Observasi Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UST dalam Mengapresiasi Karya Seni

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Ki Rusnoto, Dosen Pendidikan Seni Rupa UST (memegang speaker), ketika memberikan pengarahan kepada mahasiswa di Sanggar Linang Sayang, Muntilan, Magelang. Foto: Rajib/PENDAPA

Yogyakarta, Sabtu (13/12), Program Studi (Prodi) Pendidikan Seni Rupa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) gelar study tour ke tempat-tempat kerajinan di kota Magelang. Sekitar 70 mahasiswa baru dan 4 dosen seni rupa mengikuti kegiatan ini. “Kegiatan yang rutin diselenggarakan tiap tahun ini diwajibkan untuk mahasiswa baru. Tujuannya untuk observasi dan mengapresiasikan karya-karya seni,” ujar Dwi Susanto, salah satu dosen seni rupa yang mengikuti kegiatan. Dwi Susanto menambahkan, study tour kali ini akan berkunjung ke 3 tempat. Di antaranya Sanggar linang Sayang, Root Centre, dan Kerajinan tanduk dan souvenir “SUBUR” di Magelang.

Pukul 09.00 WIB, dua bus mengiringi keberangkatan dari Pendopo Tamansiswa menuju Magelang, yang sebelumnya direncanakan berangkat pukul 08.00 WIB. Lokasi pertama yang dikunjungi ialah Sanggar Linang Sayang, tempat pembuatan patung-patung yang terbuat dari batu. “Linang sayang ini merupakan usaha turun temurun yang petama kali didirikan oleh Ki Chen Heni (generasi pertama). Beliau seorang seniman lukis dan patung. Selanjutnya Nyoman Ali Mustafa (generasi ke dua), hingga Saya,” jelas Lili Susanto, generasi ketiga dari Ki Chen Heni. Sanggar yang berlokasi di Jalan Magelan, tepatnya di Muntilan ini memiliki lebih dari 100 patung yang berbeda-beda ukuran. Lili menambahkan bahwa sanggarnya ini telah menembus pasar internasional hingga ke Taipei, dan Belgia. Selain sebagai tempat pembuatan patung, Linang Sayang juga menerima pesanan patung hingga membuat peralatan mematung. Seperti pahat, tatah dan palu, sedangkan untuk bahan baku pembuatan patung, Lili menggunakan beberapa jenis batu. Seperti batu granit yang diperoleh dari Purwakarta, batu marmer, batu hitam dari Merapi, dan batu putih dari Wonosari.

Setelah observasi di lokasi pertama, pukul 11.00 WIB rombongan study tour tiba di Root Centre. Tempat usaha yang memanfaatkan limbah kayu menjadi karya seni yang bernilai tinggi. Selain observasi di lokasi, mahasiswa melakukan sketch bersama. Root centre memanfaatkan limbah kayu dari warga hingga perusahaan-perusahaan kayu, yang disulap menjadi karya seni dengan nilai jual hingga jutaan bahkan ratusan juta rupiah.

Lokasi terakhir yang disinggahi mahasiswa ialah Pusat Kerajinan Tanduk dan Souvenir SUBUR. ”Usaha ini terinspirasi ketika saya dulu suka membeli souvenir-souvenir di Pasar Bringharjo Yogyakarta. Lalu saya mencoba membuatnya di rumah dan dijual di daerah saya. Dari situ mulai banyak yang memesan, hingga saya kewalahan. Pada akhirnya saya coba tetangga sekitar untuk membantu saya hingga istri saya ikut-ikutan membantu,” papar Ahmad Sohih, sebagai pemilik usaha kerajinan. Hingga kini Ahmad Sohih sudah memiliki 30 karyawan dari daerah sekitar, yang sebelumnya hanya 5 orang. Tempat usaha yang terletak di dusun Pojok Rt 01/05, Pucang, Secang, Magelang ini memproduksi souvenir-souvenir seperti, gantungan kunci yang berbentuk cabe, semangka, gitar, anggur, dan bedug. Selain itu ada juga mainan kretek-kretek, hingga alat penggaruk punggung dan roda kawat. Harganya berkisar mulai Rp 5.000 sampai Rp 250.000 perbuah. Pemasaran kerajinan yang sudah menembus Malaysia, dan untuk dalam negeri mencakup Medan, Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Tak heran usaha yang sudah berdiri 25 tahun lalu ini bisa mengantongi 160 juta per bulan. Kerajinan gantungan kunci jadi Best seller usaha ini, terlihat dari partisipasi mahasiswa hingga berdesak-desakan. Hingga pukul 18.00 WIB, semua rombongan study tour tiba di Pendopo Tamansiswa.

“Tidak sia-sia saya ikut kegiatan ini, meski cuma bayar Rp 20.000 tapi yang saya dapat lebih dari harga bayarnya,” ujar Syafrudin mahasiswa asal Bima. Senada dengan Syafrudin, Buharis mahasisiwa yang mengidolakan Iwan Fals ini juga mengatakan “meski hampir seharian di Magelang, membuat saya ingin kembali lagi ke tempat-tempat kerajinan tadi. Tapi saya kurang suka dengan konsumsinya yang hanya makan sekali,” terangnya saat ditemui di kos-kosannya.[P]

Penulis adalah anggota magang di Lembaga Pers Mahasiswa Pendapa Tamansiswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *