PALU IBLIS

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

KELOMPOK ffjh editPagi ini sekujur tubuhku terasa sulit digerakkan, mungkin karena dinginnya malam yang begitu lembut meninabobokkan lemahnya jasmani. Tapi ini begitu aneh bagiku, kakiku terlena tak berdaya dihantam oleh rasa kesemutan. Kepalaku seakan dihantam palu besi yang dibawa iblis dalam gambaran ketika masa kanak-kanak. Tanganku menjadi bisu seketika. Ini tahun keempatku bekerja di dinas pendidikan daerah, hanya otakku yang masih berfungsi dengan baik, mengolah data mimpi yang kembali teringat olehku. Tubuhku juga mengalami hal yang sama ketika mimpi itu berulang kali merusak mimpi indahku bersama gadis yang kucinta.

Tanganku menghentakkan pena yang siap tempur menandatangi sejumlah bantuan operasional pendidikan dari pusat, tanpa tanda tangan dariku dana itu tak kuasa dicairkan. Aku pun meminta orang kepercayaanku untuk menambal dana yang telah kutelan, seperempat dana yang kutelan kuberikan padanya sebagai tanda kesetiaanku pada bawahan. Kakiku berada di tengah-tengah hiruk-pikuk rapat kedinasan membahas sejumlah masalah pendidikan. Entah bagaimana permaianan mereka, yang jelas aku memperoleh bagian yang memang pantas untukku. Kepalaku sendiri bersandar pada empuknya bahu wanita yang kucinta. Kucumbu bibirnya, menghabiskan semalam suntuk bersamanya. Telingaku berdiam mendengarkan keluh kesah wanita tua, yang mengajariku untuk selalu berbuat baik. Sekoper rupiah telah berada dalam dekapan, setumpuk dollar menjadi sah milikku, sejumlah usaha rumah makan berdiri atas namaku.

“Mengapa engakau mengambil sesuatu yang bukan milikmu? Kau merampas hak mereka, kepala-kelapa yang haus akan pendidikan?”

“Siapa engkau?” tanyaku sambil mengumpulkan seluruh keberanian. Aku terpojok tak ada satu mulut pun yang berusaha membelaku

“Aku? Apa gunanya engkau bertanya tentang diriku”

“Wahai Jibril !!! dialah manusia serakah yang merampas uang pendidikan kami. Anak-anak menjadi bodoh dan terbelakang”

Tubuhku didera rasa takut berkepanjangan, otakku yang cerdas tak mampu lagi menunjukkan kemampuannya. “Bukankah ini pengadilan?” tanyaku dengan desah suara yang tertutup oleh rasa takut.

“Apa kau pikir kami tidak mendengar keluhmu? Kau sekarang memang benar-benar ada di pengadilan”.

“Hukum dia seberat-beratnya. Patahkan tangan nakalnya, bisukan mulutnya, pecahkan telinganya, dan hancurkan isi kepalanya. Itu yang pantas untuk dia”

Mulutku semakin terkunci, rasa takut terus-terusan menghantam tubuh kecilku. Aku bukan lagi Rustam idola wanita-wanita malam, kukumpulkan sepekat keberanian untuk melirik ruangan putih yang tampak begitu luas di mata. Tubuh-tubuh kecil berseragam putih-merah, putih-biru, putih abu-abu bersiap menggempur tubuhku dengan  sepatu butut milik mereka. Tak satu pun mata yang berpihak padaku.

“Jibril !!! hukum orang ini seadil-adilnya, jangan biarkan kakinya bergentayangan ke mana-mana”.

“Apakah aku bermimpi? Hembusku dengan peluh yang membanjiri tubuh.

“Ini bukan mimpi Rustam. Semua perbuatanmu berdampak amat buruk, lihatlah anak-anak ini begitu membenci perbuatannmu. Mereka putus sekolah karena ulah nakalmu” .

Aku mencari-cari mata yang akan membelaku, seruan-seruan kebencian semakin nyaring tertangkap oleh gendang telingaku. Tak pernah telingaku mendengar cacian sebelumnya. Tubuhku terhuyun seketika.

Dering teleponku mengiringi kesadaranku, kesadaran bahwa palu iblis dalam impianku kini tepat berada dalam genggaman tanganku. Aku melemparkannya ke segala arah. Suara di ujung telepon menanti jawaban dariku, namun lamunan buruk begitu lekat membayang.

“Rus,,,,Rus!!! Lihatlah ada banyak sekali sepatu butut di halaman rumah”

Kuambil kepalaku yang berada di tengah-tengah rapat, kucomot bahuku yang begitu betah bersandar di bahu wanita, kutarik tanganku yang berusaha lari dan ingin menandatangani sejumlah dana. Dalam seperempat menit seluruh tubuhku telah berada pada tempatnya. Kusadari hal itu saat ibu menyorong-nyorong tubuhku, terasa begitu dingin tanganya.

“Rus,,Rus,,,, Ada apa denganmu? Seru ibu menggunjang-gunjang tubuhku dengan tenaga yang tak muda lagi.

“Ada di mana sepatu-sepatu butut yang ibu katakan tadi? Aku menatap ibu dengan wajah dingin.

“Ada di halaman depan. Cobalah lihat sendiri, siapa pula yang dengan sengaja meletakkan sepatu butut itu di halaman rumah kita?

Aku beringsut ke luar, memastikan bahwa apa yang dikatakan ibu adalah khalayan tuanya. Namun pagi ini ibu tidak sedang berkhayal, karena nyata sudah membayang sepatu butut itu di depan mata. Mimpi itu dan kenyataan pagi ini, membuatku ingin membayar semua dosa yang membawaku pada mimpi buruk. Mimpi yang mengoyak rasa enaknya menjalani hidup.

“Inilah yang selama ini kuperbuat. Gedung sekolah berdiri tanpa pondasi yang kuat, begitu angin numpang lewat seketika gedung itu runtuh. Untunglah tak ada koraban jiwa”. Desahku saat membaca berita pagi ini di Koran.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *