Alokasi Anggaran Picu Biaya Perpanjangan Skripsi Naik

Surat Keputusan Yayasan Sarjanawiyata Tamansiswa Nomor: 003/YSW/SK/AS-YS/1/2015, yang memuat biaya admistrasi mahasiswa semua angkatan, berlaku anggaran 2015. Foto:Isnan/PENDAPA
Surat Keputusan Yayasan Sarjanawiyata Tamansiswa Nomor: 003/YSW/SK/AS-YS/1/2015, yang memuat biaya admistrasi mahasiswa semua angkatan, berlaku anggaran 2015. Foto:Isnan/PENDAPA

Rabu, (25/02/15) Wakil Rektor II Andri Waskita Aji, saat itu tidak berada di kantornya. Ruang kerjanya di bagian gedung rektorat kampus 1 Jl. Kusumanegara No. 157, kosong. “Saya kemarin tidak ke kantor, ada kegiatan,” terang Ki Andri ketika Pendapa menemuinya di rektorat jumat (27/02) lalu. Padahal pada Rabu itu, Trishariswi sibuk mengumpulkan pejabat-pejabat terkait untuk rapat membahas biaya perpanjangan skripsi yang  mengalami kenaikan. Tanpa dihadiri Wakil Rektor (Warek) II, rapat yang terkesan tergesa-gesa itu, mencabut kenaikan biaya perpanjangan skripsi pada Tahun ini, yang tadinya Rp. 700.000,00 menjadi sama ketika belum mengalami kenaikan, yaitu Rp.350.00,00.

Ki Andri menerangkan kenaikan biaya perpanjangan skripsi/tesis seharusnya berlaku mulai Januari tahun 2015, jikalau tidak dianulir. Menurutnya, pedoman keuangan baik anggaran, tarif, mengacu pada perhitungan anggaran. Dan anggaran pun menggunakan tahun kalender, terhitung Januari sampai Desember. “Itu berbeda dengan kalendernya akademik. Nah, karena seperti itu mulainya dihitung per-Januari ini,” terangnya. Hal itu tentu berbeda dengan hasil keputusan rapat Rabu (25/02/15) yang membatalkan kenaikan biaya perpanjangan skripsi. Alhasil, untuk kenaikan biaya perpanjangan skripsi/tesis akan berlaku pada tahun akademik Ganjil 2015/2016. Mengenai hasil keputusan rapat yang berbeda dengan kesepahammannya, Warek II akan menanyakan ke Yayasan Sarjanawiyata Tamansiswa dan rektor terkait kesepakatan yang diambil. “Saya ke sini, Pak Rektor membuat pengumuman yang kurang lebih membatalkan. Nah, nanti ini pun saya nggak tahu rembugan dengan yayasan gimana.”

Mengenai ikhwal kenaikan biaya perpanjangan skripsi/tesis, menurut Ki Andri, ada beberapa alasan kenapa kebijakan itu harus diterapkan. Pertama, mengenai Surat Keputusan (SK) skripsi yang tidak jelas kapan dikeluarkannya. Ki andri menyayangkan SK skripsi yang dikeluarkan oleh fakultas, kadang di tengah semester atau malah di akhir semester. Pada akhirnya, akan memperpendek masa bimbingan skripsi mahasiswa. Artinya mahasiswa harus membayar perpanjangan di awal semester lagi, sedangkan dia belum mendapatkan bimbingan selama 1 semester penuh. “Secara rasional, kalau orang mengambil mata kuliah skripsi di awal semester dengan KRS, mestinya pembebanan biayanya di awal, bukan kemudian di tengah. Lalu bayar lagi (perpanjangan),” terangnya. Menghindari kejadian yang demikian, menurut Ki Andri ada usulan agar biaya perpanjangan skripsi disamakan dengan billing pengambilan skripsi. Karena jumlah pembayaran skipsi dengan perpanjangan skripsi berbeda, maka ada kebijakan biaya perpanjangan skripsi disamakan dengan biaya mengambil skripsi. “Kalau begitu susah membedakan antara perpanjangan dengan yang perpanjangan, sehingga diusulkanlah bahwa perpanjangan skripsi maupun skripsi itu sama sebetulnya. Karena dalam konteks sistem itu akan mempermudah,” Terang Ki Andri yang sudah dua periode ini menjabat sebagai Warek II UST.

Selain alasan yang lebih condong kepada penertiban administrasi tersebut, menurut Ki Andri ada alasan lain mengapa perpanjangan skripsi harus dikenai kenaikan biaya. Yaitu mengenai desakan fakultas yang meminta alokasi anggaran yang kaitannya dengan pembebanan skripsi untuk dosen, Tata Usaha (TU), serta unit kerja lain di Fakultas. “Secara rasional, kalau ada perpanjangan waktu kan menghabiskan energi tambahan bagi TU bagi dosennya, mereka minta kompensasi atas itu,” ungkapnya. Merasa dua pertimbangan tersebut menyatu, akhirnya biaya kenaikan perpanjangan skripsi pun disetujui. “Nah akhirnya klop, kalau begitu skrispi nilainya sama. Satu untuk mempermudah, yang kedua tuntutan dari unit kerja fakultas, bisa kita akomodir,” terangnya. Ki Andri juga menganalogikan biaya perpanjangan skripsi dengan pengulangan mata kuliah yang ingin diambil ketika tidak lulus. “Jika orang mengambil mengulang mata kuliah, itu nggak disuruh separo (pembayaran mata kuliah per-sks), penuhkan. Meskipun dia ngulang,”pungkasnya.