Aku Tidak Tergesa-gesa

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Di sini, di dua meter, di bawah kaki ku berpijak. Nanti, aku akan tidur, bersama mawar, melati, dan dahlia yang sedang ku tanam. Tentu saja, bersama satu-dua bidadari. Tadi pagi, kami sudah janjian. Tapi aku tidak tergesa-gesa.

Sore ini, kawan, sebelum aku tidur di tempat ini, aku akan berwasiat padamu. Sebagai sahabat dan teman. Atau sebagai salam perpisahan.

Larilah kawan! Larilah kedalam dirimu!

Aku melihat anjing dan lalat saling berebut menggigitmu. Mereka sama berliur dan menjijikkan. Anjing datang padamu seperti sahabat, sedang lalat datang padamu seperti penyakit. Mereka bersandiwara, sesungguhnya mereka itu lapar.

Kawan, Jadilah belatung dan makanlah jasadmu sendiri! Habiskan jasadmu sebelum dibagi rata antara anjing dan lalat. Itu yang terbaik untukmu sekarang. Sadarilah kawan, daging dan darahmu sangat baik buat pencernaan mereka. Mereka sengaja tidak saling kenal, karena mereka tidak ingin lambungnya terganggu.

Aku sendiri telah usai dengan jasadku. Semua sudah kutanggalkan. Aku sedang bersiap tidur nyenyak.

Ketahuilah juga, “tidur nyenyak” adalah Ilmu tertinggi dari segala ilmu. Setidaknya, itulah kata pengkhotbah bijak. Dia berwasiat padaku, seperti wasiatku padamu sekarang.

Mencapai tidur nyenyak, bukan perkara mudah! Terjaga sepanjang hari, tak menjamin kehadirannya. Harta berlimpah dan pangkat berlapis juga tak menjamin keberadaannya. Aku kebingungan mencarinya seperti anak ayam berkeliaran sendiri di malam hari. Seekor anak ayam, berteriak dan bertanya pada kesunyian malam. Aku bertanya pada telinga-telinga yang sedang mendengkur, bagaimana caranya bisa tidur nyenyak?

Sebagian mereka menjawab, banyak yang pura-pura tidak mendengar. Mereka yang menjawab, memberiku khotbah tentang kebajikan dan surga. Sebagian lagi memberiku air surga. Konon, air surga itulah yang membuat mereka bisa tidur nyenyak.

Kemudian, yang paling menyakitkan, mereka yang pura-pura tidur nyenyak. Mereka pura-pura tidur, sementara anjing dan lalat saling berebut memakan tubuhnya. Sungguh puncak ketololan manusia ada disitu.

Terakhir, yang paling istimewa, mereka yang benar-benar tidur nyenyak. Anjing dan lalat juga ada disampingnya, tapi mereka ketakutan. Mereka bergerak mengendap-endap, seperti maling. Mereka tau, jika si pemilik tubuh terusik, terbangun, lalu mengamuk, mereka akan jadi makan malam yang menyedihkan.

Di sini, di dua meter, di bawah kakiku berpijak. Aku akan tidur, bersama mawar, melati, dan dahlia yang sudah ku tanam. Bidadariku, nampaknya juga sudah tiba. Bumi akan segera memelukku. Aku harus tergesa-gesa.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *