Mahasiswa KKN UST adakan kirab budaya bersama Masyarakat

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

 

Suasana acara Kirab Budaya "Bebyaring Budaya, Nguri Desa" di Desa Pengkok, Kecamatan Patuk,  Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. acara ini merupakan kerjasawa KKN UST dengan warga masyarakat Pengkok, Kabupaten Gunungkidul.
Suasana acara Kirab Budaya “Bebyaring Budaya, Nguri Desa” di Desa Pengkok, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. acara ini merupakan kerjasawa KKN UST dengan warga masyarakat Pengkok, Kabupaten Gunungkidul.Foto:Heronimus/PENDAPA

Udara panas Gunung Kidul siang itu tidak membuat lunturnya semangat warga Desa Pengkok, Kecamatan Patuk,  Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta untuk tetap melaksanakan acara kirab budaya. Dibawah terik matahari, dengan suhu mencapai 36 drajat celsius, masyarakat terus berdesek- desakan, bahkan tak ada ruang untuk bergerak. Ratusan masyarakat saling himpit, memenuhi balai desa untuk menyaksikan beberapa pertunjukan salah satunya tarian tradisonal daerah Gunung Kidul yang jarang disaksikan masyarakat.

Adapun pengunjung yang menyaksikan kirab budaya mulai dari anak kecil, dewasa hingga para orang tua. Laki-laki perempuan, mahasiswa mahasiswi, masayarakat, pejabat kelurahan, pejabat kecamatan dan puluhan tamu undangan memenuhi halaman Balai Desa Pengkok. Pementasan tari tradional ini nmerupakan puncak dari acara kirab budaya yang berlangsung Minggu (24/05).

Acara yang berlangsung pukul delapan pagi, dengan pelaksanaan kirab dari Gunung Ireng menuju Balai Desa Pengkok. Sedangkan acara puncak dimulai pukul setengah sepuluh pagi hingga jam setengah tiga tiga sore. Dalam pembukaaan acara seluruh peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk memulai acara dan meningkatkan rasa nasionalisme warga.

Setelah lagu Indonesia Raya selesai dinyanyikan acara disusul dengan sambutan dari Ketua Panita kemudian secara berutan oleh Kepala Desa Pengkok, Wakil Rektor IV Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) bidang kerjasama dan Camat Patuk sekaligus membuka acara kirab budaya dengan resmi.

Kemudian acara dilanjutkan dengan  pertunjukan tari tradisional, diawali dengan Gejok Lesung sebagai pentas pembuka, disusul secara berturut turut, thak thek, karawitan, Wong Ireng. Pementasan wong ireng yang panas dan mistis memebuat beberapa pemainya mengalamai kesurupan. Setelah pementasan wong ireng selesai, dilanjutkan dengan gulunungan hasil panen warga. Sebelum dibagi-bagi, terlebih dahulu gunungan didoankan dan diakiri denagn pementasan  jathilan.

Tidak hanya pertunjukan tari tradisional dan gulungan hasil bumi dari warga sekitar yang dipertunjukan saat kirab budaya. Beberapa stand makan khas Gunung Kidul dan juga cendra mata karya warga dan mahasiswa KKN UST  juga ikut dipamerkan dan dijula dalam acara kirab tersebut.” Ini adalah karya tangan kami, semoga banyak yang berminat dan membeli sehingga menambah penghasil kami,” ucap Eva Sudjono, salah satu penjaga stand saat kirab berlansung.

Walau pementesan budaya lama, namun masayarakat tetap ramai hingga selesai.” Masarakat sangat antusias dengan acara kirab budaya ini, terbukti mereka menonton hingga pementasan terakir” ucap Pais pania saat ditemui Pendapa seusai acara. Anatusias warga yang sangat tinggi ini juga diakui oleh ketua panitia Panji Astowo yang megatakan bahwa acara ini hanya dipersiapkan selama dua minggu namun sukses, ini karena warga disini sangat antusias dan mendukung.

Acara kirab budaya  ini merupkan agenda perpisahan bersama dari tempat Padepokan KKN di Desa Pengkok. Acara kirab budaya yang berlansung sangat ramai juga merupakan acara perpisahan bersama-sama antara masayarakat dan mahasiswa KKN UST yang akan selesai dalam waktu dekat. Dengan kegiatan kirab budaya ini, perpisahan dengan masyarakat besok tidak perlu besar-besar dan dilaksanakan setiap dusun.

Tidak hanya masyarakat yang mendukung dan menyambut baik kegiatan kirab budaya namun juga pemerintah, baik pemerintah desa dan juga kecematan. “Mereka (pemerintah desa-red) sangat mendukung, walau sumbanganya tidak begitu besar namun mereka supot dan membatu kami, baik moral maupun moril” kata  Panji, mahasiswa semester delapan UST. Selain Panji yang mengharapkan agar acara kirab budaya didesa pengkok akan ada setiap tahunya, Paiz mahasiswa asal NTT.

Walau belum menyampaikan secara resmi oleh mahasiswa kepada pemerintah desa, mengenai niat agar acara kirab budaya menjadi agenda rutin setip tahunnya namun ternyata pemerintah sudah memikirnya. ”Kami sangat senang dan kedepanya akan ada agenda rutin untuk kirab buadaya di Desa Pengkok ini” ucap Slamet selaku Kepala Desa. Bahkan pemerintah sudah menrencanakannya untuk tahun ini. ”Kami sudah memebahas dan merencanakan untuk agenda dan dana tahun 2015 ini untuk acara kirab budaya” tutur Kepala Desa saat diwawancarai oleh Pendapa via telepon.

Kirab budaya ini tidak hanya ajang pementasan dan program dari mahasiswa saja, namun jauh dari itu, “semoga dengan kirab budaya masayarakat makin mencitai budayanya sendiri dan dengan acara seperti ini maka generasi penerus tidak akan lupa dengan budayanya sendiri” ucap paiz pada Pendapa.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *