Akhiri Penindasan Atas Nama “Sesat”

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Keangkuhan kaum mayoritas telah melukai kaum minoritas. Sebut saja pengusiran mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) oleh orang-orang Mempawah di Kalimantan Barat yang disertai pembakaran masal pada tempat tinggal mereka. Hingga Surat edaran pemerintah Bangka kepada penganut Ahmadiah, agar kembali kepada ajaran Islam atau meninggalkan daerah Bangka.

Kejadian ini, khas terjadi setiap kali sebuah kepercayaan baru muncul.

Kita mengingat nama ayah dari Nabi Muhammad SAW bernama Abdullah yang berarti Hamba Allah. Nama tersebut mengindikasikan bahwa Allah sudah disembah di Makkah sejak sebelum sang Nabi lahir. Islam yang dibawa oleh Muhammad adalah perpaduan kepercayaan sebelumnya dan nilai baru yang sesuai di masanya. Lebih dekat, perpaduan ini juga bisa dilihat pada aliran “kejawen” di Indonesia. Beberapa elemen seperti keyakinan dan ritual diambil dari agama-agama besar kemudian ditambahkan ke kepercayaan yang sudah dianut dengan beberapa penyesuaian. Sayangnya penyesuaian tersebut seringkali kurang disukai. Seperti pada awal kemunculannya di Makkah, Muhammad dan para pengikutnya dianggap sesat dan didiskriminasikan. Secara historis, kita bisa mengambil contoh serupa dalam munculnya agama-agama besar lain. Seperti munculnya Kristen dari Katholik, atau munculnya Budha dari Hindu.

Dalam kerangka yang sama, GAFATAR muncul sebagai penggabungan dari Islam, Kristen, dan Yahudi.  Sebuah aliran yang mereka sebut Ibrahimiyah atau dalam Islam disebut agama-agama Samawi. Ahmadiah muncul dari Islam dengan pengakuan Mirza Gulam Ahmad sebagai Nabi terakhirnya.

Ringkasnya, kepercayaan baru adalah hal yang umum dan terjadi pada semua agama.

Selanjutnya adalah pengakuan secara politik. Fakta bahwa kepercayaan baru tersebut “diakui terpisah” dari keturunan asalnya, adalah pengakuan secara politik. Bisa dibayangkan, bagaimana ketika pengakuan politik keluar, kemudian semua aliran yang ada di Indonesia resmi menjadi agama.

Dengan kata lain, tidak ada standar pasti yang objektif untuk menilai kepercayaan itu menyimpang serta ortodoks.  

Dianalogikan Agama Islam menganggap GAFATAR dan Ahmadiah sesat karena mereka mengambil ajaran Islam yang diamalkan dan ditafsirkan berbeda dari cerita aslinya. Oleh karena hal tersebut agama Islam melaksanakan pengusiran terhadap GAFATAR dan Ahmadiah. Cara berfikir dan bersikap sebagaimana orang jaman Jahiliyah yang mengusir Nabi Muhammad. Ironisnya, orang-orang Islam mengecam pengusiran Rohingya dari Myanmar dan mendukung pengusiran Ahmadiah dari Bangka.

Untuk menjamin kebebasan berkeyakinan adalah tugas pemerintah dan aparatur negara. Seringkali, aparatur negara seperti menutup mata ketika beberapa kelompok garis keras melakukan aksi. Dititik ini, negara harus bersikap Netral terhadap semua Keyakinan. Tentu bukan semata berdasar fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai landasan bertindak. Karena seperti kita tau Fatwa MUI telah terlalu sering digunakan sebagai pembenaran atas perlakuan diskriminasi. Seperti kita tahu, aparatur negara seringkali tidak bisa berbuat apa-apa ketika sebuah kerusuhan terjadi atas nama Agama Mayoritas. MUI harus diletakkan sebagai mana NU dan Muhammadiah, sebagai lembaga non-negara. [P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *