Hipnosis Asa

Tongkat yang menjadi pegangan goyah oleh heroin yang perlahan menyusup menyesap menghilangkan akal sehat. Entah jenis morfin apa lagi yang membuat rasa candu menguar menyebar keseluruh arah. Memberikan gairah ilusi belaka yang membuai dan memberikan rasa nikmat yang baru disadari ternyata hanya sesaat. Perlahan namun pasti rasa candu itu menjadi pahit getir, meninggalkan rasa gusar yang menggerogoti seonggok daging lalu menyisakan tulang belulang tanpa arti.

Namun sebelum itu terjadi, abstrak yang sudah terlihat akan menjadi mata angin baru yang kan menyelamatkan. Mengembalikan ruang nyata dari ruang fiksi yang semu tanpa nada tanpa asa. Pintu dan jendela kan terbuka lebar menyambut regenerasi manusia baru yang tercipta dari ribuan bahkan miliaran uji pahit manis rasa kehidupan. Kembali menyusuri jalan menatap lurus ke depan dengan yakin bahwa yang terpilih adalah nyata. Namun tanpa sadar bayang-bayang semu masih mengintai, menembus raga menyelubungi arwah.

Jalan yang telah ditelurusi masih membawa jejak-jejak fiksi. Air mata tak akan berarti lagi, senyum pun tak akan terlihat kembali. Aku belum sepenuhnya sehat, aku belum sepenuhnya kembali. Motivasi yang menguatkan sekali lagi hanya ilusi belaka, jarum yang berdenting menguruskan senyum, menyudutkan bahagia dan menguarkan sedih. Namun aku masih berjalan, aku masih berjalan menapaki jalan dengan gambaran ilusi menyedihkan. Aku yang sedang terombang ambing masih menjalankan skenario jarum waktu dan sungai mengalir. Berjalan dengan mata angin fiksi dan menikmati kebohongan yang tercipta sendiri.

 Yogyakarta, 04 Juni 2016