Legalitas Dipertanyakan, Makrab Seni Rupa Diwarnai Kericuhan

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Sabtu, (26/9/15) sekitar pukul 21.00 WIB Ikatan Mahasiswa Progam Studi Pendidikan bahasa dan seni (IMPS PBS), Majelis Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (MMFKIP) dan Majelis Mahasiswa Universitas (MMU) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) mendatangi kegiatan malam keakraban (makrab) program studi seni rupa yang bertempatan di Wisma Kaleorang, Kaliurang, Yogyakarta. Sekitar belasan mahasiswa tersebut bersamaan menghampiri peserta makrab dan panitia yang sedang bersiap-siap melaksanakan kegiatan jalan-jalan malam.

Menurut keterangan saksi, setelah rapi memarkirkan kendaraan bermotor yang mereka gunakan, datang salah seorang dari mereka menghampiri salah satu panitia makrab yag bernama Eko Noviantanu dan bertanya dengan nada keras, “Ketua panitianya mana njing?”. Tanpa menghiraukan pertanyaan tersebut, Eko bergegas pergi menghampiri panitia yang lain untuk memberitahu pertanyaan yang ia terima, “Setan, anak-anak lembaga tidak sopan masak bilang sama aku, ketua panitianya mana njing,” ungkap Eko. Tanpa sadar ungkapan dari Eko didengar oleh Riswan selaku Ketua MMFKIP. Riswan meminta Eko untuk mengulangi perkataannya dengan jelas, “Kau bilang apa? Ulangi!” ungkap Riswan. Eko yang tidak terima dengan perlakuan para lembaga tersebut mengulangi perkataannya dengan lantang “Setan, anak-anak lembaga!” ungkap Eko. Selepas kejadian adu mulut tersebut, suasana memanas. Eko dan Riswan sempat ingin baku hantam namun dapat diredam oleh beberapa panitia makrab.

Setelah keributan mereda, panitia makrab seni rupa meminta aktivis mahasiswa melakukan mediasi di dalam ruangan yang tertutup agar tidak ada keributan yang disaksikan oleh peserta makrab seni rupa yang tak lain adalah mahasiswa baru. Diwakilkan oleh lima panitia makrab, proses mediasi dimulai oleh permohonan maaf dari Muhammad Aziz Muttaqqin kepada aktivis mahasiswa atas perlakuan panitia sebelumnya yang kurang pantas sehingga menyebabkan keributan. Dalam mediasi tersebut, turut serta juga dosen-dosen Seni Rupa, yaitu Ki M. Rusnoto Susanto selaku pembimbing kegiatan Makrab seni rupa, Ki Dwi Susanto, Nyi Insanul Isthi dan Ki Tri Wahyudi.

Dilanjutkan oleh Arman Sukarsih mahasiswa dari seni rupa UST yang menyatakan permohonan maaf apabila Makrab Seni Rupa melakukan kesalahan dalam proses pelaksanaannya sehingga membuat anggota lembaga-lembaga mahasiswa di UST tersinggung dan dengan kesalahan tersebut, ia menyatakan panitia siap menerima sanksi yang berlaku menurut prosedural yang berlaku.

Setelah panita Makrab Seni Rupa memohon maaf, Riswan selaku ketua MMFKIP menjelaskan pelanggaran yang dilakukan panitia makrab seni rupa dan menyatakan bahwa kegiatan Makrab adalah kegiatan yang cacat secara prosedural. Lantaran kegiatan tersebut tidak diketahui oleh IMPS PBS. Riswan juga meminta penjelasan pembentukan struktur kepanitiaan Makrab Seni Rupa. Azis menjelaskan bahwa struktur kepanitiaan di bentuk oleh Kaprodi Seni Rupa Nyi Dharmawati Dewi Pamugkas melalui Surat Keputusan (SK).

Ki M. Rusnoto Susanto menyarankan kepada lembaga-lembaga mahasiswa di UST untuk juga mengikuti prosedural yang berlaku, bila ada pelanggaran yang dilakukan oleh panitia, dapat memberikan teguran dalam bentuk tertulis seperti Surat Peringatan (SP) kepada panitia Makrab.

Kemudian Riswan menyatakan kembali, sebagai perwakilan MMFKIP Riswan berhak membubarkan kegiatan Makrab Seni Rupa dan menyatakan bahwa Kaprodi Seni Rupa melakukan kesalahan karena telah mengeluarkan SK struktur kepanitiaan Makrab Seni Rupa tanpa campur tangan IMPS PBS. Riswan menjelaskan bahwa semua kegiatan dari mahasiswa UST harus mendapatkan legalitas dari lembaga terkait. Namun Riswan mengaku, lembaga-lembaga mahasiswa juga melakukan kesalahan karena datang dalam kegiatan Makrab seni Rupa ini tanpa undangan dari panitia.

Mediasi yang berlangsung sekitar satu jam memutuskan bahwa kegiatan Makrab Seni Rupa dipersilahkan berlanjut. Ori mewakili MMU meminta agar dalam acara tersebut dilaksanakan sesuai kegiatan makrab bertujuan mengakrabkan bukan untuk melatih mental. Ungkapan dari Ori tersebut menutup proses mediasi tersebut. Diakhiri dengan saling memohon maaf atas ketidak sepahaman yang terjadi sebelumnya. Setelah mediasi tersebut selesai, anggota lembaga-lembaga mahasiswa di UST langsung meninggalkan tempat Makrab. Sedangkan Panitia Makrab melanjutkan kegiataan dan berakhir lancar sampai acara itu selesai

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *