Pameran Seni Rupa: Seperti Dilahirkan Kembali

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Foto Dekan, Seniman, dan Penulis dalam acara pembukaan pameran seni rupa "Pra Perjalanan" Selasa (26/01). Foto: Aziz/Pendapa
Foto Dekan, Seniman, dan Penulis dalam acara pembukaan pameran seni rupa “Pra Perjalanan” Selasa (26/01). Foto: Aziz/Pendapa

Pameran seni rupa bertajuk “Pra Perjalanan” digelar Arman Sukarsih Mahasiswa Progam Studi (Prodi) Pendidikan Seni Rupa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST). Dalam acara pembukaan pameran seni rupa Selasa, (26/01) pukul 19.00 WIB puluhan pengunjung mulai memadati lokasi pameran yang bertempat di Pos-nya Seni Godod.

Pameran yang akan berlangsung hingga Jumat, (29/01) tersebut dihadiri oleh Ki Bambang Trisilo Dewobroto selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UST, Nyi Insanul Qisti dan Ki Rusnoto Susanto selaku dosen Prodi Pendidikan Seni Rupa UST, para Perupa di Yogyakarta, dan Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni Rupa UST.

“Pra Perjalanan” diceritakan oleh Arman bahwa dirinya ingin mencoba mengeksistensikan dirinya yang telah berproses berkesenian selama lima tahun. “Kalau umur manusia lima tahun berarti manusia itu belum tahu apa-apa,” ungkapnya saat ditemui Tim Pendapa Rabu malam, (27/01). Arman  juga mengatakan bahwa karya-karya seni rupanya  menceritakan tentang bagaimana proses keberaniannya yang Arman ibaratkan seperti anak kecil. “Anak kecil berbuat sesuatu sesuai dengan kesenangan hati,” tegas mahasiswa asal Lombok ini.

Dalam melaksanakan pameran tersebut Arman mengungkapkan hambatannya adalah pada biaya. “Di sini saya belum bisa menampilkan seluruh karya saya,” ungkap Arman. Namun usaha Arman dalam berkesenian dan berkeinginan untuk menampilkan semua karyanya tidak akan terhalang oleh hambatan, Arman berencana akan menyelenggarakan pameran tunggalnya dan menampilkan seluruh karya yang ia punya pada akhir tahun 2016. Selain itu Arman Sukarsih juga berharap agar terselenggaranya pameran ini akan membuahkan dampak yang positif untuk orang lain. “Semoga banyak orang yang akan termotivasi dengan karya saya,” tambahnya.

Godod Sutejo selaku pemilik tempat Posn-ya Seni Godod mengungkapkan tidak semua seniman mempunyai rasa percaya diri terhadap karyanya sehingga terselenggaranya sebuah pameran seni rupa merupakan tantangan tersendiri oleh senimannya. “Karya yang belum bagus namun berani untuk berpameran itu adalah sesuatu yang luar biasa,” tegas Godod. Dalam sambutanya Ki Bambang Trisilo Dewobroto menegaskan bahwa pameran tunggal yang diselenggerakan oleh Prodi Pendidikan Seni Rupa UST merupakan kewajiban bagi mahasiswa yang mengambil tugas akhir bukan skripsi. Ki Dewobroto berharap bahwa Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UST tetap dibimbing untuk menjadi guru akan tetapi harus tetap mengembangkan karya seninya. “Walaupun menjadi guru tetap juga berkesenian sebagai seniman,” tambah  Ki Dewobroto.[P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *