Mempertanyakan Siapa Pahlawan Perempuan

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Pahlawan.

Pahlawan berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu phala-wan yang memilki arti “orang yang dalam dirinya telah menghasilkan sesuatu (phala) yang berkualitas untuk bangsa, negara, dan agama. Diantara ratusan pahlawan yang telah diakui keberadannya terdapat segelintir sosok wanita tangguh yang didapuk menjadi pahlawan. Siapa tak mengenal Raden Ajeng Kartini (R.A Kartini) nama beliau sudah lekat di dalam memori bangsa. Bahkan R.A Kartini digadang-gadang menjadi pejuang emansipasi wanita. Masih ingat syair lagu “Ibu Kita Kartini” dapat dipastikan lagu tersebut menjadi lagu wajib bagi anak-anak sekolah.

Akan tetapi sayangnya, kebanyakan dari kita hanya mengenal sosok Kartini sebagai pahlawan wanita. Kita seolah-olah melupakan sosok wanita tangguh lainnya. Padahal ada sejumlah nama yang pantas dikagumi sifat “kesatrianya”. Mereka yang seolah dilupakan justru merekalah yang dalam hal ini berperang tidak hanya dengan pikiran tetapi juga dengan segenap raga. Seperti Nyi Ageng Serang, Raden Dewi Sartika, Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Muetia, Cut Nyak Dien, Rohana Kudus, Malahayati, dll.

Tidak lebih dan tidak kurang bahwa sejarah merupakan milik mereka yang berkuasa di zamannya. Tidak megherankan bila kemudian jika kita hanya mengenal nama-nama pahlawan yang memang diakui keberadannya oleh pemerintah. Sosok-sosok yang sesungguhnya juga pantas mendapat gelar pahlawan seolah sengaja dibungkam keberadannya. Entah karena pemikirannya yang begitu tajam atau diduga terlibat paham tertentu. Akan tetapi, di zaman serba canggih ini mulai banyak sejarawan yang berani tampil badan untuk membuka tabik sejarah kelam Indonesia, termasuk menuliskan sejarah pahlawan yang sengaja dibungkam di masanya.

Namun tetap tak banyak yang menuliskan sejarah pahlawan perempuan bangsa ini. Pengaruh politik dan kekuasaan dicurigai menjadi alasan dibungkamnya sejumlah nama perempuan hebat bangsa ini. Adapun sejumlah kebijakan yang dapat diterapkan agar penerus bumi pertiwi dapat mengenal sejumlah sosok perempuan hebat selain R.A Kartini. Guru di sekolah pada khususnya guru sejarah dapat memulai mendengungkan nama-nama wanita hebat bangsa ini.

Campur tangan pemerintah juga diharapkan agar mereka “pahlawan wanita yang tenggelam namanya” untuk diangkat kembali sebagai wujud menghargai jasa-jasa mereka. Bukankah seorang hebat pernah berkata “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa-jasa para pahlawan”. Jangan biarkan kalimat indah itu mandek di telinga. Mari membuka mata lebar-lebar untuk memahami bangsa ini lewat sejarah, lewat jasa para wanita tangguh bumi pertiwi.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *