Album Biru

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Kau yang terus mencoba menyunggingkan senyum padaku saat itu, masih tercetak jelas di memori otak. Namun, aku segera membantah, jika itu hanya senyum biasa, sekali lagi hanya senyum biasa. Aku hanya tak mau berharap lebih padamu, mengingat itu baru kedua kali kita berjumpa. Tapi seiring berjalannya waktu, rasa itu semakin menguat. Sekali lagi, aku mengingatkan diriku sendiri untuk tidak terlalu berharap hingga rasa itu seakan mengambang ditengah-tengah. Antara ingin melupakan namun, sudah membekas dan ingin terus menguatkan rasa namun, takut itu hanya kebohongan belaka.

Ya aku takut, aku takut jatuh dan kecewa.

Aku ini bahkan tak mengerti apa itu cinta, tak mengerti bagaimana harus memulai dan menyikapinya. Selama ini aku hanya melihat dan mendengarkan mereka-mereka yang sudah merasakan dan mengalaminya, aku tak terlalu peduli dengan hal itu. Namun, kedatangannya membuatku menarik kata-kataku sendiri. Aku mulai penasaran tentang apa itu cinta dan bagaimana rasa itu bisa tumbuh. Tapi itu bukan perkara mudah bagiku, kami berbeda, sangat berbeda. Entah kenapa Tuhan mempertemukan kami dalam perbedaan yang serumit ini. Aku ingin memperjuangkan rasaku ini namun, di sisi lain aku tak mau durhaka kepada orang tuaku sendiri.

Aku dilema, ya Allah…

Aku buka lembar demi lembar album bersampul biru, berisi foto-foto kami saat kami dapat berjumpa. Tentu dulu kami sembunyi-sembunyi untuk bertemu, sampai sekarangpun masih begitu. Katanya, Ia sendiri yang mengumpulkan foto-foto ini dan membuatnya menjadi album. Ia tahu kita tak dapat berjumpa kapanpun semau kita, hanya waktu-waktu tertentu saja. Jadi, Ia berkata “kalau rindu buka saja album ini.”

***

Beruntung, sebelum jam tujuh pagi sarapan sudah selesai aku masak. Begitu juga Ayah dan Ibu yang sudah pergi, jadi aku tak perlu susah mencari alasan untuk pergi. Sekitar pukul sembilan pagi aku sudah siap. Tak lama kemudian terdengar suara sepeda motor yang ku hafal, berhenti tak jauh dari halaman rumahku.

“Hai,” sapaku seraya menghampirinya di depan rumahku. Seperti biasa, Ia selalu memakai celana jeans panjang dan kaos pendek yang kadang dilapisi jaket kadangpun hanya memakai kaos panjang. Lalu, Ia menjawab dengan seulas senyumnya, senyum yang selalu ku rindukan.

Tak jauh kami meninggalkan rumah, hanya menuju taman kota yang jaraknya sekitar dua kilometer dari rumahku. Katanya, Ia tak berani membawaku terlalu jauh, karena itulah taman kota ini menjadi tempat favorit kami. Duduk di bawah pohon dengan danau buatan di depan mata kami. Sesekali angin bertiup pelan, membuat air danau sedikit berombak dan burung-burung yang hendak memakan ikan terbang karena air danau berombak. Cukup banyak obrolan kami, membahas ini itu sekedar melepas rindu.

“Kamu mau minum nggak?” tanyanya disela-sela obrolan kami, aku mengangguk sebagai jawaban iya. Tak lama kemudian Ia kembali dengan dua milkshake dan dua bungkus snack. “Kamu masih suka rasa strawberi dengan toping keju kan?” aku mengangguk pelan, lalu Ia memberikan satu milkshake untukku. Walaupun diam kadang mendominasi pertemuan kami , namun waktu sepertinya berputar sangat cepat hingga tak terasa sudah pukul tiga sore.

“Aku harus pulang nanti ayah sama ibu cemas dan berpikiran yang tidak-tidak.”

“Ya, ayo! kamu ku antar pulang.”

Benar saja, sesampainya di rumah Ayah dan Ibu sudah pulang, namun mereka tak terlihat khawatir. “Darimana Nis?” tanya Ibu, sontak membuatku terdiam sejenak saat aku hendak membuka pintu kamar dan hendak masuk. “Dari rumah teman bu.”

“Ganti baju setelah itu bantu ibu buat kue ya, besok teman ayah datang ke rumah. ‘Kan nggak enak kalau nggak ada makanan.” Aku mengangguk sebagai jawaban iya. Tak sampai lima menit aku sudah ganti baju dan siap membantu Ibu.

“Nis, bukannya Ibu nggak mau melarang kamu untuk berteman dengan siapa saja, tapi ibu nggak mau kamu berteman dengan orang yang salah.” Ucap ibuku tiba-tiba, disela-sela aku menghias kue-kue yang hendak dipanggang. “Maksud Ibu?”

“Annisa, Ibu tahu kamu selama ini dekat dengan siapa, dan ibu juga tahu siapa orang itu.” Aku menduduk, aku tak tahu harus berkata apa.

“Ibu minta kamu untuk segera jaga jarak dengan dia, sebelum rasamu itu terlanjur dalam dengan dia. Kamu kan tahu kita ini berbeda dengannya,” lanjut Ibu.

“Tapi kan Ibu yang bilang sendiri, Nisa nggak boleh beda-bedain teman. Semua sama saja.” Bela ku, aku berharap Ibu merubah pikirannya.

“Ya jika itu berteman, namun Ibu lihat kalian bukan sekedar teman. Daripada nanti akhirnya kamu menyesal.”

***

            Semenjak obrolanku dengan Ibu di dapur, otakku terus berkecamuk, aku tak tahu harus berbuat apa. Aku menyayanginya namun aku pun tak mau durhaka dengan orang tuaku sendiri. Aku lebih sering mengurung diri di dalam kamar, itu lebih baik daripada aku keluar bertemu dengan ibu dan aku melihat raut wajah lembutnya, tidak sampai hati aku menyakitinya. Ayah pun memilih untuk diam, Ayah tak mau banyak berkomentar. Ia berkata biar Ibu saja yang memutuskan.

Sudah hampir satu minggu ini aku cukup sibuk dengan aktifitas dan tugas-tugas kuliah, meja belajar, lantai, dan ranjang tempat tidurku pun tak luput dari tumpukan kertas-kertas dan buku-buku. Laptop yang hampir seharian ku ajak bekerja juga nampak kelelahan, “drrt.. drrt…” kudengar telepon genggamku bergetar menandakan ada pesan masuk. Kulihat di layar telepon tertulis jelas namanya, senyum sumringah seketika menghiasi wajahku.

Isi pesan singkatnya pendek dan tanpa emoticon apapun, tapi cukup jelas Ia ingin kami bertemu. Aku berpatut sejenak di depan cermin, rok panjang berwarna hitam, kaos panjang berwarna coklat dan jilbab berwarna coklat pula. Aku bukanlah gadis yang fashionable, jika pakaian itu terlihat bersih dan sopan sudah cukup bagiku. Kuraih tas selempang dari gantungan, ku masukkan dompet, handphone, dan tisu. Kali ini aku berjalan sendiri ke tempat makan karena memang Ia tak menawarkan diri untuk menjemput lagi pula lokasinya juga dekat rumahku, hanya beberapa ratus meter saja. Saat aku melewati kamar tidur Ibu kudengar isak tangis, kudekatkan telingaku di pintu kamar untuk memastikan, perlahan aku buka pintu kamar dan benar saja Ibu sedang menangis.

“Ibu… ada apa? Kok nangis?” tanyaku sembari berjalan menuju tepian tempat tidur, terlihat Ibu sedang duduk. Namun ibu hanya menggeleng dan menghapus air matanya, aku bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Barulah Ibu menjawab.

“Kamu tau sendiri kan nak bagaimana keluarga kita, ibu nggak sanggup dengar gosip-gosip miring tentang kamu.” Ibu menunduk, “maksudnya?”

“Tetangga sudah tahu tentang kamu sama Andy, kita sama-sama keluarga yang cukup taat dengan agama kita masing-masing. Ibu nggak yakin kalau kamu terus berlanjut keluarga Andy akan mengijinkan Andy untuk jadi mualaf, Ayah sama Ibu pun nggak akan rela kamu murtad.” Seketika aku tak dapat mengucapkan sepatah kata pun, tapi Ibu benar. Ah! entahlah aku benar-benar pusing, aku tak tahu harus bagaimana apalagi setelah ini aku akan menemui Andy. Dari awal aku memang sudah khawatir hal ini akan terjadi, namun aku tak pernah membayangkan akan jadi serumit ini. Aku sudah dekat dengannya hampir enam tahun dan itu bukan waktu yang sebentar. Kami sudah saling mengenal satu sama lain dengan baik, rasanya aku tak sanggup untuk berpisah.

“Nis, Ibu mohon kamu mengerti. Kamu satu-satunya anak Ibu, Ibu dan Ayah ingin yang tebaik untuk kamu. Dan Ibu harap kamu juga nggak akan mengecewakan Ibu. Kamu janji kan?” aku tertunduk lesu, tanganku tak berhenti memilin-milin tali tas selempang yang masih kupakai, otakku terus berpikir. Aku mendongakkan kepala, aku tak mungkin menyakiti wanita di hadapanku. Jadi aku putuskan, “Iya, Nisa janji.”

Terdengar nada tunggu di telepon seberang, tak lama suaranya terdengar. Ini bisa menjadi terakhir kali aku mendengar suaranya, setelah aku lulus kuliah tahun depan aku memutuskan untuk tak bekerja di kota ini. Mungkin dengan pergi dan melupakan semua hal tentangnya akan membuatku menjadi lebih mudah untuk melupakannya.

“Hai.. aku mau ngomong, maaf aku nggak bisa datang sore ini dan mungkin juga ini terakhir kali kita berkomunikasi. Maaf,” aku sedikit terisak, air mata sudah mengalir sedari tadi.

“Maksud kamu?”

“Maaf, lebih baik kita sama-sama mencari jalan yang terbaik buat kita masing-masing. Lagi pula kamu tahu sendiri, kita memang bisa terus bersama tapi kita nggak akan pernah bisa bersatu.”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *