Pers Sebagai Alat Perjuangan (Sebuah refleksi perjuangan Ki Hadjar Dewantara)

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

“. . . Apabila saya seorang belanda, saya tidak akan mengadakan pesta kemerdekaan dalam suatu negeri sedangkan kita menahan kemerdekaan bangsanya. . . “ (De Ekspress 1913)

Kutipan ini adalah satu penggalan tulisan Soewardi Soerjaningrat yang berjudul “Als ik eens Nederlander Was” pada koran De Ekspress yang diterbitkan pada 3 Juni 1913. Isi dari tulisan itu adalah sebuah propaganda untuk kaum bumiputra agar melek terhadap kebiadaban Belanda menjajah bumi Hindia. Soewardi Soerjaningrat muda kala itu, mengkritik pemerintahan Belanda yang akan merayakan hari kemerdekaannya yang genap 100 tahun. Soewardi menulis tidak sepantasnya Belanda merayakan pesta kemerdekaan, sedangkan kala itu Belanda merampas kemerdekaan Hindia. Selain itu, Belanda juga menarik uang rampasan dari kaum Bumiputra, untuk merayakan pesta kemerdekaan Belanda. Lewat tulisannya “Als ik eens Nederlander Was” (Seandainya Aku seorang Belanda) itu, Soewardi yang belum genap 25 tahun menghabisi dan menelanjangi Belanda dengan kritikan tajam.

Belanda benar-benar marah dengan kritikan Soewardi. Disamping tulisan itu telah mempermalukan orang Belanda, banyak kaum Bumiputra yang melakukan gerakan untuk menentang Belanda. Imbasnya, De Ekspress di bredel oleh pemerintahan Belanda. Soewardi yang belum lama menikahi seorang gadis Hindia R.A. Sartinah pada tahun 1914, harus dibuang dan terpaksa berbulan madu dalam pengasingan.

***

Dalam pandangan Soewardi Belanda bukan hanya menjajah secara politis di Hindia. Melainkan merambah dalam semua aspek kemanusiaan. Peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda yang dirayakan di tanah airnya, benar-benar dijadikan potret penderitaan. Tanah airnya dijadikan panggung pesta kemerdekaan, padahal ia sendiri merindukan makna kemerdekaan di tanah airnya yaitu Hindia. Sikap kritisnya yang didasari oleh ketidakadilan timbul. Ia mulai mengerakkan sebuah pena dan rangkaian tulisan sebagai sebuah peluru perjuangan untuk meraih perubahan yang ia inginkan.

Bersama Dauwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo ia membentuk organisasi Indische Partij yang kala itu merupakan partai politik pertama di Hindia-Belanda. Posisi Soewardi sebagai kepala bagian propaganda di Indische Partij, mengerakkan dirinya untuk selalau kritis menetang kebiadaban Belanda. Propaganda yang bersifat melepaskan Hinda dari negara jajahan Belanda ini, ia tuangkan dalam media-media indische Partij salah satunya De Ekspress yang memuat tulisannya “Seandainya Aku Seorang Belanda”. Namun, setelah tulisan itu mencuat, dan Belanda benar-benar tertampar oleh kritikan Soewardi, De Ekspress dan Indische Partij dibubarkan.

Dalam sebuah penggalan sejarah kecil ini, tentu dapat disimpulkan bagaimana Soewardi Soerjaningrat atau kita kenal Ki Hadjar Dewantara menjadikan sebuah media jurnalistik sebagai sebuah peluru perjuangan yang ampuh untuk melakukan perubahan.  Luar biasanya, hal ini sudah disadari Ki Hadjar muda. Lawan dari sebuah perubahan (kemerdekaan) pun tidak main-main, yaitu pemerintahan Belanda yang menjajah Hindia. Namun, ia tidak gentar, karena ia yakin kebenaran adalah hal mutlak yang akan mengalahkan penindasan. Resiko yang harus diterimanya pun sangat besar. Akibat tulisannya, ia diasingkan oleh pemerintahan Belanda.

Hukuman, pengasingan, atau apalah itu tentu tidak akan melunturkan semangat Ki Hadjar Dewantara untuk selalu mengumandangkan kebenaran dalam setiap tulisannya. Ia berusaha menghapuskan perbudakan, pembodohan, dan penjajahan yang merampas kemerdekaan diri orang lain. Satu yang selalu dipegang oleh Ki Hadjar dalam keberanian dalam perjuanngannya sebagai seorang pengiat dan pekerja pers “Kebenaran yang ditulis mengalahkan kebohongan dan resiko yang mengancam”.

Pers Berjuang dengan Kebenaran

Berbahagialah wahai pengiat dan pekerja pers yang saat ini memang berjuang dalam keyakinan kebenaran. Janganlah lupa, bahwasanya kalian adalah peluru-peluru propaganda dan alat sihir perubahan berkehidupan. Semakin beradabnya sebuah kualitas kehidupan manusia tergantung hati nurani dan kebenaran apa yang kalian suguhkan.

Semua lapisan yang bergerak pada dunia pers seharusnya sadar. Bahwasanya mereka yang terjun dalam sebuah pekerjaan yang menjunjung prinsip kebenaran ini, merupakan sebuah “peluru-peluru” yang mampu membawa perubahan yang mereka inginkan. Peluru-peluru tersebut berbahan sebuah wacana, fakta, inspirasi, kritik, yang mereka suguhkan dalam sebuah tulisan jurnalistik.

Jika kita melihat peran media jurnalistik saat ini sangat dominan sekali mempropaganda, bahkan merubah sudut pandang pembacanya. Pembaca atau penikmat media dapat diarahkan kemanapun untuk melihat sebuah objek atau peristiwa misalnya. Tergantung media apa yang dikonsumsi oleh konsumen media tersebut. Dari sinilah, dapat dilihat bagaimana media sebenarnya berperan dalam menggerakna kemudi perubahan. Namun yang jadi persoalah besar adalah pers melupakan sebuah makna “perjuangan” dan “kebenaran” dalam arti yang sebenarnya.

Pekerja pers saat ini nampaknya tidak melihat unsur “perjuangan” yang memang seharusya ditanamkan dalam diri pekerja pers. Ki Hadjar mencontohkan, pers saat itu rajin membuat propaganda untuk menyadarkan warga Hindia untuk segara bergerak melakukan sebuah tindakan untuk mencapai kemerdekaan. Tentu, pers saat ini tidaklah seperti itu dalam mengartikan sebuah makna perjuangan. Karena iklim berkehidupaan saat ini sudah berbeda. Untuk saat ini, memposisikan sebuah makna “perjuangan” tidak boleh jauh-jauh dengan prinsip “kebenaran”.

Pers saat ini tentu tidaklah sebarat dibandingkan potret kehidupan pekerja pres pada zaman pra-kemerdekaan. Seperti Ki Hadjar dan pra-Revormasi ketika Soeharto yang kala itu demokrasi masih dibungkam. Pers saat ini lebih mudah (secara kerja jurnalistik) karena kran demokrasi dibuka selebar-lebarnya. Namun, kehidupan pers pada zaman pra-kemeredekaan dan pra-revormasi lebih menunjukan makna “perjuangan” dibandingkan dengan kehidupan pers saat ini. Hal itu tentu dapat dilihat dari hasil perjuangan mereka. Era pra-kemerdekaan media kala itu berjuang mempropaganda warga Hindia lalu timbullah gerakan-gerakan anti penjajahan Belanda. Pekerja pers era Soeharto kendati dibungkam, mampu membuka kran demokrasi setelah Soeharto lengser.

Lalu bentuk perjuangan apa yang harus dilakukan oleh media saat ini, dimana era penjajahan dan era bungkam demokrasi itu berakhir? Tidaklah perlu susah-susah berpikir. Saat ini pers harus “berjuang” dalam memperlurus kerja jurnalistik secara “benar”. Intinya “berjuang” dalam “kebenaran’, makan matahari sebagai simbol pers akan bersinar menerangi perubahan berkehidpan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *