Saat Itu

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Telingaku,
Seperti tersengat percikan api dari neraka
Panas yang tak terkira, hampir melelehkan sisi luarnya
Setiap kali mendengar petir yang berorasi di siang hari
Tanpa mendung, sedang terik mampu menghanguskan pori
Ketika bulan tak lagi muncul kala malam
Kala bintang tak lagi setia dengan sang bulan
Matahari pulang tanpa permisi
Senja menghampiri, lalu pergi dan tak pernah kembali lagi
Pintu surga tiba-tiba tertutup tanpa penjaga
Dan pintu neraka ternganga sepanjang masa
Awan terlihat bergelantungan seperti kera
Berayun-ayun, menggaruk-garuk kepala
Dunia mendadak seperti bisu
Tapi kadang terdengar sedang tertawa
Letak langit dan bumi pun mulai tak pasti
Mata dibutakan oleh cahaya yang beracun
Kadang hidup, kadang juga mati
Sesekali,
Ingin rasanya kucabut akar berapi ini
Lalu kulempar jauh dari peredaran
Biar tuhan menegurku, lalu menghukumku sepanjang waktu
Aku tidak mati dengan begitu
Hanya lebur, bersama waktu yang menggilasku
Baru aku mati, saat itu

Yogyakarta, 11 April 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *