Ijazah dan Prestige

Bukan mudah, menjadi bintang utama video berjudul “wisuda abal-abal” berlabel TV ONE. Dini Nurul Hakim, satu dari 1.300 calon sarjana, hari itu merias wajahnya dan mengenakan toga di Hall Convention Centre Universitas Terbuka (UT) yang diselenggarakan Yayasan Aldiana Nusantara (YAN).
Dini tiba-tiba terkenal lantaran wisudanya digerebek pejabat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti). Sang pejabat, juga menampakkan diri di video berdurasi 2 menit 53 detik yang menyebar luas di sosial media belakangan ini. Ketidak mampuan Dini menyebut nilai IPK, nama universitas, dan mata kuliah favorit, membuatnya menjadi bahan tertawaan masyarakat.
***
“Sarjana abal-abal? Memangnya anda bukan?” Azhar Irwansyah menyentil kita dalam tulisannya di media online (red: mojok.co/2015/09/sarjana-abal-abal-memangnya-anda-bukan/). Dini adalah korban kelas bawah, yang dijadikan tertawaan oleh kelas menengah. Bagi Azhar, sang wisudawati, seharusnya dihormati sebagai korban, bukan malah dijadikan bahan tertawaan. Inti persoalan bukan ada pada wisudawati yang kebingungan menjawab apa nilai IPK, nama universitas, atau mata kuliah favorit nya, melainkan sistem pendidikan kita yang tak ubahnya seperti pabrik “gelar”.
Berasal dari universitas ternama di Indonesia, Azhar juga mengaku bingung jika ditanya mata kuliah favoritnya. Bahkan malu, mengakui berapa IPK nya. Beberapa lapis masyarakat di Indonesia tidak memiliki privilege untuk kuliah di kampus-kampus ternama. Namun, kebutuhan mereka tentang gelar sebagai prestige, nampaknya sulit dibendung. Sehingga munculah jalan pintas dengan membeli gelar sarjana sebagai solusi. Membeli gelar demi sebuah prestige, mungkin konyol, namun menjadikan Dini sebagai bahan tertawaan tetap tidak bisa dibenarkan.
Gelar sarjana sebagai prestige, atau dalam bahasa disebut gengsi adalah lumrah di masyarakat Indonesia. Bagaimanapun, gelar sarjana banyak menentukan beberapa hal dalam diri si penyandang gelar. Ijazah yang nantinya membantu kita memilih jodoh. Ijazah, yang bagi sebagian orang adalah pajangan sempurna di dinding rumah orang tua.
***
“Dulu, nama besar kampus disebabkan oleh karena kehebatan mahasiswanya. Sekarang, mahasiswa ingin hebat karena nama besar kampusnya,” begitulah sabda Pidi Baiq sang Imam Besar The Panas Dalam.
Prestige sekali lagi membawa kita ke dunia abal-abal. Sebut saja beberapa kampus dengan nama besar, bahkan sulit bukan main untuk menembus pintu gerbangnya. Nama besar telah membuat jamaah penggila prestige bersedia membayar joki untuk lolos seleksi. Mungkin kita juga bisa menghitung para lulusan mereka yang berhasil menembus jabatan tinggi dan berperan aktif di jamaah korupsi. Atau mungkin beberapa lagi sudah cukup cerdas, sehingga sekedar ingin menyandang gelar sarjana untuk mencukupi kebutuhan prestige orang tua.
Kita bisa juga berjalan-jalan sambil berangkat ke sekolah, ke kampus, atau ke kantor, lihat saja sepanjang jalan. Disana, ada banyak pekerja kelas menengah, tentu saja beberapa diantara mereka sarjana. Seberapa banyak, ilmu yang mereka geluti di bangku kuliah berguna bagi pekerjaan mereka. Iya, karena mereka bukan kuliah demi ilmu, tapi demi prestige. Bahkan, mungkin kita bisa menghitung berapa banyak sarjana yang memiliki pekerjaan sesuai bidang keahliannya.
***
Dini Nurul Hakim, sang pengejar prestige itu, menjadi tertawaan. Kita semua juga, mengejar hal yang sama dengan cara yang berbeda. Kita semua harusnya menertawakan kedalaman diri kita. Sulit memang mengakui, tapi kita juga telah menjadi budak prestige dalam beberapa sisi. Kita hanya perlu waktu untuk terbiasa, atau untuk melepas atribut prestige dan mengakui dimana kita harus ditempatkan. Menempatkan semua manusia setara, dan berbeda, sekaligus.