Tangis, Warnai Pembongkaran Sekretariat Mapala Bangkel

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Isak tangis terdengar dari luar ruangan sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mapala Bangkel Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Siang itu (17/10/2015), beberapa anggota Mapala Bangkel menangis lantaran pada saat itu juga ruang kesekretariatan mereka akan dibongkar. “Ruangan kami akan dibongkar saat ini juga,” terang Dewi Astuti selaku Ketua Umum Mapala Bangkel, sembari mengusap air matanya.
Pembongkaran sekretariat Mapala Bangkel tersebut merujuk pada Surat Keputusan (SK) Wakil Rektor III No: 62/UST/Warek-3/X/2015 yang berisi tentang pembongkaran sekretariat Mapala Bangkel. Menurut pihak rektorat, pembongkaran itu perlu dilakukan lantaran untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Alasan itu merujuk pada SK Pembekuan Mapala Bangkel yang terlayang beberapa bulan yang lalu.
Sebelum terlaksana pembongkaran paksa yang dilakukan oleh pihak rektorat, Mapala Bangkel dan beberapa UKM yang tergabung dalam forum UKM UST, mencoba bernegoisasi dengan pihak rektorat. Dalam negoisasi tersebut, Mapala Bangkel dan Forum UKM menuntut tiga poin penting yang ditulis dalam surat terbuka. Pertama, rektor harus mencabut SK pembekuan Mapala Bangkel lantaran sampai saat ini tidak ada kejelasan mengenai masa pembekuan tersebut. “Katanya sampai kondisi Mapala Bangkel kondusif, ini menurut kami suasana Bangkel sudah kondusif. Nah, berarti SK pembekuan harus dicabut,” terang Dewi. Kedua, Wakil Rektor III harus mencabut SK pembongkaran sekretariat Mapala Bangkel. Ketiga, pihak rektorat harus membuat forum mediasi untuk membahas kejelasan pembekuan Mapal Bangkel dan SK Pembongkaran sekretariat. Namun, berhubung Ki Pardimin selaku rektor UST berada di Jakarta, proses negoisasi hanya dapat dilakukan melalui telepon antara ketua Mapala Bangkel dan rektor. “Hasilnya, rektor tetap menginstruksikan pembongkaran,” ungkap Dewi. Wakul Rektor III Ki Hadi Pangestu pun juka tak banyak komentar, ia hanya mengatakan keputusan ada di rektor. “Silakan hubungi rektor,” tegas Dewi menirukan tuturan Ki Hadi Pangestu.
Panji Astowo selaku Ketua Forum Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) memadang pembongkaran tersebut dilakukan secara semena-mena oleh pihak rektorat. Menurutnya, sebelum SK pembongkaran paksa ini dicanangkan oleh pihak rektorat, seharusnya pihak rektorat juga mempersiapakan ruangan lain untuk menyimpan peralatan Mapala Bangkel. “Kami UKM tetap menolak pembongkaran ini, karena sampai sekarangpun tidak ada kejelasan mengenai sekretariat penganti untuk mereka,” tegasnya.
Setelah negoisasi dengan Ki Pardimin melalui telepon tersebut, akhirnya Ki Hadi Pangestu datang dengan beberapa orang dan segera memerintahkan anak-anak Mapala Bangkel untuk mengosongkan sekretariat. Suasana haru terekam saat detik-detik pembongkaran tersebut dilakukan. Anggota Mapala Bangkel dan alumni menagis ketika harus melihat sekretariat yang mereka huni dari tahun 2012 harus rata dengan tanah. “Semoga kita mendapatkan tempat yang layak dan lebih daripada di sini,” kata salah satu alumni Mapala Bangkel sembari menangis, mencoba menguatkan anggota-anggota Mapala Bangkel.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *