana Jerman abad ke-19 bernama Wilhem Von Humboidt dalam buku Psikolinguistik menekankan adanya ketergantungan pemikiran manusia pada bahasa. Artinya, pandangan hidup dan budaya suatu masyarakat ditentukan oleh bahasa masyarakat itu sendiri. Melalui konsep ini, bahasa Indonesia merupakan hal terpenting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita karena sudah menyatu dengan budaya kita. Mulai dari gagasan atau ide, perilaku dan hasil karya yang kita miliki tidak terlepas dari peran bahasa Indonesia itu sendiri. Sebagai sebuah budaya, tidak ada salahnya kita merawat dan melestarikannya sesuai dengan cara kita sendiri. Sebagaimana seperti apa yang telah diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara, dalam ajaran Tri-Kon yakni kita harus berpegang teguh terhadap kebudayaan asli, tanpa terpengaruh oleh kebudayaan asing (konvergen), dalam menerima kebudayaan asing,  kita harus pintar memilah-milah mana yang baik dalam memperkaya kebudayaan kita (konsentris), sehingga kebudayaan yang baik itu nantinya dapat diwariskan dari generasi ke generasi (kontinyu). Melalui ajaran ini, karena Bahasa Indonesia sudah membudaya dalam kehidupan kita, keteguhan dan kegigihan untuk merawat dan melestarikan bahasa Indonesia sangat dibutuhkan, menjunjung tinggi bahasa persatuaan serta jeli dalam menerima bahasa lain (bahasa asing) sehingga dapat dilestariakan oleh generasi berikutnya. Atas dasar inilah bahasa Indonesia lahir sebagai identitas bangsa. Budaya kita sudah menunjukkan identitas kita. Jika hari ini kita berperilaku atau bertingkah buruk maka kita  sudah tidak  lagi menghargai identitas kita, yakni bahasa Indonesia. [P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *