Perjalanan Sebuah Buku

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Suara mobil truk menggema menghampiri aku dan teman-temanku. Sudah seminggu lebih kami teronggok di tempat sementara. Kini kami memulai babak baru perjalanan hidup kami, mengelilingi jalanan ibu kota yang kumuh dan sesak oleh kehadiran kami. Namun kami tak dapat berbuat banyak, merekalah yang membuat kami selalu hadir setiap waktu. Merekalah yang membuat kota ini menjadi dipenuhi oleh kehadiran kami. Terkadang tanpa celah dan dosa kami dilempar di bibir Ciliwung, aku kasihan melihat Ciliwung menjadi kotor karena ulah-ulah mereka. Cilwung menangis namun tak satu pun yang mendengar tangisannya, mungkin aku bernasib sama seperti teman-temanku. Membanjiri Ciliwung dengan bobot tubuhku yang hampir rontok.

“Akan kita bawa kemana semua benda-benda busuk ini?
“Seperti biasa, ditempatkan di tempat tujuan terakhir.”
“Jalanan semakin tak bersahabat, kita membutuhkan waktu berjam-jam untuk jarak yang hanya 17 Km.”
“Hentikan keluhanmu, kau semakin membuat bauk busuk tercium begitu ganas.”

Kami melewati Ciliwung, kulihat Ia semakin tak terurus. Pantas sajalah jika suatu hari ia marah pada mereka, namun aku melihat pemandangan yang luar biasa menurutku. Dua orang pemuda membersihkan bibir Ciliwung, memasukkan teman-temanku ke dalam kantong plastik hitam. Tetapi bodohnya lelaki tua di hulu Ciliwung mencemari bibir Ciliwung dengan kotorannya. Mungkinkah pemuda-pemuda itu adalah malaikat Tuhan? Entahlah mungkin mereka manusia biasa tetapi berhati malaikat.

Badanku semakin membusuk, dihinggapi sejumlah lalat. Sungguh menjijikkan, bukankah aku dapat hancur dengan sendirinya? Mereka tak perlu repot-repot membawaku, cukup campakkan aku di luar rumah dengan sendirinya aku bersatu padu dengan tanah dan kembali pada alam.

“Lama sekali perjalanan kita ini. Setelah sampai di tempat tujuan pastilah aku langsung di bakar oleh mereka. Jika aku beruntung mungkin ada orang yang akan memanfaatkanku kembali, aku merasa senang jika hal itu terjadi padaku.”
“Berdoalah engkau banyak-banyak, semoga mereka tak membakarmu.”
“Lalu bagaimana dengan engkau sendiri? Apa engkau rela dibakar begitu saja?
“Aku? Aku hanya ingin membusuk di tanah, jika mereka membakarku aku tak mungkin dapat berlari. Saat ini tubuhku telah membusuk, beda halnya dengan kamu yang masih punya harapan untuk diselamatkan.”
Sopir satu telah memberhentikan laju mobil, kini kami sampai di rumah kami. Rumah terakhir kami, yang menjadi saksi untuk benda bisu seperti kami.
“Jang, tadi aku melihat ada sebuah buku yang masuk dalam truk kita. Aku ingin mengambilnya, tapi aku tak tahan dengan bau mereka.”
“Biarlah, yang penting tugas kita telah selesai. Sekarang turunkan mereka dari truk kita.”

Kamu tahu bagaimana susahnya aku diciptakan? Aku diciptakan dari penulis andal, yang setiap malam terus berlatih menulis hingga Ia menghasilkanku. Ia mencoret-coret isi hatinya, menuangkan pikirannya dan kini tamatlah sudah hidupku. Aku terkepung diantara berjuta-juta kuman, bakteri serta bau busuk. Kupikir musuhku selama ini adalah air, api dan rayap. Kini aku berada di ujung kegembiraan kobaran api yang akan melahapku seutuhnya tanpa ampun. Adakah yang dapat membantuku?

“Ibu aku ingin membeli cerita dari negeri dongeng, apa ibu telah memilki uang.”
“Bantu ibu dahulu, mencari sesuatu yang masih dapat di daur ulang.”
“Hatiku berdetak, saat namaku disebut anak itu. Aku ada di sini Nak, bantu aku keluar dari sini. Bawa aku ke tempatmu, tempat yang lebih layak dari ini, larikan aku dari musuhku, Nak.”

“Ibu, boleh aku mencari ke arah sana?
“Boleh, asal jangan terlalu jauh dari ibu, cepat kembali.”
“Baik, Bu.”

Senja terlukis sempurna, jingga mewarnai langit dengan elok. Burung memadati lintas alam, menyuarakan peluh kisahnya. Matahari tenggelam dengan adil, Ia tetap bersinar dan tenggelam di tempat kumuh yang menghalangi cahayannya.

“Ibu lihatlah ini, aku menemukan buku yang aku cari di ujung sana.”
“Masih bagus, Nak bukunya. Simpanlah buku itu dengan baik, Tuhan bermurah hati padamu hari ini.”
“Tetapi buku ini basah dan bau bu.”
“Tak apa, Nak. Dirumah kita bersihkan buku itu dengan kain kering.”
Terimakasih, Nak. Telah membantuku keluar dari tempat itu, serta membawaku lari dari kobaran api yang mungkin akan merutuhkan tubuhku.

“Ayo, Bu kita pulang. Sebentar lagi sepertinya hujan akan turun, Bu.”
“Pergilah cari kantong plastik untuk membungkus bukumu itu, biar tak basah jika nanti hujan turun.”

Namun sial bagiku, baru saja anak itu hendak berlari mencari kantong plastik hujan turun tanpa memberi aba-aba. Aku mengutuk musuhku yang satu ini.

Terimakasih sekali lagi, Nak. Telah menyelamatkanku, kini aku merasa sedikit terlindungi di dalam kaus bajumu yang kusam seperti diriku yang juga kusam dan bau. Kini aku akan berhadapan dengan musuh baruku, mungkin rayap dan kutu yang akan mengerogoti tubuhku yang lembab. Sebelum aku runtuh, aku berharap engakau telah membaca seluruh cerita yang ada ditubuhku, Nak.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *