Pohon Tinggi

Mencari dan berjalan terus mengejar bara api, rapuh lautan akan padan berpitam pada ujung belati. Pohon tinggi teduh nan sayu, berakarkan jerami yang tercabut rapat dari tonggak tinja bernaungkan pada sosok diri seorang garuda. Sang kecil akan aman terkena badai namun sang pohon yang  tinggi akan menutup telinga rapat-rapat mendengar suara teriakan tentang dirinya. Dan ia akan berlari dengan jauh mendengarkan mereka bernyanyi tentangnya. Bukan mengangung-anggungkan namanya tetapi malah mencaci-maki dari belakang hingga darah hitam kebencian itu mulai ada. Tak peduli setan maupun Tuhan, tak peduli kawan atau lawan ia akan tetap menutup telinga rapat-rapat.

Lalu sang pohon tinggi bertanya, tentang bagaimana menjadi rendah? Jawabannya akan  didapatkan setelah ia menggorok tanah dari ampas neraka panas, dingin, dan sejuk dari sebuah dosa yang melekat. Ia akan rendah seredah-rendahnya diukur dari pohon, ia tinggi tapi tidak pernah merdeka masih terjajah tertindas tapi tak apa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau dijajah oleh bangsanya sendiri.

Terkutuk dengan segala upaya melepaskan penat hingga ia akan tetap menjadi tinggi. Badai datang dan ia amati. Hujan datang dan sunyi melekat pada setia pasak yang memperbesar semua kemungkinan dari setiap kemungkinan. Maka dengarkan suara air panas yang mendidih dengan menjilat ludah dirinya sendiri. Bangga bosan percaya dan biadab. Ajing akan menjadi pohon tinggi dan pohon tinggi tak dapat menjadi anjing melainkan pemimpin. Laknat keparat telah hidup namun orang jujur dibinasakan. Disini adalah tanah yang indah, betul tanah yang indah untuk dijajah.