Kenaikan Biaya Perpanjangan Skripsi Dibatalkan, Trisharsiwi: Ada Miskomunikasi

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Surat Pengumuman pembatalan kenaikan biaya perpanjangan skripsi yang dikeluarkan oleh BAU dan BAAK. foto: Doc. facebook UST
Surat Pengumuman pembatalan kenaikan biaya perpanjangan skripsi yang dikeluarkan oleh BAU dan BAAK. foto: Doc. facebook UST

Rabu (25/02/2015), Trisharsiwi Kepala Biro Administrasi Umum (BAU) didatangi beberapa mahasiswa di kantornya, gedung rektorat kampus I Universitas Sarjanawiaya Tamansiswa (UST). Kedatangan beberapa mahasiswa bukanlah tanpa alasan. Mereka mengeluhkan biaya perpanjangan skripsi yang mendadak mengalami kenaikan, dari semula sebesar Rp.350.000,00 naik menjadi Rp.700.000,00. Tidak hanya Trisharsiwi yang dimintai klarifikasi tentang kenaikan biaya tersebut, melainkan kantor Biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan (BAAK) dan Kantor Yayasan Sarjanawiyata juga ramai didatangi mahasiswa. Kendati didatangi beberapa mahasiswa untuk dimintai kejelasan, tiga birokrasi tersebut kompak untuk menginstruksi mahasiswa menunggu pengumuman resmi. “Saya katakan, nanti dulu saya tidak bisa langsung memutuskan. Nanti saya ketemu dengan pejabat yang terkait, setelah itu nanti dirapatkan akan ada pengumuman,” jelas Trisharsiwi.

Hari itu juga, menurut Triharsiwi, ia mengontak beberapa pejabat terkait untuk merapatkan mengenai kenaikan biaya perpanjangan skripsi. “Sudah sore sekali kita rapatkan, kira-kira jam 15.00,” Terangnya. Selang satu jam, akhirnya rapat selesai. Dalam rapat tersebut, menghasilkan keputusan mengenai pencabutan kenaikan biaya perpanjangan skripsi. Keputusan tersebut tertuang dalam surat pengumuman bernomer 14/UST/BAU/II/2015 dan 11/UST/BAAK/II/2015 yang pada intinya, berbunyi untuk biaya Skripsi/Tesis maupun perpanjangan Skripsi pada semester genap tahun akademik 2014/2015 tidak ada kenaikan. Surat pengumuman tersebut dikeluarkan oleh BAU dan BAAK, dengan tanda tangan Kepala BAAK Veator Renyaan, Kepala BAU Trisharsiwi, dan Rektor Pardimin. “Nah, hari itu juga kan sudah sampai jam 16.00, kan nggak mungkin beredar. Baru pagi beredar,” kata Triharsiwi.

Trisharsiwi menjelaskan adanya miskomunikasi antara pihak Yayasan, rektorat, dengan bagian keuangan sebagai pelaksana. Hingga berimbas pada kenaikan biaya perpanjangan skripsi yang seharusnya dibebankan pada mahasiswa yang akan masuk pada tahun 2015/2016. “Ternyata keuangan tidak membaca pertahunnya itu, terus dikira tahun sekarang. Sehingga dikenai biaya 700,”. Sesuai dengan rapat antara yayasan dan rektorat, seharusnya anggaran mengenai kenaikan biaya perpanjangan skripsi/tesis tersebut baru akan berlaku pada tahun anggaran 2015/2016. “Usulannya (dari rektorat) memang pertahun anggaran pertahun 2015. Tapi belum terrealisasi oleh yayasan, diundur pelaksanaannya tahun 2015/2016. Jadi setahun yang akan datang,” tegasnya.

Mengenai keputusan pembatalan kenaikan biaya perpanjangan skripsi yang terkesan mendadak dan cepat, Trisharsiwi membantah jika itu timbul dari desakan mahasiswa. Salah satunya aksi pengumpulan 1000 tanda tangan yang dilakukan mahasiswa FKIP untuk menganulir biaya kenaikan perpanjangan sekripsi. “Jadi tidak usah mahasiswa demo, tidak usah membuat apa, kita menyadari. Saya juga kaget, kok sudah bayar 700. Coba cek di pengumuman dari yayasan deh, itu bagi mahasiswa baru 2015/2016,” pungkasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *