Pangeran, Merpati, dan Sang Puteri

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Pada zaman dahulu hiduplah seorang pangeran yang begitu tampan, tinggi semampai, berambut hitam, dan baik budinya. Ia tinggal di hutan belantara bersama dengan seekor burung merpati putih. Pangeran tersebut bernama Daffa Randai, yang konon katanya ia adalah putera kedua dari Raja langit yang diutus ke bumi untuk mengembara, belajar hidup mandiri, mengabdikan hidupnya untuk bumi tempat kedua kakinya berpijak.

Berbeda dengan kakaknya yang hidup di kerajaan langit, tinggal bersama dengan kedua orang tuanya, hidup enak dengan segala kemewahan. Pangeran Daffa Randai sejak usia remaja sudah harus belajar tentang kesederhanaan hidup, tinggal di gubuk reot berlantaikan tanah, berdinding anyaman bambu dan beratapkan daun-daun pepohonan bersama dengan burung merpati putih kesayangannya. Meskipun hidup dengan alakadarnya, Pangeran Daffa Randai tak pernah sedikitpun merasa sedih. Bahkan ia sangat bahagia dengan kesederhanaannya.

Siang perlahan pergi beranjak, sang raja hari juga nampak lebih dekat dengan tempat peristirahatannya. Senja nampak begitu menggoda, seakan menunjukkan bahwa dirinyalah satu-satunya ciptaan tuhan yang paling indah. Merasa dunia mulai petang, Pangeranpun berniat untuk mengistirahatkan dirinya sampai esok mentari pagi datang mengetuk pintu lalu membangunkannya. Ia membaringkan tubuhnya di atas dedaunan kering yang telah ia siapkan sebagai alas tempat ia tidur. Beberapa waktu setelah ia membaringkan tubuhnya, Pangeranpun langsung tertidur dengan sangat lelap.

Menjelang waktu pagi tiba, Pangeran Daffa Randai bermimpi melihat seorang puteri cantik yang sedang mencuci selendang di sungai dekat dengan air terjun. Pangeranpun mengendap-ngendap untuk melihat puteri cantik itu dari tempat yang lebih dekat. Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya, kedua tangannya menyingkirkan daun-daun di depannya yang berusaha menutup pandangan matanya. Namun sebelum mimpi itu menjalar kemana-mana, Pangeran Daffa Randaipun terbangun, lantaran terkejut mendengar suara kepakkan sayap yang berulang-ulang dari burung merpati putih kesayangannya.

Pangeranpun terbangun, ia duduk bersila dengan burung merpati yang bertengger di bahu sebelah kanannya. Ia menceritakan mimpinya tersebut kepada merpati. Sambil berpangku tangan mengingat-ingat mimpinya, ia masih tetap belum mengerti apa arti dari bunga tidurnya itu.

Karena merasa pikirannya sedang tak karuan, pangeran berniat untuk berjalan-jalan keluar dari gubuk reotnya. Ia membungkus semua pakaiannya kedalam kain, layaknya seperti orang yang akan berpindah rumah dan tak akan kembali lagi ke rumah lamanya.

Diraihnya busur dan anak panah dari dinding samping pintu yang sudah beberapa waktu menganggur, tak disentuh sama sekali oleh sang pangeran. Ia keluar dari gubuknya dengan membondong kain yang berisi pakaian, dan burung merpati yang setia menemaninya terbang rendah mendahului pangeran sebagai penunjuk jalan kemana pangeran akan pergi.

“Merpati, terbanglah rendah mendahului langkahku. Tunjukkan arah kemana aku harus pergi untuk melepas beban pikiranku” ucap pangeran kepada merpatinya.

“Baiklah pangeran, taruhlah percayamu kepadaku. Maka aku akan berusaha sebisa mungkin membawamu menuju kebahagiaan dan kemerdekaan jiwamu” balas merpati.

Merpati mulai terbang, kepakkan sayapnya terdengar begitu merdu, bagaikan nyanyian dewa di tengah sunyinya alam. Entah sudah berapa juta langkah kaki yang telah pangeran lalui, seberapa jauh jarak yang nantinya akan pangeran tempuh. Merpati tak kunjung berhenti, ia tetap melaju tanpa rasa lelah.

“Merpati, kemana aku akan kau bawa? Aku bahkan belum pernah pergi sejauh ini” tanya pangeran.

“Tenang saja pangeran, percayakan setiap langkahmu kepadaku. Sebagai teman setiamu, tidaklah mungkin aku mengecewakanmu”.

“Baiklah jika itu jawabmu, kemanapun pergiku aku percayakan semuanya padamu. Aku berharap kau benar-benar bisa menemukan tempat yang indah, agar lenyap semua beban pikiranku”.

Tak lama kemudian, pangeran seketika terkejut saat kedua matanya melihat ada air terjun di depannya.

“Tunggu merpati, apakah kamu tau tempat apa yang ada di depan itu?” tanya pangeran.

“Maaf pangeran, saya tidak tahu tempat apa itu. Adakah yang salah dengan tempat itu, pangeran?”

“Tidak.. Tidak ada yang salah dengan tempat itu. Tapi rasanya aku pernah melihat tempat itu meskipun ini adalah kali pertama aku datang kesini”.

“Ya sudah pangeran, alangkah lebih baiknya kalau kita langsung menuju ke air terjun itu, sekalian pangeran menenangkan diri” ajak merpati.

Pangeran dan merpatipun pergi menuju air terjun itu. Setelah sampai, pangeran menghela nafas sambil mengucapkan rasa terimakasihnya kepada merpati karena sudah membawawanya ke tempat yang begitu indah. Pangeran mulai memandangi sudut demi sudut area sekitar air terjun itu. Tepat di ujung sebelah selatan, tiba-tiba pangeran melihat ada seorang wanita yang berteriak meminta tolong. Tanpa berpikir panjang, pangeranpun berlari menuju tempat datangnya suara itu. Nampak dengan jelas di matanya, ada seekor buaya yang sangat besar sedang menggigit sebagian selendang sang puteri.

“Hai buaya pengecut, lepaskan puteri itu dan lawanlah aku” teriak pangeran kepada buaya.

“Hai pemuda bodoh, tak usah sok menjadi dewa penyelamat. Buat apa kamu peduli dengan orang yang sama sekali tidak kamu kenali? Jawab buaya.

“Sudahlah, ini bukan momentum yang tepat untuk kita melakukan lobi, karena ini bukan di tempat forum rapat atau diskusi. Jika tak ingin lagi kubilang pengecut, maka lekaslah kemari hadapi aku” tantang pangeran.

“Dasar pemuda bodoh, baiklah.. Akan kuhabisi kau secepatnya” jawab sang buaya dengan darah mendidih.

Lalu terjadilah pertarungan sengit antara Pangeran Daffa Randai dengan Sang Buaya. Pertarungan itu berjalan dengan tempo waktu yang cukup lama, dan akhirnya Pangeran memenangkan pertarungan tersebut setelah berhasil melumpuhkan buaya dengan anak panah beracunnya.

Dengan luka dan darah yang menetes, pangeran menghampiri sang puteri. Pada pandangan pertama, pangeran merasa jatuh hati pada sang puteri. Dengan penuh kepercayaan diri, pangeranpun mengungkapkan perasaannya dan meminta sang puteri untuk menjadi pendampin hidupnya.

“Duhai adinda yang belum kuketahui siapa namamu, pantaskah jika orang sepertiku menaruh rasa pada mahluk tuhan secantik dirimu?”

“Dan bersediakah jika kuminta kau menjadi pendamping sepanjang hidup dan matiku” ungkap pangeran kepada sang puteri.

Kejadian itu disaksikan oleh tuhan, keluarga dari kerajaan langit, semesta alam dan burung merpati putih kesayangannya. Sang puteripun membalas perasaan pangeran dan menyatakan kesanggupannya menjadi pendamping untuk pangeran.

“Duhai dirimu dewa penyelamatku, tak ada yang salah dengan semua rasa yang telah tuhan amanahkan kepadamu”

“Karena akupun juga memiliki rasa yang sama sepertimu, dengan senang hati kunyatakan kesanggupanku bahwa aku lebih dari mau dan siap untuk mendampingimu sepanjang waktu.” Balas sang puteri.

Mendengar jawaban dari sang puteri, pangeran begitu bahagia. Sebagai ungkapan kebahagiaannya, Pangeran Daffa Randaipun memeluk sang puteri dengan sangat erat sambil berbisik pada sang puteri “Ternyata kau arti dari mimpiku”.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *