Ki Hadjar Dewantara: Tokoh Avant Garde Kebangkitan Nasionalisme Pendidikan di Indonesia

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Mungkin lagu “Indonesia Raya” dan “Hymne Guru” tak akan pernah berkumandang pada 2 Mei jika, pada tanggal tersebut tidak ditetepkan sebagai hari Pendidikan Nasional. 2 Mei bukan hanya acara serimonial memperingati ataupun menghargai jasa pahlawan pendidikan kita. Melainkan pula, adanya kemauan anak negeri yang ingin mendudukan pentingnya pendidikan dan kemerdekaan yang diperjuangkan Pahlawan Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara.
Beliau mengorbankan rasa aman, kenyaman dan kenikmatan hidupnya untuk memperjuangkan hak rakyat untuk dapat mengenyam pendidikan setara dengan bangsa-bangsa lain. Ki Hadjar Dewantara memimpikan bangsanya memiliki kepribadian, bermartabat dan meninggikan derajat budaya bangsanya yang diperoleh dari proses pendidikan. Lantas, bisakah kita berterima kasih pada jasa-jasanya dengan mewarisi jiwa merdeka sebagai pendidik dari seorang Avant Garde (garda depan) kebangkitan nasionalisme pendidikan di Indonesia?

Hardiknas : Spirit Ki Hadjar Dewantara dan Ruh Pendidikan Nasional
Hari pendidikan Nasional tak dapat dipisahkan dengan tokoh Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara. Dalam dunia akademik Dr. (HC) RM. Soewardi Soerjaningrat memperoleh gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada tahun 1957. Dalam pidatonya kala itu, Ki Hadjar Dewantara mengaskan kembali mengenai konsep-konsep pendidikan nasional yang diperjuangkannya.
Pendidikan Nasional memiliki sejarah panjang sejak zaman penjajahan, revolusi, masa kemerdekaan, masa pembangunan, hingga masa reformasi saat ini tak lepas dari spirit yang diwarisi Ki Hadjar Dewantara dan ruh pendidikan nasional. Tokoh-tokoh pendidikan nasional secara historis meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional berbasis pada nasionalisme dan karakter budaya Indonesia. Pendidikan yang lahir dan tumbuh dari hasrat memerdekakan bangsa (dari belenggu penjajahan) dan hasrat mencerdaskan kehidupan bangsa. Seperti Ki Hadjar Dewantara meletakkan dasar pendidikan melalui nilai-nilai, ajaran pekerti luhur, diktum, doktrin filosofis, dan berbagi fatwa untuk meninggikan harkat martabat, dan derajat budaya bangsa sendiri. Ki Hadjar Dewantara dalam buku I Pendidikan: Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka (2013: 15) secara tegas menyatakan bahwa pendidikan nasional menurut faham Taman Siswa ialah pendidikan yang beralaskan garis-hidup dari bangsanya (cultureel nationaal) dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan (maatschappelijk) yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya, agar dapat bekerjasama dengan bangsa lain untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia. Sehingga nilai ini dapat dimanifestasikan bahwa pendidikan nasional tidak menemukan kebingungan ketika menentukan langkah dan penetapan kurikulum pendidikan nasional.
Kemudian saat ini, sistem pendidikan berada pada upaya reorientasi nasionalisme mengenai konsep pendidikan melalui pendidikan karakter meskipun muatan lokal yang merepresentasikan pendidikan karakter tetap tidak diposisikan secara strategis dalam praktik pendidikan secara riil. Terbukti bahwa kurikulum dan sistem pengajaran yang masih kebarat-baratan dengan mencaplok metodologi dan ideologi pendidikan Barat. Lantas, bagaimana dengan sistem pendidikan nasional kita saat ini? Jika kita lihat pendidikan nasional saat ini telah mereduksi pentingnya kebudayaan kendati sistem kurikulum kita masih tetap mondar-mandir memperkarakaran basis dan disibukkan dengan penggalian nilai-nilai lokal dalam memperkuat pendidikan yang berbasis karakteristik budaya nasional.

Pendidikan Berakar pada Nilai Budaya
Secara eksplisit Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa sistem pendidikan nasional harus berdasarkan sistem, tata nilai, azas, dan bersumber dari akar budaya nasional. Sehingga, dalam konsep pendidikan nasional memberikan kerangka sistem pendidikan yang berkebudayaan dengan sistem among, panca dharma, tri pusat pendidikan, trikon, trilogi kepemimpinan, trihayu, dan fatwa hidup tamansiswa.
Sistem Among merupakan sistem pendidikan yang pada pelaksanaan pembelajaran menamkan jiwa kekeluargaan, meyakini secara kodrat alam seorang anak memiliki potensi cerdas lahir bathin dan menamakan jiwa merdeka. Dalam praktiknya sistem among menuntut setiap pamong (guru) sebagai pemimpin dalam proses pendidikan dengan memanifestasikan diktum Ing Ngarsa Sung Tuladha, Tut Wuri Handayani, Ing Madya Mangun Karsa. Sistem ini menjadikan anak didik bebas menemukan potensi dirinya dan segala yang menjadi impiannya. Peran pamong membimbing, mendampingi, memupuk, menyemangati, dan mengantarnya ke dalam dimensi-dimensi tertentu pilihannya tanpa menekan, mengintervensi, dan melukai apa yang menjadi harapan maupun impian masa depannya.
Untuk mewujudkan Sistem Among, menurut Ki Hadjar Dewantara (1952:55-56) pendidikan berdasar pada kodrat alam dan kemerdekaan. Dasar kodrat alam perlu untuk mengganti system pendidikan cara lama yang menggunakan perintah, paksaan dan hukuman. Pendidikan tak sekedar mencerdaskan aspek intelektualitas (IQ) anak didik semata namun harus pula mampu mencerdaskan aspek emosional (EQ) dan spiritualitas (SQ). Jika semua aspek dicerdaskan maka anak didik menjadi pribadi yang memiliki mental sempurna sebagai manusia yang berkepribadian. Di sinilah pentingnya konsep pendidikan karakter yang dicita-citakan Ki Hadjar Dewantara.

Konklusi dan Rekomendasi
Pendidikan akan lebih indah ketika sistem yang dibangun adalah kedalaman ruh kebudayaan dan keelokan estetika. Indonesai memiliki keanekaragaman kebudayaan yang luar biasa sehingga pendidikan di Indonesia haruslah bertumpu pada kekayaan pendidikan multikulturalisme.
Saya teringat diskusi panjang lebar dengan Ki Sutikno di Perpustakaan Museum Dewantara Kirti Griya, beliau menginterpretasi gagasan pendidikan nasional menurut Ki Hadjar Dewantara ialah pendidikan yang diselenggarakan secara non diskriminatif, modern, religius, dan tematik (disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan dan jiwa jaman). Hal ini hanya bisa diimplementasikan dan dilembagakan pada jiwa pamong di era teknologi digital harus mampu melakukan proses pembelajaran dalam paket edutainment (pendidikan yang menghibur) sesuai semangat Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan yang didalamnya dilaksanakan oleh jiwa-jiwa merdeka tidak perlu memerintah, tidak memaksa, mengintervensi, dan tidak menghukum karena akan memerkosa jiwa anak dalam belajar. Sehingga seorang anak senantiasa memahami kebutuhan dan bertanggungjawab atas segala sesuatu yang dibutuhkannya. Di sinilah titik tolak sebuah perencanaan kurikulum dititik beratkan.
Sistem pendidikan hendaknya dibangun atas dasar cinta kasih, kebudayaan, dan basis estetika luhur. Bukan berdasarkan kehendak manusia dewasa semata, tanpa memahami kebutuhan jiwa anak, tanpa sentuhan kasih sayang (Asah, Asih, Asuh), target nilai tertentu tanpa sentuhan estetika sistem pendidikan. Sikap jujur, saling menghormati, gotong royong, tepo sliro, anggah-ungguh, sopan santun, menghargai hak orang lain, dan lain sebagainya sehingga produk pendidikan kita tidak hanya cerdas intelegensi tetapi bangga ketika melakukan tindakan korupsi, tanpa merasa berdosa ketika melakukan pelecehan seksual maupun pembunuhan. Ini merupakan potret nyata masyarakat sekarang yang memprihatinkan, semoga ini teratasi dengan pembenahan sistem pendidikan nasional yang lebih berkarakter ke-Indonesiaan. Dan, Perguruan Tamansiswa akan mendukung sepenuhnya mengawal melalui jalur pendidikan pekerti yang kini terabaikan. Semoga jauh ke depan akan tumbuh jiwa-jiwa Dewantara yang memiliki peran penting dalam membangun mutu pendidikan nasional yang lebih baik.

Referensi:

Dewantara, Ki Hadjar. 2004. Pendidikan. Cetakan ketiga. Majelis luhur Persatuan Tamansiswa. Yugyakarta

_________________. 1952. Tamansiswa 30 Tahun. Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa. Yogyakarta.

_________________. 1927. Puncak-Puncak dan Sari-Sari Kebudayaan di Indonesia, Yogyakarta: Percetakan Taman Siswa.

Pamadi, Hajar. 2015. Dimensi Estetika Seni Ruang Publik di Yogyakarta Relevansinya Bagi Pengembangan Pendidikan Seni di Indonesia (Ringkasan Naskah Disertasi Ujian Terbuka Doktor Ilmu Filsafat UGM), Yogyakarta: Fakultas Ilmu Filsafat UGM Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *