Perjalanan Cinta Di Balik Gejolak Sejarah

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Foto: MAla/Pendapa
Foto: Mala/Pendapa

Judul Buku: Cerita Cinta Enrico

Penulis: Ayu Utami

Penerbit: Kepustakaan Gramedia Populer (KPG)

ISBN: 978-979-91-0413-7

Tebal Buku: 244 Hal

 

Hidup adalah permainan, tapi hidup juga tak boleh dikuasai permainan”. (Ayu Utami)

Ayu Utami merupakan penulis wanita yang arah kiblatnya condong pada aliran fenimisme. Novel-novel yang ia tulis tak lepas dari gugatan-gugatannya terhadap posisi wanita di mata masyarakat. Tulisan-tulisannya mengalir tanpa sekat. Pembicarannya tentang seks selalu dibuka lebar tanpa “penutup” sekalipun. Tidak mengherankan bila banyak pembaca yang menjulukinya penulis “selangkangan”.

Akan tetapi, tak dapat dipungkiri kepiawaiannya dalam menerjemahkan ide dalam bentuk tulisan. Pada tahun 1998 Ayu memperoleh penghargan dari Dewan Kesenian Jakarta untuk Novel Saman karyanya. Ia juga memperoleh Prince Clause Award pada tahun 2000. Salah satu novelnya yang berjudul Cerita Cinta Enrico merupakan novel yang wajib dibaca bagi siapapun yang mencintai sejarah dan kekaguman pada seorang ibu.

Cerita ini dimulai dari obsesi seorang ibu untuk menamakan anak laki-lakinya dengan Enrico Caruso. Enrico merupakan penyanyi Italia yang mencintai ibunya hingga akhir hayat. Akan tetapi, betapa kecewanya Syrnie Masmirah saat menyadari bayi laki-lakinya tak segagah Enrico. Bayi mungil itu lahir bersamaan dengan meletusnya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) 15 Februari 1958. Ayahnya bernama Letda Irsad, anggota militer yang sangat menjunjung kejujuran. Kelak bayi mungil itu dipanggil juga Enrico walaupun nama sesungguhnya adalah Prasetya Riksa.

Ketika sejarah berguncang di Padang, di sanalah Enrico menjadi bayi gerilya dan saksi mata yang tak dapat dibungkam. Enrico lahir tanpa suara tangis, suara bungkamnya menjadi pembelajaran yang menarik bagi sang ibu. Lewat kelahiran Enciro, Masmirah belajar untuk tidak menangisi sesuatu yang tak patut ditangisi. Keluarga mereka ikut bergerilya di hutan-hutan melawan pasukan pemimpin A.H Nasution. Tak pelak keadaan tersebut membuat puting Masmirah menyisahkan separuh akibat digigit oleh Enrico. Namun, Masmirah tetap saja setia menemani suami ceker ayamnya itu.

Pada awalnya Enrico tumbuh menjadi anak yang sesuai harapan sang ibu. Ia sangat mengagumi kaki kokoh milik ibunya. Ia akan berdebar saat melihat kaki ibunya memakai sepatu vantopel hitam. Masmirah merupakan ibu modern yang cakap dan bijak, ia tak memakai kebaya sebagaimana ibu-ibu di masanya. Ayahnya Letda Irsad merupakan sosok pahlawan pertama dalam hidup Enrico. Kematian Sanda yang merupakan kakak Enrico meninggalkan duka yang mendalam bagi ibunya.

Suatu ketika seorang pria mengetuk pintu hati Masmirah dan menjanjikan hadirnya sebuah reikarnasi. Pria itu pembawa ajaran saksi yehuwa yang melarang kesenangan duniawai. Masmirah pun tak pernah turut lagi merayakan ulang tahun putra semata wayangnya. Tak dapat dipungkiri Masmirah juga merasa cemburu dengan hubungan anak dan suaminya.

Dalam kehidupan anak laki-laki mereka membutuhkan adanya pengakuan dari sesama temannya. Enrico tak lagi menjadi anak kebanggan ibunya. Kata-kata kramat dari Masmirah merupakan pukulan yang telak bagi Enrico. Enrico tumbuh dalam bayang-bayang harapan anak baik versi ibunya. Pada titik inilah Enrico kehilangan sosok wanita yang dicintainya. Bahkan Masmirah memaksa agar Enrico mengikuti jejaknya sebagai saksi yehuwa, ambisi ibunya membuat ia terpenjara.

Tahun yang berakhiran angka delapan menjadi angka yang penuh makna bagi Enrico. Enrico lahir tahun 1958 bersama pemberontakan PRRI, tahun 1968 Soeharto dilantik sebagai presiden. Di tempat yang berbeda pula lahir seorang bayi perempuan cantik berhati monster yang kemudian hari menjadi kekasih Enrico. Tahun 1978 Enrico meninggalkan kota Padang, tahun itulah suara-suara kebenaran dibungkam, kebebasan berpendapat dianggap tabu. Enrico menjelma menjadi aktivis kampus ITB yang menginginkan runtuhnya rezim Soeharto.

Ia terbebas dari ibunya tetapi tidak terbebas dari kejamnnya sejarah orde baru. Ketika perjuangan aktivis dibungkus dengan peraturan yang memberatkan mahasiswa, Enrico pun seolah terbawa oleh arus. Enrico merupakan penakluk wanita, tak terhitung jumlah wanita yang pernah menjadi teman tidurnya. Ia tak ingin menikah dan tak ingin menjadi seorang ayah. Akan tetapi, pertemuaannya dengan seorang wanita bernama A yang lahir di tahun 1968 yang menjadi anak sulung rezim Soeharto membuatnya tertambat pada sosok A. Di sanalah keduanya menemukan apa yang mereka butuhkan. Mereka menjalin hubungan tanpa adanya ikatan pernikahan, walaupun pada akhirnya A menginginkan status pernikahan.

Novel ini sungguh mengesankan pembaca karena tidak hanya menceritakan sosok anak laki-laki yang begitu mengagumi ibunya. Akan tetapi, novel ini juga melibatkan peristiwa sejarah yang penting bagi bangsa. Walaupun pada akhirnya sejarah bangsa selalu diwarani kesedihan, kekecewaan, dan ketidakpuasan pada kebijakan pemimpin negeri ini. Novel ini bukanlah novel khayalan belaka, namun novel ini merupakan kisah nyata seorang saksi sejarah bernama Enrico. Karya Ayu Utami ini sepertinya dapat menjadi bacaan wajib bagi orang-orang yang merindukan masa lalu dan orang-orang yang mencintai sastra.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *