Ki Slamet Ketua Tamansiswa Kebumen: Filosofi Wayang Bagi Tamansiswa

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Ki Slamet, Ketua Perguruan Tamansiswa cabang Kebumen sedang memaparkan Filosofi Wayang kepada Pendapa di ruang kantornya pada Selasa, 17 Maret 2015. Foto: Isnan Waluyo/Pendapa.
Ki Slamet, Ketua Perguruan Tamansiswa cabang Kebumen sedang memaparkan Filosofi Wayang kepada Pendapa di ruang kantornya pada Selasa, 17 Maret 2015. Foto: Isnan Waluyo/Pendapa.

Ditemui pada 17 Maret lalu di kantornya, Ki Slamet Ketua Perguruan Tamansiswa cabang Kebumen memaparkan kepada Pendapa betapa ajaran Ki Hadjar Dewantara sangat berpngaruh dalam perkembangan Tamansiswa. Ia menyebut Ki Hadjar sangat menyukai filosofi wayang. “Ajaran Ki Hadjar, filosofi wayang. Wayang, ada namanya,”ucapnya.

Puntadhewa, dan Kresna, adalah tokoh wayang yang oleh KI Slamet disebut memiliki filosofi wujud do’a dalam Tamansiswa. Ki Slamet memaparkan, tokoh Putadhewa mengajarkan kejujuran, rela berkorban, mampu menampung semua bentuk aspirasi. Sedangkan tokoh Kresna, olehnya di maknai sebagai “Kres=landhep (red:tajam)” dan “Na=padhang (red:terang)”, Kresna adalah tokoh berkulit hitam sekaligus perancang perang Bharatayuda agar Pendhowo Limo sampai menang, dengan senjata bernama “Cakra Manggilingan”.

Ki Slamet menuturkan, dalam Tamansiswa, Senjata Cakra memiliki arti bahwa Tamansiswa kadang berada di atas dan kadang berada di bawah. Tapi, dengan “Kaca Paesan” dalam Senjata Cakra tersebut, Tamansiswa juga haraus mampu melihat jauh ke depan jika menghendaki tidak ingin berada di bawah. Perang dalam Bharatayuda, juga diartikan oleh Ki Slamet, bahwa Tamansiswa juga memiliki musuh baik di luar ataupun di dalam. “Namun, dalam mengarungi samudera Tamansiswa harus sampai,”imbuhnya.

Dengan kemampuan Kresna yang ahli merancang, seperti halnya Tamansiswa, diartikan oleh Ki Slamet, bahwa Tamansiswa juga harus pandai merancang. Merancang, artinya mampu menangkap peluang. “Namanya peluang, pasti punya tantangan,”tambahnya. Tantangan dalam Tamansiswa menurut Ki Slamet ada macam-macam, mulai dari dana, keharmonisan intern pengurus, solidaritas dan kekeluargaan.

Lebih lanjut, menurut Ki Slamet, jika wujud doa di atas dapat disatukan, maka pasti Tamansiswa sudah punya senjata. Meskipun menurutnya, setelah punya “senjata (red: rancangan)”, harus ada pelaksanaan. “Wujud doa tadi, sama dengan ajaran Ki Hadjar, sistem opor bebek mentas soko awake dhewe,”imbuhnya. Opor bebek mentas soko awake dhewe diartikan oleh KI Slamet, bahwa Tamansiswa seluruh cabang, hendak berkembang ataupun tidak tergantung dari cabangnya sendiri, termasuk Kebumen.

Setelah saling diam beberapa saat, Ki Slamet melanjutkan filosofi wayang, yang menurutnya oleh Ki Hadjar dijunjung tinggi. “Resi/Abiyasa, harus dihormati. Adanya Pendhowo Limo, karena adanya Pandhu. Adanya cucu karaena ada simbahnya,”tuturnya sambil tersenyum. Filosofi Resi/Abiyasa tersebut, oleh KI Slamet dipaparkan bahwa kebaikan dan perjuangan orang tua harus dijunjung setinggi-tingginya dan kekurangan atau keburukannya harus diPendhem (red:dikubur) sedalam-dalamnya. Menurut Ki Slamet, hal tersebut sesuai dengan filosofi Tamansiswa “Mikul dhuwur mendhem jero”. Ia menegaskan, majunya Tamansiswa, semua berfilosofi pada ajaran Ki Hadjar Dewantara, hanya saja menurutnya dalam pelaksanan tiap-tiap cabang bisa berbeda-beda wujudnya. [P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *