PBSI UST Gelar Pertunjukan Teater

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Salah satu adegan dalam teater Tanpa Pembantu PBSI. Senin, (21/12/15). Doc. Istimewa
Salah satu adegan dalam teater Tanpa Pembantu PBSI. Senin, (21/12/15). Doc. Istimewa

Senin malam, (21/12/2015) mahasiswa Program Studi (Prodi) Bahasa Dan Sastra Indonesia (PBSI) yang menganbil mata kuliah pilihan produksi pentas menyelenggarakan pentas teater yang bertempat di hall Pendidikan Bahasa dan Seni (PBS). Pementasan tersebut terbagi menjadi dua kelompok yaitu teater 13 yang menampilkan teater dengan judul tanpa pembantu, dan kelopok akar pohon yang menampilkan teater lupiet dan sengkuni.

Ki YB. Maridja selaku dosen pengampu mata kuliah produksi pentas mengatakan pementasan teater bertujuan untuk mewadahi mahasiswa yang mempunyai ketertarikan pada teater sehingga diadakan pada mata kuliah pilihan produksi pentas semester 7 Prodi PBSI, tetapi dapat juga diambil oleh mahasiswa semester 5 yang telah lulus mata kuliah penyutradaraan dan keaktoran. “Setidak-tidaknya mereka yang mempunyai minat ini, jadi mewadahi bakat yang sudah ada di mahasiswa.”

Adapun tema yang diangkat dalam pementasan teater tersebut adalah mengenai kehidupan sehari-hari yang diterjadi dimasayarakat, seperti pada pementasan kelompok teater 13 yang menampilkan kehidupan rumah tangga ketika ditinggalkan oleh seorang pembantu. Sumarno selaku sutradara mengatakan alasan kelompoknya memilih tema dalam pementasan teater tersebut dikarenakan ceritanya sangat familiar dimana dalam kehidupan rumah tangga ada seorang istri yang merupakan wanita karir dan seorang suami yang harus menggantikan tugas istri sedangkan suami tersebut sedang melaksanakan studi di jenjang perguruan tinggi. “Jadi kami pikir sangat bagus untuk ditampilkan,” ujar mahasiswa asal Cangkringan ini.

“Teater tanpa adanya pembantu itu dapat memberikan pesan moral kepada seorang istri  (khususnya keluarga),” ujar Sumarno. Senada dengan Sumarno, Ibnu lakon utama dalam teater Tanpa Pembantu menambahkan sekarang emansipasi wanita itu telah membalikkan semuanya. “Jadi wanita itu salah nanggep dan jangan lupa dengan kodratnya,” ujar mahasiswa asal Magelang ini. Sumarno berharap teater Prodi PBSI UST dapat lebih maju dari sebelumnyka, “dan kalau bisa ada suatu wadah yang bisa mengkoordinasi teater dan tidak mati setelah kita pentas,” ungkap Sumarno. (P)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *