Pelajar SMA (Juga) Siap Membudayakan Budaya Ilmiah

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Para pemateri sedang menyampaikan gagasannya dalam acara sarasehan budaya pada Selasa (20/01/15). Foto: Eva Yuliani, Pendapa.
Para pemateri sedang menyampaikan gagasannya dalam acara sarasehan budaya pada Selasa (20/01/15). Foto: Eva Yuliani, Pendapa.
Selasa (20/01/15), Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta berkerjasama dengan Lembaga Pengembangan Kebudayaan Nasional (LPKN) menyelenggarakan sarasehan kebudayaan dengan tema “Seni Tradisi dan Kemungkinan Pengembangannya”. Acara tersebut dilaksanakan mulai pukul 08.00 WIB, di ruang Ki Sarino, kampus pusat UST. “Acara ini juga dalam rangka peringatan 60 tahun UST Jogja yang pertama kali,”terang Ki Widodo selaku Pimpinan LPKN.

Jika pada umumnya acara seminar ataupun sarasehan diisi oleh para pemateri yang sudah berumur, sudah bergelar dan sudah sangat berpengalaman, dalam acara sarasehan kali ini justru menyuguhkan para pelajar yang berasal dari beberapa SMA di kota Jogja sebagai pemateri. Danis Nanda Pratiwi (SMA Negeri 1 Sedayu Bantul) dan Sureya Oemar (SMA N 2 Yogyakarta), adalah beberapa pemateri yang masih berstatus pelajar SMA. Masih ada beberapa pemateri pelajar SMA, lebih tepatnya pelajar puteri. Diantaranya beberapa siswi dari SMA Ibu Pawiyatan Tamansiswa Yogyakarta dan beberapa siswi dari SMA N 1 Sleman. Baru pada season materi terakhir, Ki Arif Bintoro Johan dari LPKN memberikan gagasannya dalam sarasehan tersebut. “Sepuluh dua puluh tahun lagi, republik ini akan diisi oleh mereka, para genersi muda. Jadi biarkan mereka belajar percaya diri menyampaikan gagasannya secara ilmiah, kritis dan terus berinovasi. Sedangkan yang sudah tua-tua seperti saya harapannya ya… agar berkenan mendokumentasikan gagasannya kepada yang muda-muda. Itu alasan saya kenapa kami beri kesempatan para anak SMA menjadi pemateri sarasehan,”jelas Ki Sudartomo Macaryus sebagai Ketua LPKN.

Pada season tanya jawab, banyak responden yang mengajukan masukan, pertanyaan, maupun kritikan. “Saya si berharap gagasan-gagasan dalam acara kaya gini gak cuma berhenti di sini, barangkali ada tahapan lebih lagi, misalnya dipandu menjadi sebuah buku mungkin,”ucap Jayadi Kastari, peserta sarasehan dari Kedaulatan Rakyat. Menanggapi hal ini, ditemui setelah acara selesai Pukul 12.17 WIB, Ki Sudartomo menuturkan bahwa acara sarasehan budaya hanya sebagai langkah awal, selanjutnya para pemateri akan diminta untuk mengumpulkan gagasannya, kemudian dikemas dalam bentuk buku. “Kalo udah jadi buku, gagasan mereka akan abadi. Apalagi Wakil Rektor IV UGM bilang, Jogja ini harus jadi lumbung buku. Jadi Jogja harus punya penulis-penulis handal kalo pengin punya lumbung,”tambah Ki Sudartomo. “Budaya ilmiah ini yang harus kita budayakan,”pungkasnya. [P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *